​Apa itu Kreativitas? Tenggelam dalam Lautan Kebebasan atau Menari dalam Genangan Keterbatasan?

Ditulis dalam rangka pengumpulan tugas Aliran Rasa Diskusi Materi 9 IIP Bunda Sayang


Ke Mana Hilangnya Kreativitasku?

Saya memang lulusan jurusan arsitektur. Tapi entah mengapa rasanya, selepas punya anak, dorongan untuk kreatif semakin menurun. Entah ini karena perhatian yang terfokus dengan anak dan rumahtangga, atau memang saya yang tidak menyempatkan diri untuk berpikir kreatif.

Di masa SMA dan kuliah S1 dulu, sepertinya saya seriiing sekali membeli dan membaca buku-buku tentang kreativitas, sebut saja Creative Junkies karya Yoris Sebastian, Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati karya Wahyu Aditya, Nulis itu Dipraktekkin karya Tim Wesfix.

Dulu saya sering membuat mindmap tiap mencatat sesuatu, mencoret-coret di kertas, menulis ide-ide yang beranak pinak di otak. Tapi belakangan di awal memiliki anak, saya seakan lupa dengan semua itu. Seolah ada yang melarang saya untuk berpikir dan bersikap kreatif.

Apalagi pasca saya memutuskan untuk cuti, lalu tidak melanjutkan kuliah S2 di luar negeri yang sempat saya ambil selama 1 semester. Hal itu makin mendukung saya untuk kurang berpikir kreatif.

Kreativitas Itu Kembali Muncul
Sampai akhirnya saya kembali bekerja lagi di sebuah perusahaan e-commerce home and living di Jakarta. Walaupun saya hanya bekerja sebagai penulis lepas jarak jauh, saya cukup menikmati pekerjaan itu. Otak kreatif saya rasanya seperti dipakai lagi. Setiap hari dituntut mendapatkan ide tulisan baru yang enak dibaca oleh pengunjung website. Suasana kerja yang seperti kuliah dulu, memilih furnitur dan juga melihat foto-foto ruangan, memilih dekorasi ruangan, membuat saya kaya akan ide segar waktu bekerja selama 3 bulan di sana.

Tapi pascaresign dari sana, saya kembali menjadi ibu yang tidak kreatif. Memang saya mengikuti IIP dan selalu mengikuti tantangannya kecuali tantangan bagian Melatih Kemandirian anak. Di situ saya sedikit stuck mau nulis apa ya… Padahal biasanya saya paling lancar kalau disuruh menulis apa saja. Jemari bisa otomatis menari di hadapan keyboard laptop atau handphone. Tapi saat itu, entah saya seperti orang yang tidak rileks, berusaha teratur menjalani hidup sampai akhirnya bertindak like a robot.

Apalagi saya sudah menutup taman baca yang saya punya. Padahal di sana dulu saya sering bertemu banyak orang dari berbagai macam kasta, mulai dari yang muda sekali alias anak-anak dan balita, hingga orang lanjut usia. Otomatis setiap hari saya dituntut berpikir kreatif dan itu sangat menyenangkan.

Tiba-tiba, pasca bulan Januari 2017, saya mulai lelah dengan keadaan itu hingga saya sadar. Saya harus kembali seperti dulu. Bebas membiarkan ide-ide tumbuh berkembang. Akhirnya suami mengajak saya mendirikan penerbitan sendiri bernama Kindi Press. Sebenarnya kami sudah membuat buku berdua sejak awal menikah, namun tidak ada pikiran untuk menyeriusinya menjadi penerbitan indie. Gayung bersambut dan buku kedua kami terbit. Buku antologi rame-rame berjudul Kata Ayah. Walaupun itu adalah buku yang seharusnya kaya akan proses kreatif dalam pembuatannya, tapi saya rasa belum maksimal. Entah mengapa. Saya belum melakukan 100 persen usaha terbaik saya waktu mengerjakan buku itu.

Didukung kami yang baru saja melakukan metode beberes rumah a la KonMari. Metode itu sangat mendukung spark joy, di mana hal-hal yang tidak membangkitkan kebahagiaan sebaiknya dihilangkan saja. Seperti baju dan barang-barang lain yang sudah usang, tidak berfungsi, atau memang tidak kita senangi. Saya pun akhirnya terbiasa men-discard sesuatu yang benar-benar tidak ada gunanya. Otomatis membuangnya ke ‘tempat sampah’. Akhirnya kadang impulsif alias terlalu terburu-buru juga. Memang rumah saya jadi lebih bersih. Tapi kadang saya juga menyesal kenapa terburu-buru ‘membuang’ barang-barang itu.

Selain itu, saya yang terbiasa fleksibel juga mulai terbebani dengan adanya idealisme saya yang semakin meningkat, yaitu mengatur segalanya dengan ideal, seperti menu makanan, jadwal harian, pemasukan, pengeluaran, dan lain sebagainya sehingga saya terbebani dengan kata ‘ideal’ itu sendiri. Saya lelah. Saya ingin mengejar titel sebagai istri ideal, ibu ideal, individu ideal. Tapi hal itu tak akan pernah tercapai, bukan? Solusinya, ya sudah jalani saja dengan rileks, optimis, tapi optimal.

Definisi Kreativitas: Antara Kebebasan dan Keterbatasan?
Saya juga menyadari bahwa ketidakkreatifan saya ini bersumber dari saya yang terlalu mengotak-kotakkan definisi kreativitas. Saya pikir kreatif itu hanya berhubungan dengan ‘kebebasan’ tapi ternyata juga tentang ‘keterbatasan’. Di saat kondisi ekonomi keluarga naik turun, saya sebagai manager keluarga diharuskan menyiasati kondisi itu dengan baik agar masih bisa makan, sedekah, sosial, dan lain sebagainya.

Menjadi Ibu Kreatif: Apa Saja yang Menghambat Saya Selama Ini dan Bagaimana Solusinya?
Sudahkah aku jadi ibu kreatif? Apakah ibu kreatif itu ibu yang punya banyak bisnis? Apakah ibu kreatif itu ibu yang mampu menghasilkan banyak mainan buatan sendiri alias DIY daripada yang beli di toko-toko? Apakah ibu kreatif itu ibu yang selalu bikin mindmap untuk segala aktivitas manajerialnya maupun dalam pencatatan ilmu? Apakah ibu kreatif itu ibu yang bekerja di bidang kreatif seperti desain, arsitektur, sastra, dan lain-lain? Apakah ibu kreatif itu ibu yang men-define dirinya sendiri sebagai ibu yang kreatif? Aah, saya terlalu banyak berkutat dengan definisi. Dengan begini saja, sudah menunda saya untuk menjadi ibu yang kreatif.

Nah, daripada bingung, lebih baik kita langsung saja mencari tahu apa sebenarnya definisi kreatif itu sendiri.

Lalu saya mulai bertanya-tanya, apa sih sebenarnya kreativitas itu? Benarkah dia berkutat antara kebebasan dan keterbatasan? Tiba-tiba setelah sekian lama seolah terpisah dengan kata ‘kreativitas’, tanggal 31 Oktober kemarin di WhatsApp Group IIP Bunda Sayang Surabaya Bali Madura #1 disajikan materi ini. Whoaaa… rasanya…. bahagia! Didukung dengan penyajian materi yang soooo visual. Saya jadi seneng banget menyimak diskusi hangat di grup walaupun sejujurnya saya baru memahami isi diskusi tanggal 4 November kemarin karena baru menyempatkan. Apalagi suasana di grup jadi baru dan hidup karena ada 2 fasilitator baru yaitu mbak Kiki dan mbak Diah. Format penyajian materi dan tugas juga baru. Kelihatan sekali ibu-ibu semangat benar karena ramai sekali diskusinya. Benar-benar memicu kreativitas ibu-ibu sekalian. Kalau ga percaya, lihat aja deh WhatsApp group kelas di hape saya, hehehe.

Setelah mengunyah materi diskusi tentang kreativitas dari IIP dan slide pendukung yang dibuat oleh Pak Kreshna Aditya, saya juga semakin sadar bahwa kreativitas anak tidak perlu ditumbuhkan karena sejatinya anak sudah terlahir kreatif. Kita saja yang tidak boleh obsesif sehingga malah akan mematikan pemikiran si kecil yang kreatif.

Kalau boleh saya rangkum, hasil diskusi IIP kemarin kira-kira seperti ini:
1. Tulisan LIFT yang tersembunyi. Awalnya yang terlihat hanya pixel berwarna hitam. Setelah memicingkan mata, kita baru bisa melihat tulisan lift.
Ubah Fokus, Geser Sudut Pandang Kita. Dalam mendampingi anak-anak, kita perlu memiliki berbagai sudut pandang kreatif ketika melihat sebuah aksi anak-anak.

2. Tulisan BE CREATIVE yang hanya dimunculkan separuh, separuhnya ditutup -> PF GPFATJVF.
Don’t Assume. Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak, maka jangan buru-buru membuat pernyataan, perbanyaklah membuat pertanyaan agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara CLEAR dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja (CLARIFY). Hal ini sejalan dengan prinsip pertama di pelajaran Komunikasi Produktif IIP Bunda Sayang.  

3. 9 titik horizontal dan vertikal yang dihubungkan dengan 1 garis tanpa putus. Pasti kita berpikir garisnya hanya di dalam kotak saja. Ternyata dihubungkan di luar kotak pun bisa!
Outside the box thinking. Buka kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja. Biarkan ia berpikir berbeda dari hal-hal yang pernah kita alami.

Banyak produk yang dihasilkan dari prinsip kreativitas, contoh:
-payung yang berfungsi ganda untuk menggembala anjing dan melindungi anjing dari hujan
-tempat lilin yang jika lilin habis, bisa didaur ulang lagi
-pintu yang juga berfungsi sebagai meja tenis

Proses Kreativitas:
1. Evolusi: ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis: dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi
3. Revolusi: benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Akhirnya Kutemukan Kreativitas Itu Lagi!
Lalu suami memercikkan ingatan bahwa kamu jadi ga kreatif karena terlalu banyak ‘HARUS’. Ya, karena sifat idealis ini, saya jadi terlalu sering meng-harus-kan sehingga tidak mengukur kemampuan diri. Saya jadi sering over. Adjie Silarus, pakar mindfulness, telah membantu saya dan suami untuk lebih sadar penuh hadir utuh dalam menjalani hidup.

Mengerjakan proyek buku berjudul Semusim Cinta, kian lama membangkitkan bibit kreativitas saya. Mulai dari naskah mentah hingga siap dihidangkan ke pembaca, semua saya yang atur, walaupun eksekusinya juga berdua dengan suami. Nah, dari situ saya mulai terbiasa berpikir kreatif lagi.

Di sinilah saya sekarang, selain menjadi ibu rumah tangga, saya juga menjabat sebagai editor di perusahaan kecil yang bernama Kindi Press Creative Publishing, penerbitan indie yang saya dan suami perjuangkan.

Saya juga jadi termotivasi untuk menjadi kreatif setelah meniatkan diri mengerjakan Tantangan 10 Hari IIP yang ‘Memaksa’ Menjadi Ibu Kreatif. Selama 2-18 November 2017, kami ditugaskan untuk membuat solusi kreatif dari tantangan kita sehari-hari. Hah, tantangan? Ya, karena tidak ada MASALAH di Ibu Profesional yang ada adalah TANTANGAN!

Yuk buat solusi kreatif dari tantangan kita sehari-hari yang:
-Pilih yang lebih MENARIK
-Temukan yang lebih MENINGKATKAN BONDING dalam keluarga
-Cari yang lebih EFEKTIF dan EFISIEN, yang BERBEDA dari biasanya

Gunakan hashtag berikut saat pengumpulan tugas:
#Tantangan10Hari
#Level 9
#KuliahBunsayIIP
#ThinkCreative

Seperti dikatakan dalam materi presentasi tentang kreativitas dari Kreshna Aditya, “All children are born artists.” – Pablo Picasso. Namun apa kenyataannya? Orangtuanya mematikan kreativitasnya, banyak melarang, mengirimnya ke sekolah-sekolah sejak kecil. Apa yang orangtua lakukan demi kebaikan anak?

Apa yang perlu kita lakukan sebenarnya? Cukup dorong anak, hargai keunikan anak, cintai anak tanpa syarat, berikan anak dunia untuk dijelajahi. Kita yang harus berubah!

Mulai Hari Ini Saya Harus Menjadi Ibu Kreatif Lagi!
Saya tidak boleh terkungkung dalam pemikiran di dalam tempurung. Ayo, mulai hari ini saya pasti bisa menjadi makhluk kreatif lagi. Dunia sudah tidak membutuhkan orang yang konservatif. Dunia sudah terlalu ramai untuk menjadi pribadi yang sepi. Yuk, sekarang kita agendakan saja kegiatan-kegiatan break the routine yang bisa diaplikasikan juga oleh ibu-ibu yang lain, yang sesuai dengan tagline keluarga kami: Independent, Explore, Explode.

1. Berbagi tanggungjawab rumahtangga dengan suami, semampunya, agar ada variasi. Tidak perlu dibagi job description karena hanya akan saling menyalahkan.
2. Fleksibilitas jam dan hari kerja. Kalau soal ini, saya dan suami sejak usia 3 bulan pernikahan sudah memutuskan bekerja bersama dari rumah. Otomatis, hari dan jam kerja kami bebas kapan saja. Namun, itu berarti hari libur juga kapan saja. Nah, daripada kita mengatur kapan jam dan hari kerja kami, lebih baik kami sadar penuh hadir utuh saja saat bekerja sehingga makin cepat selesai lah pekerjaan itu. Sehingga ada waktu lebih untuk keluarga dan urusan lainnya. Pengalaman kami jika menggunakan jadwal kerja malah jadi kaku, so robotic, dan jadi saling merasa tidak enak antara suami dengan istri.
3. Membuat proyek keluarga harian. Tinggal serumah bersama terus setiap hari memang mengasyikkan. Tapi tak bisa dipungkiri juga pernah terasa membosankan. Inginnya saya keluar sebentar dari diri ini, untuk ‘berpisah’ sejenak dengan suami dan anak. Ingin menjadi diri sendiri. Lalu saya mulai mencari solusi, saya ga bisa begini terus. Mungkin kita bisa mencari pemecahan agar tidak gampang bosan. Aha! Bikin saja setiap hari jadi kreatif. Walaupun kita beri batasan. Misal Senin Sedekah, Selasa Santai, Rabu Babu, Kamis Romantis, Jumat Sehat, Sabtu Kuliner, Minggu Bertamu. Nah, dengan begitu kan kita bisa bermain setiap hariya. Misal, senin sedekah. Hari ini sedekah ke mana yaa enaknya? Googling ah, ada program donasi apa di lembaga X. Atau selasa santai. Santai bukan berarti libur kerja. Santai berarti mungkin juga bekerja dengan santai, mindful, menikmati. Lalu rabu babu. Di hari rabu kami membersihkan rumah. Terserah mau kosek WC, bersihkan lantai, bersihkan furnitur, ganti seprei, dll. Yang penting jadwalnya hari rabu. Lalu kamis romantis. Nah ini, biasanya pasangan suami istri kalau sudah menikah apalagi punya anak, lupa deh dengan tugas utama mereka yaitu pacaran. Di kamis romantis inilah tugas utama ini harus ditunaikan. Entah dengan suami memberikan apa ke istri, istri pun juga begitu. Jadi tiap kamis selalu ada apa yaa kejutan dari si dia? Kemudian Jumat Sehat, kami juga berusaha merutinkan potong kuku, korok kuping, mandi, cukur kumis, pakai masker setiap jumat. Jadi setiap jumat kita bersih. Lalu sabtu kuliner. Katanya witing tresno jalaran soko kuliner. Jadilah kami mengagendakan satu hari dalam seminggu untuk makan di luar. Kan capek juga ya masak tiap hari, sekali-kali dimasakin orang boleh lah ya. Hari minggu. Di sinilah saat memupuk ukhuwah atau silaturahim. Ke rumah orangtua, ikut seminar, atau ikut kegiatan sosial, atau cuma sekedar ke tetanga sebelah. Yaa begitulah upaya yang sudah kami lakukan di rumah.
4. Be as nomadic as possible. Pernah dengar istilah nomad? Kami sekeluarga mencoba tinggal berpindah-pindah! Eits, ini bukan excuse untuk tidak mencari rumah pribadi selama hidup di dunia. Tapi selama kita masih punya kesempatan untuk menjelajah bumi, ya ayo jelajahi bumi ini. Tinggal di bermacam-macam tempat di dunia selagi kita bisa. Maka kita akan bertemu beragam jenis orang dan beragam jenis aktivitas baru. Dialek baru, makanan baru, kebiasaan baru, tata krama yang baru, dan lain sebagainya. Sehingga otak akan dituntut untuk adaptif dan kreatif. Yuk, sering-sering pergi ke tempat baru.
5. Baca banyak hal. Jangan cuma baca chat di WhatsApp aja atau baca sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Beranikan diri kita untuk membaca banyak hal di luar diri kita: buku, majalah, koran, Al-Quran, website, akun berita, blog orang lain, dan masih banyak lagi. Misalnya kalau saya ibu rumah tangga sekarang, jangan cuma baca buku-buku parenting aja. Buku agama, sudah pasti. Buku menulis yang sesuai hobi, harus dong! Buku tentang pengembangan diri, buku tentang humor, buku tentang psikologi, buku tentang makanan, seni, olahraga, boleh… jangan batasi dirimu. Tapi ingat, jika bacaan kita sudah melanggar syariat, lebih baik dihentikan saja daripada pikiran kita terseret ke jurang kemaksiatan, hehehe.
6. Bebaskan diri kita dari pengotak-kotakkan dan labelling. Apa itu? Misalnya saya ibu rumah tangga, dia ibu bekerja. Saya melankolis, dia sanguinis. Saya tidak suka makan ini dan itu, dia suka semuanya. Jadilah orang yang tidak kaku dan tidak meng’harus’kan semuanya.

Dijamin insyaaAllah kita ga akan jadi keluarga matgay alias mati gaya. Dijamin insyaaAllah kita kalau kreatif ga akan miskin karena selalu ada cara kreatif untuk mencari penghasilan. Apalagi rezeki makhluk hidup sudah dijamin oleh Allah, bukan?

Selamat menjadi emak kreatif karena anak kita sudah terlahir kreatif!

Kreativitas itu ada di mana saja.
Kreativitas itu ada dalam kebebasan dan keterbatasan.
Kreativitas itu kamu!

Independent, explore, explode!

Sumber Bacaan:
-Resensi Creative Parenting Today di Koran Sindo Minggu, 21 Agustus 2016, Hendra Sugiantoro
-Materi Bunda Sayang 9: Kreativitas, Tim Fasilitator Institut Ibu Profesional
-Materi Kreativitas, Kreshna Aditya

#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

2 Comments

  1. Kak ecci kenapa kafe bacanya ditutup? Terus kenapa kuliahnya tidak diteruskan? Padahal dulu sepertinya termotivasi untuk kuliah s2 dan mengembangkan kafe baca. Itu juga yang membuat saya termotivasi dengan banyak tulisan kak ecci di web, facebook, twitter bahkan di instagram. Tapi sepertinya sekarang hanya tinggal web ini aja kak yah yang aktif? Saya juga membuat rencana kehidupan 10 tahun mendatang sama seperti yang lakukan. Hampir semua yang saya tulis bisa tercapai. Kak ecci yang saya tau dulu sepertinya up to date, memotivasi, dan kreatif memang. Saya bisa menjadi peringkat 1 di kampus salah satunya juga karena termotivasi dengan tulisan kak ecci. Oh ya kak ikut pendaftaran cpns tahun ini atau tidak?

    1. InsyaaAllah kafebaca saya tutup karena beberapa alasan, terutama internal yang sulit diperbaiki dan juga tanggungjawab saya karena menyediakan banyak konten yang buruk buat anak, di mana itu harus saya pertanggungjawabkan kalau tidak mau menjadi dosa jariyah. Selengkapnya bisa dibaca di http://adiarersti.com/perpustakaan-yang-telah-berhijrah/. InsyaaAllah saya berencana S2 lagi pasca keguguran ini. Sekarang sedang memantapkan hati jurusan dan kampusnya. Doakan saja semoga kali ini jurusannya cocok ya. Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan silaturahim di blog saya ya Salsa. Iya, saya sudah ga aktif lagi di FB, twitter, tumblr, instagram. Hanya menulis di sini dan sesekali status WhatsApp. Alhamdulillah jika sudah membuat rencana hidup dan tercapai. Yang penting serahkan penghapusnya ke Allah setelah menuliskan rencana-rencana itu. Jangan terlalu berambisi dan mengharuskan. Nanti capek sendiri dan bikin penyakit. InsyaaAllah saya ga berminat ikut pendaftaran cpns. Salam kenal, Salsa.

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: