​Pengalaman Mengenalkan Konsep Dasar Tentang Uang Kepada Anak

Pemahaman mengenai konsep dasar tentang uang harus dikenalkan kepada anak sejak dini. Bukan dengan memberikannya segepok uang lalu mengajaknya belanja, namun dengan membiasakannya terlibat dalam aktivitas kita yang terkait dengan uang atau yang lebih luas lagi, rezeki.

Berikut ini berapa proyek pengenalan uang, menabung, proses menabung dan membelanjakan tabungan yang kami terapkan di keluarga kami. Sesuai tantangan di Institut Ibu Profesional, kami memperkuat bahwa semua rejeki berasal dari Allah. Berikut ini beberapa highlight perjalanan pembelajaran kami selama dua minggu ini:

Belajar Menabung dan Bersedekah ke Masjid
Mengajarkan sedekah kepada anak usia 15 bulan itu gampang-gampang susah. Yang penting membiasakan dulu kalau lihat kotak infaq di masjid, masukin uang koin. Uang koinnya dari mana? Ya dari yang dia kumpulkan (eh, ayah ibunya kumpulkan).

Sudah kebiasaan saya dari dulu untuk mengumpulkan uang receh di dompet. Saya pisahkan dan masukkan ke celengan. Dulu celengan saya bergambar Bobo (majalah anak se-Indonesia di zaman dulu). Celengan itu masih ada sampai sekarang. Tapi beberapa waktu lalu, celengannya kami ganti di travel box saya. Uang koin itu kami jadikan punya si kecil.

Suatu kali, kami ke masjid dan mengajarinya memasukkan uang koin. Pernah juga kami ajari memasukkan uang kertas. Untung tinggi kotak infaknya pas. Jadi dia bisa melihat lubang koinnya.

Sebenarnya ini juga mendukung penguatan fitrah keimanan. Jika kita diberi rezeki, ada hak orang lain atas harta kita, maka wajib kita sisihkan, salah satunya ke masjid.

Belajar Memberi Makan Binatang
Kami memang tidak punya binatang peliharaan. Di rumah kung (eyang kakungnya) ada beberapa kucing. Dia suka sekali memperhatikan kucing yang tengah makan, lalu bilang, “Am…”. Tapi untuk memberi makan kucing belum pernah, karena belum saya ajari. Dia hanya melihat kungnya yang memberi makan kucing, lalu kucing kampung tak bertuan itu segera datang menyerbu papa saya. K suka sekali melihat gerak-gerik kucing sambil berkata, “Pus…” dan tangannya dimainkan untuk memanggil kucing. Persis seperti apa yang diajarkan kungnya.

Nah, kalau sama saya di rumah, si kecil punya satu mainan bebek kecil berwarna kuning, hasil hibah dari saudaranya. Saya mengajarkan padanya bahwa ketika dia punya rezeki berupa makanan, jangan lupa bebeknya dikasih makan. Si kecil dengan senang mencari bebek dan memberi makan dia, “Am…” sambil menyodorkan sesuap lauk atau nasi ke mulut bebek. Jelas saja si bebek tidak akan membuka mulut, sehingga lauk atau nasi akan tetap berada di badan bebek tersebut. Wkwkwk. Lucu ya anak-anak.

Masak Sendiri daripada Jajan di Luar
Belakangan ini kami berlatih untuk berinvestasi pada makanan sehat. Setelah dulu pernah melaksanakan food combining, saya merasa ingin menerapkannya lagi tapi dalam versi yang lebih ringan.

Saya sebagai menteri pangan di keluarga, mengharuskan setiap hari ada 1 sayur/1 buah. Satu bulan ini kami juga tidak membeli gula dan garam, mencoba masak dengan minyak zaitun, beli nasi kemasan kecil (nasi merah merk Finna) seharga 12ribuan. Kami juga cukup membatasi jajan-jajan yang tidak perlu. Sebisa mungkin mengganti cemilan dengan buah. Hal ini juga saya lakukan agar K tidak terbiasa jajan. Soalnya, pasca sukses memberi dia makan dengan metode Baby-led Weaning dari usia 6-12 bulan, saya merasa ‘kecolongan’ di usia 12-15 bulan ini dia sudah mengonsumsi pewarna, pengawet, penyedap rasa cukup banyak, apalagi kalau makanannya dikasih orang lain. Hwew, segera bertaubat. Prinsip saya, gapapa dia makan apa saja, asal halal, dan kalau red blue in zat aditif dicoba sedikit saja (1 suap saja). Setelah itu tidak boleh. Tapi kadang kalau dikasih orang lain, ya orang lainnya ngasih juga. Lho kok jadi keterusan curhat gini. Baper sendiri dong saya. Kan sudah strict sama aturan, eh tapi di luar, anak jadi ngikut lingkungan. Weladalah…

Saat belanja ke hypermart, si kecil ingin sekali memegang keranjang belanja. Dia juga memasukkan beragam barang, memegang, mengambil, dan terkadang menata barang-barang tersebut. Saya bilang, “K tidak butuh barang ini. Kembalikan ya. Saaa..tu… Duuu..a” Sambil menghitung.

Belajar Membeli Roti Kesukaannya
Kadang kalau saya dan suami lagi ada rezeki lebih, si kecil saya suruh memilih jajan apa yang dia suka. Tentu kami pilih dulu kehalalannya. Jajan yang paling dia suka adalah Roti dari Bandung merk Sharon yang berbentuk seperti pisang. Kelihatannnya seperti Tokyo Banana. Roti itu lucu, kecil, harganya cuma Rp5000,- dan dia bisa habis makan 1 roti itu. Besoknya saya ajak lagi dia ke tempat roti-roti merk Sharon yang dipajang di minimarket bagian paling depan. Lagi-lagi, dia memilih roti kuning berbentuk pisang itu. Mungkin karena kecil dan warnanya paling cerah, ya. Kadang dia juga suka roti steamed cheese, rasa greentea atau strawberry. Akhirnya dia membayarkan roti banana circle K dan memberikan uang ke petugas kasir.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: