Akhirnya Mengajukan Cuti Hamil

Bismillah. Setelah salat istikharah berkali-kali, air mata buaya di sana-sini, saya dan suami akhirnya mantap memutuskan untuk cuti sejenak dari perkuliahan S2 ini. Seharusnya saya ditemani suami terbang ke Jerman pada bulan Maret 2016 ini untuk meneruskan semester 2.

Selain pertimbangan kondisi saya saat nanti akan melahirkan, saat melahirkan dan pasca melahirkan, saya dan suami juga bertekad mencari uang dulu untuk biaya kebutuhan hidup di Jerman (yang tentunya jauh lebih mahal dari Mesir), karena saya berangkat tanpa beasiswa dari lembaga manapun. Saya masih menggunakan uang orangtua saya untuk membayar biaya kuliah dan keberangkatan ke Mesir.

Hidup di negeri orang memang tidak mudah. Apalagi saat baru menikah dan mendapat amanah berupa janin di perut. Waktu itu saya sedang stres saat trimester pertama kehamilan, saya sering menangis karena kangen rumah, badan tidak enak semua rasanya, dan lain-lain. Saya merasa kalau itu adalah titik terendah dalam hidup saya. Walaupun saya bahagia kalau saya hamil, tapi nyatanya saya kehilangan semangat. Entah kenapa.

Saya pun bertanya kepada Allah, bagaimana solusi terbaik dari semua ini. Saya akhirnya ingat, seorang pegawai administrasi di kampus saya pun menawarkan untuk cuti hamil. Saya pun mendiskusikan pilihan itu dengan suami dan kedua orangtua saya. Belum satu minggu, saya diberi kemantapan hati untuk mengajukan cuti.

Saya pun segera mengisi formulir Urlaubsantrag (pengajuan cuti) dan meminta bukti hamil dari rumah sakit untuk dikirimkan ke email administrasi kampus. Kebetulan rumah sakitnya ada di depan asrama saya dan dekat sekali dengan kampus.

Dokter pun memberikan selembar surat yang menyatakan bahwa saya hamil 12 minggu (waktu itu). Beliau juga menyarankan saat saya mau pulang nanti, harus kontrol lagi karena akan diberi surat untuk bepergian oleh dokter. Namun, dokter kandungan di sana semua laki-laki (yang perempuan sudah tidak praktek di sana lagi), jadi saya ke El Gouna Hospital itu hanya untuk konsultasi. Kalau Ultrasound/USG saya dan suami pergi ke kota lain yang bernama Hurghada (kurang lebih 30 menit dari El Gouna) naik bis. Dan itu selalu malam hari. Anginnya dingiiiin sekali.

Orangtua pun mendukung saya cuti supaya bisa fokus mempersiapkan kelahiran, melahirkan, dan memberikan ASI setelahnya. Alhamdulillah Aamiin semoga ini memang keputusan yang terbaik yang Allah berikan.

Proof of Pregnancy

Saya tidak khawatir teman-teman seangkatan saya lulus duluan nantinya. Saya sudah teguhkan keputusan ini dalam hati, saya akan membesarkan anak saya dulu, beradaptasi dengan keadaan, baru insyaAllah jika memang diizinkan melanjutkan kuliah semester 2, saya akan berangkat ke Jerman bersama keluarga kecil saya 🙂 Saya percaya ketentuan Allah untuk menunda keberangkatan saya ke Jerman adalah yang terbaik untuk semua. Keep praying, Moms!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: