Anak Bukan Kertas Kosong, Temani Dirinya Bereksplorasi

Sepuluh hari sudah, saya dan suami mengamati gaya belajar anak kami, baby K. Dia masih baby kok, masih 11 bulan. 

Ternyata menarik sekali menjadi detektif, peneliti, observer, atau apalah namanya, untuk buah hati. Kami dituntut untuk mengamati perkembangannya dari hari ke hari. Menyediakan tools dan waktu (ini yang paling penting) untuk mengamati apa sebenarnya kecenderungan gaya belajar anak. Apakah Visual, Kinestetik, Auditori, gabungan dua jenis, atau malah ketiganya.

Nah, di tulisan kali ini, saya ingin merangkum apa yang sudah kami lalui selama 10 hari pengamatan gaya belajarnya.

Dimulai dengan memberikan si kecil kesempatan untuk memaksimalkan indera perabanya, kami memberikan buku bayi terbitan penerbit buku anak Indonesia, Rabbit Hole.

Lalu untuk membuatnya paham tentang object permanence, kami membacakan buku Knock! Knock! Open the door.

Kemudian, kami ingin memberitahukan bahwa Allah menciptakan benda dalam berbagai bentuk, kami gunakan buku Turn and Learn: Shapes.

Selanjutnya, mengeksplorasi motorik kasarnya, kami arahkan ia ke restoran cepat saji. Bukan untuk makan, tapi untuk bermain di playground. Kami memilih McDonalds dekat rumah untuk makan malam dan menemaninya bermain. Kami tidak memaksa dia harus berinteraksi dengan anak lainnya (karena memang belum waktunya), kami juga tidak memaksa dia untuk menuruni prusutan yang meliuk (karena tentu saja bahaya), tapi kami ingin memberikannya kesempatan mencoba. Sehingga kami pahan, ternyata ia suka menyapa orang lain dan cukup berani.

Selain itu, kami juga mengenalkan suara hewan-hewan, kami kenalkan lewat suara kami dan lewat aplikasi di HP. Kami beritahu bahwa hewan-hewan adalah ciptaan Allah.

Kami juga menggunakan buku balita Muhammad Teladanku terbitan Sygma Daya Insani untuk mengenalkan siapa Nabi Muhammad dan sifat-sifat penyayangnya. Kami membacakan buku tersebut dan si kecil antusias mendengarkan. Saya suka buku-buku itu karena teksnya berima. Sehingga memperkaya kosakata dan sebagai dasarnya untuk menyukai sastra.

Seingat saya, kami juga mengenalkan suara lewat Tablet 3 bahasa: Arab, Indonesia, Inggris. Tentunya bukan untuk menggegasnya menjadi polyglot di usia dini. Tetapi hanya mengenalkan dia bahwa benda ini bisa mengeluarkan suara bacaan salat, doa, nama benda, angka, dan lain-lain.

Kesimpulannya, kami mendapati kecenderungan gaya belajar si kecil ialah Kinestetik-Auditori. 

Itulah beberapa stimulasi yang kami ingat dalam rangka mengamati gaya belajarnya. Semua tulisan pengamatan gaya belajar anak, sudah saya tuliskan di blog ini.

Terima kasih untuk Institut Ibu Profesional karena telah menyediakan tantangan menarik untuk membersamai fitrah belajar ananda. 

Saya makin sadar bahwa kita tidak perlu memiliki seluruh mainan dan buku edukatif. Kita tidak perlu minder jika ada orangtua yang koleksi mainan dan bukunya lengkap sekali. Kita hanya perlu membangkitkan fitrah belajarnya yang sudah terinstal baik di dirinya. Bukan menjejalinya berbagai teori, bukan mengajar, bukan pula menuntutnya ini itu. Tapi pahami gaya dan cara belajarnya. Ingat, anak bukan kertas kosong yang bebas kita corat-coret sekehendak kita.

Terima kasih atas materi-materi dan cemilan yang bisa mempengaruhi kami untuk menyadari apa gaya belajar kami sendiri dan anak kami tentunya.

Ini juga ada hubungannya dengan tulisan saya sebelumnya yang membahas tentang French Parenting alias pengasuhan a la orangtua Prancis.

Saya suka kata-kata terakhir di summary buku Bringing Up Bebe karya Pamela Druckerman ini: 

Give your children the freedom to explore and make their own mistakes, but don’t forget your position of authority.

Mari kita bersamai, temani buah hati, agar ia merasa dianggap, dicintai. Agar ia bersemangat mengeksplorasi isi dunia ini. Amati gaya belajarnya. Fasilitasi kebutuhannya. Sediakan waktu 100% untuknya. Bukan 99% , apalagi 50%. 

Pahami gaya belajarnya. Optimalkan kecenderungan gaya belajarnya. Misalkan, anak auditori sering diperdengarkan suara-suara, karena ia tentu lebih merespon suara daripada gambar. 

Temani ia sepenuh hati saat belajar. Agar suatu hari nanti, ketika sudah baligh, dengan sendirinya, ia bisa menemukan maksud mengapa Tuhan menciptakannya.

Di tulisan ini, saya juga membagikan infografis review Institut Ibu Profesional tentang fitrah belajar anak.

Terima kasih banyak Institut Ibu Profesional dan tim! Don’t teach me, I Love to Learn!

Tulisan ini dibuat untuk Aliran Rasa Tantangan 10 Hari Mengamati Gaya Belajar Anak yang diadakan oleh Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: