Anies Baswedan?

Siapa dia? Awal melihatnya, tak ada yang istimewa. Waktu itu tak sengaja membuka sebuah laman di dunia maya. Tentang berita Rektor Paramadina. Saya tertegun membaca isinya.
Tak lama setelahnya, saya dengar lagi berita tentangnya, menggagas gerakan Indonesia Mengajar. Siapa dia?
Suatu ketika, di kota tercinta, Surabaya, ia datang mengisi acara. Saya sangat senang bisa melihat wajahnya. Wajah bercahaya, yang penuh kharisma, yang membawa sejuta harapan untuk rakyat Indonesia.
Saya memendam rasa untuk bertemu dengannya, berbincang mengenai pendidikan Indonesia, namun apalah mau dikata, saya tak berhasil bertatap muka, berbicara empat mata dengannya. Seperti orang jatuh cinta diam-diam, saya hanya bisa memandang wajahnya dari kejauhan, berharap dia mendekat, tetapi tak mendekat. Tetapi tak mengapa. Melihatnya bercengkerama bersama para pemuda yang lain dengan akrab, saya sudah bahagia.
Anies Rasyid Baswedan, begitulah sosok tersebut diberi nama oleh kedua orangtuanya. Anies Baswedan, begitu ia lebih dikenal. Apa? Dikenal? Mungkin memang tak banyak yang mengenal siapa dia. Anies Baswedan, asal Yogyakarta, adalah seorang dari sekian juta jiwa yang menginginkan perubahan di Indonesia.
Setahun dua tahun ini, namanya santer terdengar di seantero Indonesia.
Siapa dia? Apa kasus yang membuat namanya naik daun sedemikian rupa?
Sebentar, mari kujelaskan. Siapa Anies Baswedan? Menjadi ketua OSIS SMA Se-Indonesia dahulu, adalah batu loncatannya di masa remaja. Lalu, dilanjutkan dengan mengikuti serangkaian kegiatan pertukaran pelajar di luar negeri dan mendapatkan ilmu selama di sana.
Siapa Anies Baswedan? Kau masih penasaran rupanya, anak muda. Mungkin kau kurang membaca.
Sebentar, izinkan aku bertanya lagi padamu. Kau tahu Indonesia Mengajar? Kau tahu Kelas Inspirasi? Kau tahu Indonesia Menyala? Beliau adalah penggagas ketiga gerakan fenomenal itu, ternyata.
Kau mengangguk-anggukan kepala.
Apa kaitannya dengan Universitas Paramadina? Dahulu beliau sempat dinobatkan menjadi rektor termuda di Indonesia di usianya yang ke-38, saat menjadi rektor di Paramadina.
Sudah cukup? Belum, katamu. Baiklah, ia termasuk dalam 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia.
“Wah, benar! Hebat ya!” katamu membelalakkan mata. Akhirnya kau sadar juga.
Mari kuberitahu fakta-fakta mencengangkan lainnya. Baru saja beliau melaksanakan tur keliling 3000 kilometer hanya demi turun tangan untuk Indonesia.
Coba ulangi lagi, apa, turun tangan? Tidak salah dengar?
Ya! turun tangan. Bukan tanpa T, urun angan.
“Suara 1 rakyat yang tulus lebih berharga daripada baliho sebesar apapun” itu kata-kata yang terpampang nyata di halaman utama situs pribadinya. Tak perlu pasang poster dengan puluhan gelar dan jabatan. Tak perlu menyakiti pohon dan berkontribusi terhadap gerakan polusi visual dengan memasang poster. Cukup bermodal nama baik dan kontribusi nyata bagi Indonesia.
Saya, tidak dibayar sepeserpun untuk menulis ini. Saya, tidak dibayar sepeserpun dan dijanjikan apapun untuk mendukung beliau. Namun saya hanya bermodal percaya dan rasa ingin tahu yang besar, terhadap siapa yang akan memimpin negara saya.
Ya, saya berhak. Kini sudah 21 tahun usia saya, dan saya harus mempertanggungjawabkan segala hal yang saya lakukan. Termasuk memilih pemimpin negara salah satunya.
Saya percaya: Anies Baswedan akan menyalakan harapan rakyat Indonesia yang sedang dilanda krisis kepercayaan diri. Krisis, yang saking parahnya, mengikis identitasnya. Mengikis optimismenya. Hingga lupa akan budaya leluhurnya.
Anies Baswedan, bersama rakyat yang mau turun tangan, bersama rakyat yang rindu pemimpin bersih, bersama rakyat yang rindu perubahan, akan memperbaiki Indonesia, bukan dengan mempermainkan angka statistik, namun dari yang paling dasar, dengan mengubah manusianya!
Anies Baswedan, sedang dalam usaha memperbarui citra Indonesia.
Anies Baswedan, di mata saya, seperti cahaya di tengah kegelapan, seperti oase di tengah kekeringan, seperti yang putih di antara yang hitam.
Anies Baswedan, dari kacamata saya, seperti sosok presiden pertama Republik Indonesia, dengan gaya orasinya yang tegas namun halus dan mengena, sangat mudah dimengerti siapapun juga.
Anies Baswedan tidak bergerak sendirian, tapi mengajak rakyat untuk bersama-sama turun tangan.
Saya, seorang mahasiswa, percaya, bahwa janji kemerdekaan harus dilunasi, dan kitalah orang-orang yang diharapkan leluhur, untuk melunasi janji-janji itu.
Saya tidak sedang berpuisi. Saya tidak sedang berorasi. Saya hanya mencoba turun tangan dengan cara saya sendiri.
Saya percaya dan saya mau turun tangan. Anda?
Surabaya, 11 Januari 2014.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: