Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Menikah?

Tulisan ini saya buat berdasarkan request pertanyaan dari beberapa teman. Apa saja sih yang harus disiapkan sebelum menikah? Tentu saja ilmu, materi (finansial), mental, dan lain-lain. Nah, pada tulisan ini, saya khusus membahas persiapan teknis menuju pernikahan. Pada tulisan ini, saya menggunakan studi kasus pengalaman saya sendiri. Silakan dipilih mana yang perlu, seskuaikan dengan kebutuhan dan prioritasmu. Poin paling penting, jangan lupa diskusikan ini dengan baik, cari kesepakatan bersama antara keluargamu dan keluarga calon. 

Menikah adalah sebuah proyek. Proyek yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Mendirikan organisasi saja kita perlu persiapan. Apalagi menikah. Maka, saya dan calon (yang kini menjadi suami saya), menggunakan aplikasi mobile dan dekstop bernama Trello. Silakan diakses lewat trello.com. Saya meniru mbak Reisha yang juga mempersiapkan pernikahan menggunakan Trello. Seru deh 🙂

Oke, langsung saja ya. Saya tidak akan membahas persiapan ilmu dan mental karena sudah wajib harus dipelajari jauh hari sebelum kamu menikah. Jangan sampai uang sudah ada, tapi ilmu dan mentalnya belum siap. Jangan dulu menikah kalau begitu 😀 Siapkan dulu dengan membaca buku, mengikuti seminar, menonton kajian online, bertanya pada yang ahli, mengenali diri sendiri dan calon pasangan, dan lain-lain.


Pra Akad Nikah

Di bagian ini, kebanyakan beberapa orang tidak mau melaksanakannya karena merasa tidak perlu. Awalnya saya juga merasa begitu. Buang-buang duit, ah. Tetapi kedua orangtua saya menghendaki mengadakan pernikahan Islami dicampur dengan adat Jawa:

  • Foto Pre-Wedding:
    • Biaya: 3.500.000
    • Saya tahu bagian ini tidak begitu penting, karena sebenarnya bisa menggunakan foto-foto dari CPP dan CPW yang sudah ada. Tetapi Bapak saya menghendakinya, jadi mau tidak mau ya saya ikut saja. Kami tidak bersentuhan dan berpose sewajarnya saja. Kru fotonya juga dua orang teman sekelas saya sendiri. Saya menggunakan vendor: Exora Photography @exoraphotography. Lokasi foto kami di Heerlijk Library Cafe Manyar dan di Masjid Agung Surabaya. Di sinilah serunya, kami berdua sudah didandani oleh Make-up Artist (MUA) dan akhirnya pergi bersama kru foto ke Heerlijk Library Cafe. Alhamdulillah berjalan lancar, tetapi karena kami ga kebiasaan foto dengan pengarahan gaya, jadi agak kaku posenya. Barulah menjelang maghrib kami ke Masjid Agung Surabaya. Di sanalah kami diusir satpol PP. Hahahaha. Eh bukan, dimarahi satpam masjid. Katanya kami tidak menggunakan izin. Kami boleh foto disana asal akadnya juga disana dan harus minta izin dulu ke kantor masjidnya. Tapi untunglah kami sudah mengantongi beberapa shot dan akhirnya kami pulang dengan tangan berisi kamera yang penuh foto pre-wedding kami. Menunggu sekitar dua minggu, foto tersebut jadi, dicetak, dan dipigura. Oh ya, kami memilih lokasi di Heerlijk Library Cafe karena interiornya yang warna-warni, lucu, dan kutu buku banget. Kami berdua sama-sama suka baca buku. Jadi, di sana kami harus berpose mengikuti arahan kru foto. Mereka punya konsep menceritakan pertemuan kami yang berawal dari sosial media. Alhasil, kami harus membuka laptop dan HP (untuk berpose main facebook dan Tumblr) serta membaca buku. Buat seru-seruan aja, sih. Lalu yang di Masjid, ini berdasarkan request Bapak saya yang merupakan salah satu tim perancang masjid. Eh, tapi malah diusir satpam ya di sana. Hihihi. Baju yang kami gunakan juga cuma satu, dan itu baju pribadi. Jadi kami ga keluar uang untuk pakaian. Hanya keluar uang untuk transportasi dan tentunya membayar jasa kedua teman saya tadi, juga biaya beli pigura 😀 
  • Pengajian:
    • Keluarga calon mempelai wanita (CPW), mengadakan pengajian di rumah saya dengan kedok pengajian Ibu-Ibu RT. Hehehe, bukan. Maksudnya diadakan seminggu sebelum hari H pernikahan saya, namun dijadwal sesuai pengajian Ibu-Ibu RT saya. Maka Ibu saya menyediakan/mempersilakan rumah saya dipakai untuk pengajian. Waktu itu, saya sekeluarga memakai baju seragam merah dan biru (bekas Lebaran) dan kami mengundang beberapa saudara dan teman dekat juga. Di pengajian itu kami membaca surat Ar-Rahman, dipandu seorang Ustadz yang menerangkan materi tentang 6 hal yang harus disegerakan, salah satunya: menikah. Yang harus dipersiapkan adalah: konsumsi para hadirin dan undangan pengajian dan ucapan terimakasih atas kehadiran (ini sih saya bikin sendiri di MS Word). Sebenarnya pengajian ini tidak ada aturannya harus dilakukan. Namun yang saya ambil nilai kebaikannya, karena kita didoakan oleh banyak orang agar acaranya lancar dan pernikahannya barakah. Begitu 😀  Oya, pengajian diadakan di rumah CPW saja, biasanya. Keluarga CPP tidak mengadakan pengajian ini. Tapi tentu saja tetap harus berdoa ya supaya rangkaian acara berjalan lancar.
  • Siraman:
    • Dalam adat Jawa, siraman dilakukan satu hari sebelum pernikahan. CPW dan Calon Pengantin Pria (CPP) mengadakan siraman di tempat terpisah. Terpisah ruang dan waktu. Ya iyalah belum halal, bro. Biasanya di pagi atau sore hari sebelum dilaksanakannya malam midodareni. Kenapa sih disebut midodareni? Baca aja di Google, ya. Intinya di malam itu kamu pasti deg-degan banget, wahai CPW. Di acara siraman ini, CPP juga disiram (dengan air biasa yang dicampur air siraman dari rumah CPW). Rambut CPP dan CPW juga dipotong sedikit untuk dikubur di rumah masing-masing. Filosofinya, supaya mereka tetap kembali ke rumah walaupun nantinya menikah dan terpisah dengan orangtua. Huuu so sweet. Di acara siraman tersebut saya disiram oleh beberapa belas wanita. Ada orangtua saya, tante-tante, bude-bude, dan perias saya. Saat disiram rasanya dingin banget, tapi saya pakai baju lengkap dan juga hijab. Setelah itu saya diambilkan air untuk wudhu. InsyaAllah prosesnya tetap tidak membuka aurat. Disitulah saya merasa terharu dan tidak kuat menahan kesedihan sekaligus kebahagiaan karena besoknya saya akan ga jomblo lagi (finally), tapi juga akan berpisah dengan orangtua. Sebelum siraman, saya diminta sungkem kepada kedua orangtua. Saya membaca surat (teksnya sudah disediakan MC) untuk kedua orangtua saya. Sebenarnya enak baca surat tulisan sendiri, sih. Lebih mengena dari hati dan bahasanya sesuai bahasa sehari-hari. Eh tapi surat yang ini juga bikin saya dan orangtua saya menangis. Gimana kalau surat tulisan sendiri, ya? Setelah sungkem dan siraman, saya diganti bajunya (karena sudah basah dan kedinginan), untuk makan tumpeng. Disuapi oleh orangtua untuk terakhir kali. Filosofinya, kita diberi makan terakhir kali oleh orangtua kita sebelum dilepaskan ke suami. 
  • Midodareni:
    • Siraman dan midodareni dilakukan dalam satu hari yang sama. Midodareni biasanya dilakukan setelah salat Isya. Ini nih momen paling deg-degan sekaligus bikin senyam-senyum. Walaupun saya dan calon suami sudah bertemu sehari sebelum acara siraman karena harus mengikuti rapat persiapan dengan Wedding Organizer (WO), kami menggunakan Martha Wedding Organizer, tapi tetap saja rasanya deg-degan, bro. Di malam sakral ini, keluarga CPP datang dari kediamannya ke rumah saya (mereka menginap di apartemen dekat rumah saya karena berasal dari Banyumas dan Purwokerto). Yang harus disiapkan: semuanya disediakan oleh WO sih, termasuk konsumsi, pakaian, dan lain-lain. Jangan lupa sediakan penginapan bagi keluarga CPP, kalau bisa jangan terlalu jauh dari lokasi akad nikah. Tapi saya membuat rundown sendiri yang diperbaiki bersama (termasuk oleh WO dan keluarga), saat rapat persiapan. Untuk kelancaran proses ini saya banyak browsing supaya lebih paham filosofi dari setiap ‘adegan’ yang saya lakukan. Keluarga besar CPP datang menyerahkan seserahan (berupa kotak-kotak yang di dalamnya berisi baju, baju dalam, tas, kosmetik, dll dsb pokoknya perlengkapan dari atas sampai bawah untuk CPW). Masing-masing anggota keluarga besar CPP dan CPW akan saling memperkenalkan diri, dipandu MC. Di sinilah saya merasa sedih karena saya ga bisa lihat prosesinya dan ga boleh ikut dong. Kan ceritanya saya dipingit di kamar pengantin sampai besok pagi sebelum acara. Hihihi. Saya pun deg-degan dan akhirnya tibalah saat saya disuruh keluar kamar menuju ruang tamu untuk didudukkan dan ceritanya ditanyai oleh Bapak saya apakah saya siap menikah (tentunya dengan bahasa Jawa). Parahnya, wajah saya bisa dilihat oleh keluarga CPP karena dishoot (waaa, maluuuu). Harusnya bagian ini ga perlu dishoot sih, karena biar CPP-nya makin deg-degan cuma dengar suara saja. Hehehe. Setelah saya ditanyai itu, ceritanya saya minta kembar mayang ke Bapak saya. Saya pun kembali ke kamar. Keluarga CPP dan CPW makan bersama, kecuali si CPP karena dia ceritanya akan dibawakan makan oleh keluarga CPW. Eh ternyata miskomunikasi dan dia malah makan ;”D Setelah itu, pihak wanita dari keluarga CPP seperti mbah putri, ibu, tante, bude, dan sepupu-sepupunya yang perempuan masuk ke kamar pengantin untuk melihat saya. Malu banget waktu itu dan kami berfoto di antara kotak-kotak seserahan dan kotak cincin juga pigura uang mahar yang sudah ditaruh di kamar saya. Senang sekali bisa menambah anggota keluarga 😀 Saat menunggu acara berjalan, di dalam kamar saya ditemani oleh keponakan-keponakan saya yang masih kecil. Mereka menanyai saya dan juga mengambilkan saya makan minum. Terkadang teman-teman wanita saya dan sepupu-sepupu saya juga menemani saya di kamar. Yaaa, malam terakhir menjadi jomblo.           

Persiapan Akad dan Resepsi:

Ini bagian yang paling penting dari sebuah pernikahan. Ini bagian yang sangat harus disiapkan secara lahir batin. 
Menentukan Tema dan Warna
  • Diskusi bersama keluarga tentang tema dan warna rangkaian acara pernikahan
  • Akad: putih, coklat
  • Resepsi: merah, putih, hitam -> didiskusikan bersama pihak Catering juga
  • Resepsi II: hijau, coklat, krem 

 

Administrasi Kantor Urusan Agama

  • Biaya: Kisaran 600.000
  • Yang dipersiapkan:
    • Foto 3×4 warna, sebanyak beberapa lembar (tergantung request KUA).
    • Surat pengantar dari RT ditandatangani ketua RW juga, diserahkan ke kelurahan. Untuk nantinya dibawa ke KUA kecamatan.
    • Jangan lupa juga dokumen-dokumen lainnya yang direquest oleh KUA, yaitu surat pernyataan belum pernah menikah, dll dsb.
    • Akad nikah sekarang bisa gratis kalau kamu menikah di hari kerja, di KUA tersebut. Lumayan, kan. Hemat. Kalau saya waktu itu mengadakan akad nikah hari Sabtu, 14 Juni 2015. Jadinya tetep bayar 600.000 ke rekening bank KUA. 
    • Di KUA kamu akan bertemu dengan kepala KUA (kalau saya, beliau sekaligus jadi penghulu). Di sana akan diberitahu tanggal itu bisa dipesan pada jam berapa. Kamu juga diminta membawa calon dan wali untuk tandatangan dokumen dan penasehatan pranikah (nama proses ini adalah rapak). Oh ya, di beberapa tempat, KUA juga merequest imunisasi TT (Tetanus Toxoid). Tetapi KUA saya tidak. 

Pre-Marital Check Up

  • Biaya: 2.500.000
    • CPW di Prodia Surabaya, dan calon suami di Pramita Jogjakarta. CPW menghabiskan sekitar 1.500.000, sedangkan CPP sekitar 1.000.000. Tentunya wanita menghabiskan lebih banyak karena yang elemen dites juga lebih banyak. Di sini kita tes TORCH juga.

Perawatan Pra Nikah

  • Biaya: 200.000
    • Salon di Gubeng Kertajaya
    • Rumah Cantik Muslimah di Mulyosari
    • CPW melakukan pijat dan spa di salon
 

Undangan Akad Nikah dan Resepsi I + II

  • Biaya: Undangan Akad @ 4000/pcs, Undangan Resepsi @ 5000/pcs (belum termasuk amplop undangan resepsi)
    • Undangan akad nikah 100 pcs
    • Undangan resepsi 600 pcs
    • Didesain oleh CPP dan CPW
    • Cetak di bigmaxi-adv (punya teman)
    • Sempat dilakukan ralat karena lokasi salah -> menempelkan stiker tambahan di undangan yang sudah dicetak
    • Bahan tambahan: Plastik, benang kasur, label nama
    • Menyiapkan daftar hadir undangan

Souvenir Akad Nikah dan Resepsi + Souvenir card

  • Biaya: Souvenir @ 7500/pcs, gratis souvenir card (desain sendiri)
    • Sketchbook A6, cover desain dari CPP, quote dari startupvitamins.com

Website Pernikahan

  • Biaya: – (karena tidak pakai domain berbayar dan desain sendiri)
    • URL: erstiandkenniko.tumblr.com (sudah tidak bisa dibuka lagi karena kami delete)
    • Namun setelah rangkaian acara pernikahan selesai, dihapus
    • Mengumpulkan testimoni dari teman-teman terdekat dan pihak yang membantu hubungan calon pengantin
    • Menggunakan SCMplayer untuk playlist lagu
    • Membuat slideshow menggunakan Slidely.com
    • Membuat infografis timeline

Membersihkan dan mendekorasi Rumah dan Kamar Pengantin

  • Biaya: (tidak tahu)
    • Rangkaian Bunga pesan di Pasar Kayun
    • Korden, tempat tidur, lukisan dinding, dan meja rias pinjam saudara
    • Sprei hadiah dari saudara 
    • Sewa AC, vendor di Mulyosari
    • Membersihkan kamar pengantin (meminjam kamar orangtua di lantai 1)
    • Properti barang-barang pribadi CPW

Survei lokasi resepsi

    • CPW, CPP dan keluarga datang ke lokasi resepsi I dan II di Graha ITS dan di Korem Sokaraja

Cari tempat tinggal

  • Biaya: 4.500.000 untuk 3 bulan
    • Browsing via internet
    • Dapat Nugraha Kost Exclusive di kawasan Gejayan dekat Hotel LOKAL Jogjakarta. 

Rapat Panitia Akad dan Resepsi

    • Dilaksanakan beberapa kali sebelum acara akad nikah dan resepsi di rumah CPW, bersama WO, MC, dan panitia (saudara dan teman) agar acara berjalan dengan lancar dan semua panitia tahu apa yang harus dilakukan
    • Yang dipersiapkan: proyektor, buklet, konsumsi hadirin

Gladi Bersih

    • Diaksanakan pada H-1 Siraman dan Midodareni, latihan blocking dan praktek acara
    • DIlakukan bersama-sama oleh CPP dan CPW (serta keluarga inti CPW) dipandu WO

Cari Cincin Kawin

  • Biaya: Rp 450.000
    • Di Kotagede, Jogjakarta
    • Bahan: Perak
    • Bonus wadah cincin
    • Desain wadah oleh CPW
    • Vendor: @rofiq_silver (instagram)

Souvenir untuk penyiram dalam acara siraman

  • Biaya: tidak tahu
    • Handmade, beli handuk warna-warni untuk 13 orang penyiram + souvenir tag

Buklet Pernikahan

  • Biaya: kisaran 5000 per buklet
    • Bikin sendiri di MS Word, isinya jadwal acara, pembagian tugas, denah lokasi
    • Buklet dibagikan online di Google Docs dan dicetak untuk disimpan panitia
    • Jika ada perubahan, langsung dikomunikasikan dengan panitia

Henna

  • Biaya: harga 1 tangan: Rp 10.000-50.000
    • Di Jembatan Merah Plaza, langsung datang ke sana 1 hari sebelum siraman dan midodareni

Photobooth Resepsi

    • Disediakan WO, berisi kursi, gebyok, karpet, serta foto-foto pre-Wedding yang sudah dicetak oleh WO

Wali, Saksi, Penghulu

    • Wali: Bapak CPW
    • Penghulu: Pimpinan KUA Sukolilo
    • CPW: 1 orang, rektor ITS
    • CPP: 1 orang, paman dari CPP

Konsumsi Akad Nikah dan Resepsi

  • Biaya: (dirahasiakan)
    • Kumpulkan brosur-brosur catering 
    • Jagaddhita Catering, dapat rekomendasi dari Graha ITS

Seragam Panitia

  • Biaya: (tidak tahu)
    • Akad: Nuansa coklat (disediakan oleh WO)
    • Resepsi: Kain kebaya, model custom, nuansa merah-hijau-hitam

Mahar

  • Biaya: 1.462.000
    • Ditentukan oleh CPW
    • CPW meminta mahar berupa uang, atas rekomendasi dari penceramahan di KUA

Cetak Foto Properti CPP dan CPW

  • Biaya beli pigura untuk foto pre-wedding (7 pcs): Sekitar 1.500.000
  • Biaya cetak foto gantung di kamar pengantin: (tidak tahu)

Tanda panitia

  • Biaya: tidak tahu
    • Bunga handmade oleh saudara

Buku Tamu

  • Biaya cetak: sekitar 350.000
    • Didesain oleh CPW
Akad Nikah, Lokasi: Rumah CPW
  1. Pembacaan ayat suci AlQuran oleh saudara dan saritilawah oleh teman
  2. Konsumsi: Jagaddhita Catering
  3. Dekorasi: Hilmy Decoration (by WO)
  4. Dokumentasi: @perfeksiphotoworks, Fitrah Photography (by WO)
  5. MC: Bapak Ilham
  6. Pakaian dan Make-Up: Disediakan oleh WO, pakaian bernuansa adat Jawa, tema putih – coklat
  7. Lagu pernikahan: Suara Cerita, lagu-lagu instrumental,  lagu yang memorable untuk kedua belah pihak, dll cari sendiri sesuai selera
  8. Lain-lain: Lensa kontak untuk CPW, agar saat difoto lebih terlihat bagus
Resepsi (Walimatul ‘Ursy) di Daerah Asal CPW dan CPP
  • Resepsi I: Di kota asal CPW (Surabaya) Lokasi: Graha ITS
  • Resepsi II: Di kota asal CPP (Banyumas) Lokasi: Korem Sokaraja
    • Murni diurus oleh WO dan keluarga besar di Banyumas
    • Video slideshow: dibuat oleh CPW dan CPP
    • Menampilkan video rangkaian acara akad nikah dan resepsi I oleh WO resepsi Surabaya
    • Souvenir: wadah kecil
    • Undangan: cetak di Enggal Printing, Purwokerto
    • Buku tamu: disediakan oleh WO
Pasca Pernikahan
  1. Bulan Madu: kami tidak memakai sistem bulan madu karena bagi kami bulan madu adalah setiap hari. Eh itu namanya hari madu dong. 
  2. Pindah rumah: empat hari setelah menikah, kami pindah ke rumah kos di Jogjakarta yang sejak sebulan sebelum menikah sudah kami booking untuk tiga bulan ke depan. Waktu itu Juni sampai September. Karena setelahnya, kami akan pindah ke Mesir.
  3. Melihat dokumentasi pernikahan yang berupa album dan CD untuk mengenang hari membahagiakan itu.

Semoga ulasan berdasarkan pengalaman pribadi saya ini bermanfaat, ya. Kamu punya saran apa saja bagi calon mempelai? Silakan bagikan di kolom komentar 🙂

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

3 Comments

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: