Basic dan Legalitas Homeschooling: Catatan tentang Webinar Rumah Inspirasi Sesi 1

Awal Tertarik dengan Homeschooling

Sudah sejak sebelum menikah, saya mengikuti website rumahinspirasi.com dan mengunduh e-book gratisnya tentang Frequently Asked Question (FAQ) Homeschooling. Website ini dimiliki oleh sebuah keluarga yang dikepalai Sumardiono (Aar) dan istrinya, Mira Julia (Lala). Mereka memiliki tiga anak yang semuanya homeschool, Yudhis, Tata, dan Duta.
Waktu ada Webinar yang sebelum periode ini, saya ingin sekali ikut. Tapi karena belum menikah dan tidak punya cukup uang, akhirnya saya hanya bisa gigit jari melihat poster webinar waktu itu. Saya berharap dalam hati, “Semoga diadakan lagi di lain waktu.” Saya yakin, pasti akan diadakan lagi.
Saat awal pindah ke Mesir karena kuliah lagi, ada teman yang juga mengunduh podcast Rumah Inspirasi di SoundCloud dan membagikannya kepada saya dan teman-teman.
Soundcloud Rumah Inspirasi
SoundCloud Rumah Inspirasi. Sumber: soundcloud.com/rumah-inspirasi
Akhirnya saya coba dengarkan bersama suami. Ternyata menarik juga. Pandangan sempit saya tentang homeschooling –walaupun sudah tertarik sih, sebenarnya– jadi terbuka lebar. “Ooh, ternyata homeschooling itu kayak gitu, to.” Saya pun menemukan sebuah slide materinya di SlideShare yang berjudul Homeschooling – Freedom of Learning. Ternyata homeschooling itu bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. Nah lho, nah lho!
Tahun pun berganti. Saya pun diamanahi Allah untuk mengandung seorang bayi laki-laki. Dari sejak menikah, saya dan suami memang sudah bertekad untuk mendidik anak secara mandiri sejak dia lahir nanti. Saya pun mulai rajin mengubek-ubek website rumahinspirasi.com, dan keranjingan membaca setiap artikel tanpa henti, padahal masih banyak materi kuliah yang harus saya baca. Namun, karena keterusan membaca, akhirnya jadi malah overload informasi tentang homeschooling. Hehehe. Saya membaca dan terus membaca seperti orang kehausan informasi. Related articles-nya terus-menerus saya buka. Eh, ternyata di sana juga ada artikel ilmu parenting dan perkembangan janin, tidak terbatas pada sharing tentang homeschooling keluarga mereka saja. “Wah, super sekali blog ini”, pikir saya.
Website Rumah Inspirasi
Homepage Rumah Inspirasi. Sumber: rumahinspirasi.com
Sampai akhirnya saya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di semester pertama di kampus. Lalu tiba-tiba pertengahan bulan Januari lalu saya tidak sengaja melihat pengumuman di news feed Facebook bahwa Rumah Inspirasi akan mengadakan webinar. Webinar sendiri adalah seminar online. Kelas virtual yang mereka gunakan adalah wiziq.com. Namun, saat itu mereka belum resmi mengeluarkan poster.
Saya pun terkejut dan segera memberitahu suami bahwa akan ada webinar Rumah Inspirasi. Beberapa hari kemudian, posternya muncul dan saya langsung melihat harganya. Hmm, 280.000 full session dan 40.000 per sesi. Saat itu saya menimbang-nimbang, wah, sekarang harus izin suami kalau mau daftar webinarnya. Alhamdulillah suami mendukung dan berkata nanti kalau sudah ada uang boleh mendaftar. Yaaay! 
Webinar ini akan diadakan selama 10 sesi secara intensif setiap Selasa per pekannya, pukul 19.00-21.00 WIB. Materinya:
  1. Basic & Legalitas Homeschooling
  2. Model & Metode Homeschooling
  3. Persiapan Memulai Homeschooling
  4. Kurikulum & Pola Kegiatan Homeschooling
  5. Menyiapkan Pembelajar Mandiri
  6. Belajar Melalui Keseharian
  7. Memanfaatkan Internet dalam HS
  8. Evaluasi dalam Homeschooling
  9. Manajemen Keseharian HS
  10. Tanya Jawab, Sharing, dan Diskusi
brosur homeschooling webinar
Poster Webinar Homeschooling 2016

Seorang kenalan saya di grup Institut Ibu Profesional Surabaya pun membocorkan bahwa nanti akan ada banyak set materi webinar yang bisa di-download. Saya pun ditunjukkan screenshot-nya dan langsung tergiur. Nanti juga akan ada recording/rekaman webinar yang akan di-upload beberapa hari setelah per sesi webinar.

homescholing ebook
E-Book Homeschooling. Sumber: rumahinspirasi.com.

Beberapa hari setelah itu, suami berkata kalau sudah ada uang dan segeralah saya transfer untuk mendaftar webinar homeschooling full session ke support@rumahinspirasi.com.

Materi Webinar

"Pastikan Anda mendownload materi ini dan menyimpannya di komputer Anda. Materi ini hanya bisa diakses selama 6 bulan sejak awal masa akses.
Rumah Inspirasi memberikan lisensi kepada Anda untuk menggunakan produk ini untuk keperluan keluarga Anda. Anda diperbolehkan menyimpan dan mencetak produk ini sebanyak yang Anda butuhkan dan membuat cadangan (backup) produk ini untuk keperluan pribadi. Tetapi Anda tidak boleh menyebarkan produk ini kepada orang lain, baik melalui email, website, CD, atau melalui media-media lainnya.
Produk ini dibuat dengan sepenuh hati dan curahan banyak waktu, keahlian, dan biaya. Kami tentu saja tidak dapat mengawasi seandainya ada yang menyebarkan produk ini kepada teman-temannya (walaupun sebenarnya itu terlarang). Tapi kami percaya bahwa Anda akan menghormati ketentuan ini untuk kehormatan diri Anda sendiri, dan Anda akan menyarankan teman Anda untuk membeli sendiri produk ini, jika mereka menginginkan untuk mendapatkan salinannya."

Pra-Webinar

PODCAST

Podcast sharing homeschooling keluarga Vanda

Podcast sharing homeschooling keluarga Moi Kusman

Podcast sharing homeschooling keluarga Raken Asri

REFERENSI

SESI #1: Basic Homeschooling & Legalitas Homeschooling

Simulasi Webinar Homeschooling

Beberapa hari sebelum sesi pertama dimulai, kami diperkenankan ikut Simulasi Webinar Homeschooling yang seingat saya telah diadakan sebanyak 4 sesi. Di sana para peserta yang telah mendaftar mencoba mengetes tampilan layar, suara, dan mas Sumardiono (Aar) serta mbak Mira Julia (Lala). Sebelumnya saya pernah mendaftar webinar Institut Ibu Profesional, jadi ga begitu gaptek waktu simulasi kemarin, hehehe. Alhamdulillah simulasi berjalan lancar dan tidak ada masalah pada laptop saya.

Eh, ternyata waktu webinar sedang berlangsung, ada peserta yang menawarkan di kolom chat layar webinar untuk bergabung di grup Webinar HS 2016. Wah, saya langsung bersemangat! Ini berarti saya akan memiliki kenalan baru, bapak ibu om tante yang sedang, akan, dan sudah berkecimpung di dunia homeschooling. Yippie! Di grup itu kami pun melakukan perkenalan dan ternyata background serta asal daerah peserta memang dari seluruh Indonesia. Saya pun makin tidak sabar menunggu hari pertama dimulai. Oh ya, untuk berikutnya homeschooling akan saya singkat HS saja.

Webinar Sesi 1: Basic dan Legalitas Homeschooling

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Tak mau ketinggalan sedetik pun, saya sudah siap di depan layar WizIQ sejak pukul 13.00 waktu Mesir alias 18.00 waktu Indonesia. Segera saya klik buttonLaunch Class“. Ternyata kelas sudah dibuka namun hanya ada layar berjudul Basic & Legalitas Homeschooling serta backsound yang berganti-ganti.

19 - Tampilan WizIQ Webinar HS1
Tampilan saat akan “Launch Class’
1 - Basic & Legalitas Homeschooling
Basic & Legalitas Homeschooling
Teng! Tepat jam 19.00 WIB kelas dimulai. Kami disuguhi video tentang tokoh-tokoh dunia yang juga HS. Sebut saja dari kalangan ilmuwan: Thomas Alva Edison dan Alexander Graham Bell. Kemudian dari kalangan penulis, ada Agatha Christie dan Mark Twain. Disusul dari kalangan seniman ada Leonardo da Vinci dan Wolfgang Amadeus Mozart. Selanjutnya dari kalangan wirausaha ada pendiri McDonald dan KFC. Tentunya masih banyaaak lagi. Seingat saya juga zaman nabi dulu belum ada sekolah, ya. Jadi orang-orang zaman dulu juga HS, hehehe.
3 - Famous Homeschoolers
Famous Homeschoolers
Pak Aar pun menyambut para peserta yang kalau saya perhatikan jumlahnya sekitar 70an orang lebih dan menyebutkan materi serta submateri hari ini. Webinar ini akan dibagi menjadi 2 bagian yang diselingi oleh sesi tanya jawab.
2 - Materi Pembahasan
Materi Pembahasan: Basic & Legalitas Homeschooling
Berikut ini beberapa catatannya, tapi mungkin kurang bisa lengkap karena sempat saya tinggal buka handphone dan juga ngobrol sama suami, hehehe.

Bagian 1: Basic Homeschooling

4 - Alasan Memilih Homeschooling
Alasan Memilih Homeschooling
5 - Substansi Homeschooling
Substansi Homeschooling

Homeschooling = Pendidikan Alternatif

Education berasal dari kata educare (mengeluarkan). Yang paling krusial dari pendidikan, mengeluarkan potensi yang diberikan kepada anak-anak. Anak bukan kertas kosong. Anak adalah individu yang sudah memiliki potensi yang diberikan Tuhan.
6 - Homeschooling = Pendidikan Alternatif
Homeschooling = Pendidikan Alternatif
HS: mengeluarkan potensi anak-anak
Sekolah: mengajarkan anak-anak
Tugas orang dewasa/orangtua/guru bukan memasukkan, tetapi mengenali potensi anak, menstimulasi agar potensi itu keluar, memfasilitasi.
HS: Memilih sendiri materi, apa yang kita anggap penting, bisa memilih proses belajar modular.
Sekolah: Buku sudah jelas A, B, C, jam belajar jelas sudah jelas, kita tinggal mengikuti pola yang sudah ditentukan.
HS:
Fleksibiltas materi: materi bisa menggunakan buku, YouTube, aplikasi, game, dll.
Fleksibilitas waktu belajar: ditentukan keluarga sendiri, pagi, siang, sore, malam tergantung kesepakatan keluarga HS
Kita memiliki ruang yang besar untuk mempertanyakan semuanya. Segala sesuatu yang menurut kita tidak masuk akal.
Apakah jenjangnya harus kelas 1-12?
Apakah materi yang dipelajari harus itu?
Apakah cara belajarnya harus seperti itu?
Keluarga HS relatif akan bersikap kritis pada banyak hal. Bukan hanya ribut masalah seragam, kurikulumnya apa. Belajar bisa apa saja, tempatnya di mana saja, kapan saja. Bisa sambil tiduran, di dapur, dll.
HS adalah pendidikan alternatif yang memberikan kesempatan pada kita untuk melihat pendidikan yang berbeda dengan sekolah.

Homeschooling = Pendidikan Berbasis Keluarga

HS bukan lembaga. Jika ada lembaga yang menyatakan seperti itu, harusnya lebih tepat disebut sekolah komunitas atau sekolah fleksibel.
Apa beda HS dengan sekolah? Kalau kita memilih sekolah berarti mendelegasikan proses pendidikan kepada guru, mengirimkan anak-anak kita pada lembaga. Sedangkan HS, orangtua memilih sendiri untuk bertanggungjawab atas pendidikan anak-anaknya.
7 - Homeschooling = Pendidikan Berbasis Keluarga
Homeschooling = Pendidikan Berbasis Keluarga
Anak HS adalah anak-anak yang tidak bersekolah.
Apakah HS bisa digabung dengan sekolah? Secara istilah tidak. Inti HS adalah keluarga. Keluarga yang dianggap sebagai sentral dalam proses pendidikan. Tidak hanya di rumah.
Karena setiap keluarga unik, tidak ada dua model HS yang sama. Karena setiap keluarga memiliki mimpi dan pengalaman yang berbeda, latar belakang dan infrastruktur yang berbeda.
HS itu dibangun berdasarkan visi pendidikan keluarga.

 

Homeschooling vs Sekolah

HS dan sekolah sama-sama alat meraih tujuan pendidikan. Apa yang terbaik bagi keluarga, maka itu sah untuk dijalankan.

HS dan sekolah berbeda filosofi, konsep, dan cara beroperasi, antara HARUS vs BOLEH.
  • Sekolah: Delegasi ; HS: Mandiri
  • Sekolah: Terpusat, diatur oleh negara; HS: Terdistribusi
  • Sekolah: Standar; HS: Customized, tergantung minat dan kemampuan anak
  • Sekolah: Paket, harus lulus semua mata pelajaran; HS: Modular, seperti SKS waktu kuliah. Titik kuat maju terus, titik lemah dijalankan sesuai kecepatan anak.
  • Sekolah: Terstruktur, harus ikut aturan; HS: Fleksibel, boleh cari ijazah, boleh tidak cari ijazah, yang penting bertanggungjawab, yang penting ditujukan untuk meningkatkan kualitas diri anak.
8 - Homeschooling dan Sekolah
Homeschooling dan Sekolah

Peluang dan Resiko Homeschooling

Peluang
  • Fleksibilitas pendidikan
  • Fleksibilitas pendanaan: Biaya homeschooling seperti biaya makan, tergantung apa yang kita makan. Alokasikan budget misalnya 300.000 untuk anak sekolah. Nanti ketika kondisi ekonomi meningkat, bisa diganti sarananya. Bisa disesuaikan.
  • Kustomisasi: Suka menggambar, matematika, dll? Disesuaikan dengan minat anak.
  • Eksplorasi dunia nyata: Kesempatan HS bukan hanya di buku, di rumah, tetapi di dunia nyata, punya kesempatan main dan belajar di kebun, peternakan, lihat dunia nyata di stasiun atau di pabrik, anak-anak punya kesempatan magang.
  • Kedekatan keluarga
Resiko
  • Kompleksitas: Semua menjadi tanggungjawab kita sebagai orangtua, kita harus mikir semuanya, harus cari akal kalau anaknya tidak tertarik dengan yang kita tawarkan.
  • Minimnya infrastruktur: Perpustakaan, laboratorium, semua ada di sekolah. Klub-klub olahraga dll bisa dimasuki orang-orang HS. Banyak sekali kompetisi di sekolah.
  • Ketergantungan pada keluarga: Kalau orangtua cerai? dll
  • Tekanan eksternal: Ketidakpastian aturan-aturan dari pemerintah, banyak sekali keluarga yang menjadikan ijazah penting dalam HS.
9 - Peluang dan Resiko Homeschooling
Peluang dan Resiko Homeschooling

Pertanyaan tentang Homeschooling

Sosialisasi

  • Transfer nilai-nilai sosial
  • Keterampilan sosial: Karakter sosialisasi HS berbeda dengan anak sekolah. Ada dua jenis sosialisasi: pergaulan dengan anak seusia, sosialisasi vertikal/lintas usia. Anak HS menganggap tidak ada senioritas

Perguruan Tinggi

  • Bisa melanjutkan ke perguruan tinggi di Indonesia maupun luar negeri, ijazah paket A/B/C

Biaya

  • Biaya HS mahal atau murah? Tergantung. Kalau kita mengundang tutor, undang guru privat? Mahal. Menggunakan materi dari internet, gratis, ya murah. Jalan-jalan di sekitar rumah, ya murah. Jalan-jalan ke luar negeri, ya mahal. Menggunakan buku-buku second? Tidak masalah.

Disiplin

  • Disiplin sebenarnya adalah fungsi kontrol diri. Di dalam HS disiplin ini sangat lebar. Atlet adalah anak-anak yang disiplin, orang-orang kompetitif, tergantung apa yang ingin didorong oleh orangtuanya.
  • Kemampuan anak untuk mentaati peraturan. Kemampuan anak-anak untuk memahami konsekuensi sebuah tindakan.
  • Disiplin adalah solat 5 waktu, disiplin adalah melakukan jadwal sesuai yang disepakati, disiplin adalah kemampuan menghasilkan output. Tidak penting prosesnya bagaimana.
10 - Pertanyaan tentang Homeschooling
Pertanyaan tentang Homeschooling

Rangkuman Sesi Tanya Jawab bagian 1

Berikut ini beberapa tanya jawab yang semapt saya rangkum saat webinar sedang berlangsung. Terkadang terkendala suara yang putus-putus jadi tidak bisa dicatat semua.

 

Usia berapa anak bisa mulai HS?
HS bisa dijalani untuk ragam usia. Anak usia dini -> parenting, bukan akademis. Membangun pondasi psikologis. Di usia berapapun bisa.
Ada keluarga yang sangat terpola, tapi ada keluarga yang fleksibel. Kesempatan HS adalah mencoba apa yang terbaik dan mengujinya di lapangan. Alat ukurnya si anak itu sendiri. Orangtua harus mampu menyimak tanggapan anak terhadap kegiatannya.
Ada tools untuk membaca kemampuan anak?
Sebetulnya tools yang paling tepat adalah kedekatan anak-anak dengan orangtua. Anak tidak takut menjadi diri sendiri.
 
Karena ikut HS, anak hanya nurut sama orangtuanya?
Ketika kita menjadi orangtua HS, sangat concern dengan kualitas/akhlaknya anak. Bonding ikatan orangtua – anak, pelumas yang sangat penting, kita bisa ngomong apa saja dengan anak, dia bisa mendengarkan dengan santai, dan sebaliknya, itu adalah modal besar pada proses HS.
 
Bagaimana kalau SMA baru mau homeschooling?
OK. Fokus pada minat dan bakat anak. Menyiapkan anak ikut ujian paket C. Kalau anak tidak mau kuliah, kuncinya pada minat dan bakat.
Tahun ini anak sayaUNAS SD. Saat SMP HS atau sekolah saja?
Tidak ada yang bisa menjawab hal itu kecuali orangtuanya. Ketika memilih menyekolahkan anak, anak kita cocok dengan model persekolahan. Tetapi kita melihat anak mempunyai kekuatan di luar hal akademis akan tergerus ketika bersekolah, maka HS bisa menjadi pilihan.
HS dan sekolah sama-sama jalan untuk mencapai tujuan. Tujuannya apa dan tentukan naik apa menuju ke sana.
Bagaimana HS efektif pada orangtua yang keduanya bekerja?
Sekarang ada banyak jenis sekolah: sekolah komunitas, sekolah alam, pesantren, kuttab/sekolah agama.
Why homeschooling? Mengenali konsekuensi dari pilihan.
Manajemen proses belajar. Ketika orangtua dua-duanya bekerja, apakah proses belajar anak bisa digeser waktunya menjadi sore, atau kemudian ada partner misal nenek atau kakek atau tante, dll. Anaknya sudah cukup besar dan andiri, dll.
Kalau ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) ingin HS, ketika HS maka orangtua terlibat aktif. Meng-customize sesuai kekuatan anak.
Resiko HS untuk anak SMP dan SMA?
HS dilakukan segala rentang usia. Ada podcast keluarga Moi Kusman di Serang yang anak-anaknya baru mulai HS waktu SMP.
Beli buku-buku pelajaran di toko buku, mengerjakan soal, dan didokumentasikan. Mengukur kenaikan kelas anak-anak kita.
 
Bagaimana jika orangtua psikologinya belum kuat?
Sama-sama belajar. Anak-anak adalah guru yang dihadirkan Tuhan untuk kita. Kita belajar dari mereka tentang kesabaran, dll. HS = teaching ourselves.
Parenting ialah proses belajar yang tanpa henti. Yang penting mau sama-sama belajar.
***

Resume Podcast Mitos Homeschooling

Sebelum hari H webinar, para peserta diberi set materi untuk hari H. Kami mendapatkan beberapa podcast tentang pengalaman HS dari beberapa keluarga, seperti Moi Kusman, Vanda (Ibu diaspora dengan 4 anak lelakinya), dan Raken Asri (HS berbasis Islam). Semuanya memiliki latar belakang yang berbeda. Juga ditambah peraturan Kementrian Pendidikan tentang Sekolah Rumah, serta peraturan lainnya.

 

Dan inilah resume dari rekaman podcast yang saya dengarkan beberapa hari sebelum webinar:

1. Orangtua yang menjalankan homeschooling pastilah super [?]

Kalau menjalankan homeschooling, pasti orangtuanya super, alias superparent. Pandai, jenius, hebat, yang tidak biasa. Atau super nekat?
Mitos ini membuat sebagian keluarga menjadi takut atau ragu menjalani homeschooling (HS). Padahal, keluarga HS sama seperti keluarga lainnya.

Hebat? Betul. Karena mereka mau berkomitmen dan bekerja keras.

Kehebatan itu Anda miliki. Karena mereka berkomitmen untuk menjalani hal yang mereka yakini terbaik untuk anaknya.
Proses dan sebagainya tidak berbeda dengan keluarga yang lain. Orangtuanya sama-sama memiliki cinta, kadang marah, kadang naik, turun, semangat, malas, dan lain-lain.
Sangat sabar? Nggak juga sih.
Yang paling menarik adalah komitmen untuk terus belajar. Walaupun mereka adalah keluarga biasa, tidak jenius, tidak istimewa, tidak luar biasa. Tetapi keluarga-keluarga ini SENANG BELAJAR. Itu yang membuat proses HS bisa dijalani dengan baik.
Jangan bayangkan HS itu seperti sekolah, di mana orangtua mengajarkan anak semua mata pelajaran.
HS itu memfasilitasi anak-anak belajar. Tugas penting orangtua dalam HS yang sangat krusial adalah:
  • Menyediakan lingkungan yang membuat anak-anak senang belajar, nyaman bertanya, senang berkegiatan.
  • Menjadi partner yang memfasilitasi, menjadi teman untuk diskusi, ngobrol.
  • Membimbing anak untuk menjadi pembelajar mandiri.
Kalau orangtua tidak menguasai mata pelajaran, bisa dibantu oleh pihak lain. Orangtua adalah kepala sekolah, manajer, fasilitator, bukan sebagai sumber ilmu. Sumber ilmu bisa dari internet, video, kursus, siapapun dan dimanapun. Jadi, HS bisa dijalankan oleh orangtua super itu MITOS.
“Saya ga terlalu pinter fisika, nanti gimana kalau pelajaran fisika?” Ada juga orangtua HS yang memiliki latar belakang di bidang keguruan, tapi banyak juga yang tidak memiliki keahlian mengajar. Pokoknya senang belajar.
Anak-anak punya sifat natural untuk ingin tahu. Fasilitasi itu. Ternyata semua orangtua bisa, kuncinya memang yakin bahwa HS adalah jalan yang cocok untuk keluarga.

2. Anak-anak homeschooling lemah, manja, tidak dispilin, tidak bisa kompetisi, karena selalu terfasilitasi [?]

HS itu berhubungan dengan pemahaman orangtua dan kemampuan orangtua mengasuh. Kualitas HS dipengaruhi kualitas parenting.
Saat orangtua memilih HS, biasanya orangtua melakukan proses pembelajaran tentang parenting. Pasti mereka tidak akan membiarkan anaknya menjadi anak-anak yang manja, ingin menjadi anak-anak yang terbaik sebagaimana yg diciptakan Tuhan.
Tidak ada keluarga yang sama di setiap HS.
Banyak anak HS yang atlet, juara renang indah, dll. Tergantung pada orangtua bagaimana mendidik, mengasuh, dan mengajari anak-anak mendapatkan nilai terbaik.
Anak yang sekolah juga bisa lemah, manja, tidak dispilin, tidak bisa kompetisi karena parenting-nya tidak sesuai.
Ada keluarga yang membangun disiplin dengan cara bangun pagi. Ada juga disiplin ga penting waktunya, yang penting output-nya. Macam-macam bentuknya.
Contoh lain, ada keluarga yang punya kebiasaan membawa anak-anak ikut belanja ke pasar tradisional. Tempatnya tidak nyaman, bau. Menjadi proses menanamkan empati, kekuatan hati, sehingga mereka dekat dengan dunia nyata, masyarakat sekitar.

3. Nanti kalau homeschooling, bisa kuliah ga? Bisa kompetisi saat kuliah ga? [?]

Anak-anak HS tidak ada masalah untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Tapi harus punya ijazah paket C. Harus disiapkan.
Di perguruan tinggi/saat kuliah, anak-anak HS malah sangat antusias karena mungkin mereka baru pertama kali berada di kelas. Mereka malah bersemangat.
Pada saat belajar sampai SMA mereka juga ikut kegiatan yang lain, klub lain, ketemu orang juga. Jadi, tidak ada masalah dengan sosialisasi.
Kemampuan orangtua untuk merancang kegiatan, memfasilitasi itu menjadi kunci HS.
***

Beberapa menit kemudian saya tinggal salat Ashar, tapi saya suruh suami mendengarkan dan men-screencapture bagian yang saya ketinggalan. Dia pun melakukannya sambil tetap mengoding.

Bagian 2: Legalitas Homeschooling

Bagian selanjutnya ialah Legalitas Homeschooling. Ternyata HS masuk dalam 3 jalur pendidikan lho, dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Yaitu dalam kategori Pendidikan Informal (keluarga & masyarakat). Dalam set materi yang diberikan oleh Rumah Inspirasiterdapat beberapa file:
  • Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
  • Checklist Indikator Perkembangan Anak 0-6 Tahun dari Diknas
  • Kurikulum 2013 untuk SD, SMP, dan SMA
  • Parameter Anak 0-5 Tahun (Sumber: Buku Slow and Steady Get Me Ready oleh June R Oberlander)
  • Peraturan Kementrian No. 58 Tahun 2009
  • Permendikbud No. 129 Tahun 2014 tentang Sekolah Rumah

 

Yang paling saya senangi adalah indikator tumbuh kembang anak per kategori usianya. Yummy!

11 - Sistem Pendidikan Nasional
Sistem Pendidikan Nasional
12 - Peraturan Mendikbud tentang Sekolah Rumah
Peraturan Mendikbud tentang Sekolah Rumah
13 - Ujian Kesetaraan
Ujian Kesetaraan
14 - Sekolah Payung
Sekolah Payung

Nah, kita juga bisa mengikutkan anak ke ujian kesetaraan bertaraf internasional seperti Ujian Cambridge. Jadi nostalgia, nih. Dulu saya pernah merasakan ujian IGCSE untuk Bahasa Inggris saat SMA. Kategorisasi nilainya dari A, B, C, D, E, F, G, dan Ungraded. Beruntung masih dapat C, hehehe. Buat yang ingin tahu lebih lanjut tentang ujian Cambridge ini silakan buka www.cie.org.uk, di sana ada jenis, tingkatan serta silabus ujian.

15 - Ujian Cambridge
Ujian Cambridge
16 - Dari Homeschooling ke Sekolah
Dari Homeschooling ke Sekolah
17 - Tips Legalitas
Tips Legalitas
Setelah bagian dua ini selesai, ada sesi tanya jawab tentang legalitas HS. Namun, saya hanya mendengarkan dan tidak sempat mencatatnya. Saya juga baru tahu kalau mau punya ijazah paket C, harus punya ijazah paket B dulu. Begitu pula kalau mau punya ijazah paket B, harus punya ijazah paket A dulu. Hehehe.
Eh, di akhir webinar, di saat saya mulai kurang fokus mendengarkan lagi (karena sudah membuka layar yang lain), suami malah mengingatkan saya,
K (suami): “Eh apa tuh, gratis gratis? Coba liat.”
E (saya): “Hah apa?”
K: “…”
E: “Waaaah buku ini! Aku kan udah pengen dari dulu!!!”
Seketika saya histeris, menunjuk-nunjuk layar webinar, lalu teriak ke suami.
K:”Eh, syaratnya apa?”
E: “Tuliskan pengalaman webinar dan ringkasan materi webinar homeschooling sesi #1. *sambil membaca peraturan di layar*”
K: “…”
E: “Lah, dari kemarin sejak baca materi-materinya sebelum webinar kan aku udah nulis ringkasannya.”
K: “Ya udah, ikut!”
Jadilah saya mengikuti tantangan ini, karena memang sudah lama ingin punya buku “Apa itu Homeschooling” ini. Semoga beruntung, deh. Aamiin.
18 - Berbagi Edukasi tentang Homeschooling
Berbagi Edukasi tentang Homeschooling

Lessons Learned

Sejak mendengarkan dan membaca sumber-sumber tentang HS, saya mendapatkan kesimpulan bahwa:

  • HS adalah pendidikan oleh keluarga, berbasis rumah, berfokus anak.
  • Banyak motivasi yang membuat sebuah keluarga memutuskan HS.
  • HS itu membuat anak dan orangtua sama-sama saling belajar.
  • HS tidak membuat anak gagap sosial.
  • Murah mahalnya biaya HS tergantung keluarga kita sendiri.
  • Harus bisa meluruskan niat, jangan karena ingin dipuji orang, yang penting lakukan dan berikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
  • HS harus didasari niat dan komitmen orangtua yang kuat, dipersiapkan sebaik mungkin, didiskusikan dengan pasangan, sekompak mungkin. Sebaiknya sebelum memiliki anak sudah memikirkan bagaimana caranya mendidik anak nanti, persiapkan kurikulumnya, supaya nanti tinggal menyesuaikan dan melaksanakan.
  • Orangtua HS harus SENANG BELAJAR, terus semangat belajar.
  • Kita sebagai orangtua harus bisa mengomunikasikan dengan baik ke keluarga besar dan lingkungan bahwa HS adalah pilihan yang terbaik untuk anak-anak kita.
  • HS adalah FREEDOM OF LEARNING dan ini LEGAL 🙂 Belajar di mana saja, dengan siapa saja, kapan saja.
  • Orangtua adalah kepala sekolah di HS keluarga.
  • Orangtua hanya memfasilitasi. Di HS anak dibiarkan bebas mengeluarkan potensi-potensinya.

***

Terima kasih sudah mau membaca pengalaman webinar dan ringkasan materi sesi 1 ini. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati sistem webinar seperti ini. Selain itu pematerinya (Pak Aar dan Mbak Lala) sangat ramah dan mau menjawab semua pertanyaan dari peserta.

Semoga jika masih diberi kesempatan, saya bisa menulis lagi 9 sesi selanjutnya. Tunggu ringkasan sesi selanjutnya, ya. Bagi yang terlambat belum mendaftar, semoga bisa ikut lagi di lain waktu, atau baca-baca saja dulu website Rumah Inspirasi dan dengarkan podcast gratisnya di SoundCloud 🙂

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

    1. Terima kasih sudah membaca, Pak Hadi 🙂 Sampai ketemu di webinar selanjutnya lagi Pak. Silakan buat resume juga Pak 😀

  1. Inspiring!

    Ternyata aplikasi HS itu sebagiannya seperti apa yang sudah kami sekeluarga lakukan. Tinggal rebut sebagiannya lagi yg didominasi lingkungan luar 😀

    Doakan aku ya! *TakeshiCastleMode :p

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: