Begini Rasanya Menjadi Working-at-Home Mom (WAHM)

Setelah menikah pada Juni 2015 hingga bulan September 2016, saya tidak bekerja sama sekali. Sepenuhnya kehidupan saya ditanggung oleh suami. Bukan lagi oleh kedua orangtua saya.

Saya hamil di Mesir dengan kondisi kuliah hingga kandungan berusia 5 bulan. Lalu saya pulang ke Indonesia untuk cuti kuliah. Saat itu yang saya lakukan untuk menambah penghasilan suami hanyalah berjualan buku Twin PathTetapi, ceritanya berbeda ketika saya sudah akan melahirkan…

 

Menerima Panggilan Kerja Jarak Jauh

Saat itu akhir bulan Mei 2016, saya iseng membuka akun LinkedIn saya. Lho, kok ada message penawaran dari CEO Grya.co.id. Padahal saya sudah tidak mau bekerja lagi pada waktu itu. Saya ingin fokus mengurus anak dulu. Beliau berkata Grya, sebuah startup home and living e-commerce sedang mencari freelance writer. Akhirnya saya balas. Saya minta izin pada suami. Suami pun tak langsung menyetujui. Akhirnya setelah dilakukan wawancara by phone dan beberapa kali lewat chat WhatsApp pada awal bulan Juni 2016 dan Juli 2016, akhirnya pada bulan September 2016 saya resmi diterima bekerja di Grya. Alhamdulillah. Saya diberi surat bermeterai lewat e-mail oleh Pak Bos.

Saya berpikir, hmmm, saya sudah bermaksud fokus mengurus anak dan rumah tangga saja, tapi kok malah dapat pekerjaan, ya? Pasti Allah punya maksud, nih. Saya pun bingung. Apa yang harus saya lakukan? Di sisi lain saya sudah gatel ingin menulis untuk konsumsi publik (selain di blog). Di sisi lain saya merasa ga sanggup kalau nanti punya bayi sambil bekerja. Ternyata setelah saya meniatkan bismillaahirrahmaanirrahiim yaa.. semuanya berjalan dengan lancar dan Allah memberikan kekuatan.

Saya mulai bekerja lagi sejak si kecil, Kindi, berusia 3 bulan. Menurut saya itu usia yang pas untuk seorang ibu kembali bekerja, karena sang ibu sudah paham cara mengurus bayi, sudah paham ritme hidup dengan gandolan baru. Nah, suami pun mengizinkan saya. Saya juga bercerita kepada kedua orangtua, mertua, serta adik dan adik-adik ipar saya. Mereka pun mendukung. Alhamdulillah. 

Saat ini saya paham. Berarti jalan hidup saya ada di dunia menulis. Setelah resign dari Rooang.com pada Juni 2015 lalu karena menikah, saya ternyata dipanggil lagi untuk menulis di website yang masih berbau arsitektur dan interior. Saya berpikir, alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu di bangku sarjana dulu. Minimal walaupun saya menjadi ibu rumah tangga, tapi saya masih bisa bermanfaat bagi orang di luar sana walaupun dari rumah, walaupun itu menulis. Saya jadi ingat, dulu saat hamil saya pernah tanya kepada suami apakah saya harus bekerja atau tidak. Ternyata beliau menjawab tidak perlu, saya hanya harus berkarya saja. Entah itu menghasilkan uang atau tidak. Jawaban yang sangat menenangkan, bukan.

Deg-Degan Saat Menulis Artikel Pertama

Artikel pertama saya… hmm.. enaknya nulis apa ya? Begitu pikir saya waktu itu. Saya kebingungan banget. Udah lama ga nulis buat publik, nih. Akhirnya saya lihat buku yang saya pegang. Saat itu saya tengah membaca The Life-Changing Magic of Tidying Up tulisan pakar beres-beres rumah asal Jepang, Marie Kondo. Selengkapnya silakan lihat KonMari. Buku itu saya beli di Purwokerto dan saya baca di rumah suami di Banyumas. Akhirnya saya usulkan kepada Pak Bos bahwa saya ingin menulis tentang beres-beres rumah. Beliau bilang, silakan dicoba. Yey! Akhirnya saya gas pol menulis dengan senang hatiiiii dan akhirnya traffic-nya menjulang tinggi. Pageviews-nya 6000 di website Grya! 🙂

Tentang Penghasilan

Saya paham, dalam Islam, uang istri adalah uang istri, tetapi uang suami adalah uang istri juga. Enak, ya? Hehehe. Islam memang adil, kok. Saya juga apa-apanya masih dibiayai suami. Saya yakin bahwa suami memegang kendali penuh untuk urusan menghidupi anak dan istrinya. Maka, saya yang bekerja dari rumah ini hanyalah rezeki bonus.

Selama 3 bulan ini pun penghasilan saya juga digunakan untuk bantu-bantu kebutuhan keluarga, kebutuhan Kindi walaupun buat beli asupan pengetahuan alias buku, sudah pasti, yaaa.. Hehehe. Ya, pengen beli karpet buat anak dan tanaman artifisial untuk dipajang di meja telpon, pakai duit saya. Sesederhana itu saja.

Walaupun penghasilan saya tentu tidak sebanding dengan penghasilan suami, tetapi saya bersyukur. Saya enjoy menulis artikel tentang arsitektur dan interior. Khususnya home decor. Mau tahu tulisan saya? Pantengin saja Grya.co.id tepatnya di sini.

Tidak semua lulusan jurusan arsitektur harus praktek di lapangan, kan. Saya jadi teringat saat magang di Imelda Akmal Architecture Writer Studio pada 2013 lalu, di sana saya kagum pada ketekunan Bu Imelda dalam menekuni passion-nya di dunia penulisan dan penerbitan buku arsitektur. Ketekunannya itulah yang membuatnya sekarang terkenal sampai ke seluruh dunia berkat buku-buku arsitektur dan interior yang ditulisnya.

Manajemen Bekerja dari Rumah

Eits tapi pada prakteknya tidak mudah, lho. Saat ide sudah membuncah di kepala, saat mood menulis sudah bintang lima, ketika si kecil menangis! Zap! Buyar sudah bayangan indah untuk ber me-time sambil menulis. Kalau sudah begitu, yang bisa saya lakukan adalah menutup laptop dan kembali ke kamar menemani si kecil.

Saya dapat jatah wajib menulis 2 kali seminggu. Bukan hal yang mudah, karena harus mencari informasi dulu, menunggu list barang yang available untuk promo hari itu apa saja, dan juga berkoordinasi jarak jauh dengan tim lain. Grya kan based in Jakarta, jadi saya harus menggunakan aplikasi Basecamp dan WhatsApp untuk berkoordinasi dengan mereka. Bagus, sih. Jadi saya ga cuma kenal Trello saja untuk project management tool. Hihihi saya belajar banyak jadinya. Nanti deh, kalau sempat saya kasih tutorial pakai Basecamp.

Baca juga: Aplikasi Trello untuk Proses Kehamilan dan Kelahiran Bayi

Tantangan dalam Menulis 

Writer’s block! Kalau kehabisan ide, apa yang saya lakukan? Hmm… ubek-ubek Pinterest, lihat-lihat subscribed sites di Feedly, atau sekedar main ke situs arsitektur dan interior Indonesia yang banyak banget jumlahnya. Kalau ga, triknya, apa sih yang ingin saya ketahui dan pelajari? Ya itu yang akan saya tulis. Sesederhana itu. 

Satu lagi, kalau di Grya, hanya boleh nulis artikel sebanyak 300 kata saja. Wah itu berat buat saya yang selalu nulis panjang lebar seperti ini. Alhasil harus diseleksi lagi, deh mana hal yang perlu ditulis, mana yang ga perlu.

Membagi Waktu dengan Kesibukan Lain

Oh ya, mulai pertengahan Oktober hingga Desember 2016 ini saya juga sedang mengikuti kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional. Jadi saya harus membagi waktu antara belajar menjadi Ibu Profesional, menulis, dan mengurus rumah tangga. Saya mencoba menjalani semuanya dengan enjoy dan tanpa beban. Saya berpikir kalau saya melakukan tahap Bunda Sayang dan Bunda Cekatan secara maksimal, insyaAllah saya bisa menjadi Bunda Produktif dan Bunda Shaleha. Aamiin. 

Baca juga: Nice Homework #1 Matrikulasi Institut Ibu Profesional: Adab Menuntut Ilmu

Ada cerita apa tentang keseharianmu, Moms? Bekerja di ranah domestik, bekerja remote seperti saya, atau di luar rumah? Bagi ceritanya, dong di kolom komentar 🙂 Mari berbagi, Moms. Sharing is caring!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

2 Comments

  1. Mbak.. rumahnya cantik deh.. #gagalfokuslihatgambarnya hehehe
    Eh tapi saya selalu senang kok bermain ke blog mbak, Kagum dgn kemampuan nya mengolah bahan tulisan sehingga jadi tulisan yg ciamik hehe.. Its good to hear you enjoy the new working.. mudah-mudahan tetap bisa amanah ya. kalau saya masih meraba-raba manajemen waktu yg bener. suka gampang ke distract sm urusan2 ga penting.. hikss

    1. Waah saya juga tiap hari baca blog mbak lho diam-diam 😀 Itu bukan rumah saya mbak, itu gambar ngambil dari unsplash.com, bagus2 dan free, lho. Iya semoga bisa amanah dan tetap mengurus rumah tangga. Kalau saya sekarang ga pakai sosial media (fb, twitter, tumblr, IG) jadi ga gampang kedistract kayak dulu. Oh ya, mbaknya lagi kerja apa sekarang? Selamat ikut kelas matrikulasi IIP ya 🙂

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: