Belajar Matematika Ada Tahapannya

Gara-gara dapat tugas dari Institut Ibu Profesional tentang matematika logis, saya jadi ga begitu merasa horor saat mengenalkan matematika ke anak.

Padahal kalo jadi ibu kan harus suka matematika, ya. Minimal buat ngitung duit belanja. Xixixi. Nah, di tantangan hari ini, saya mau cerita tentang apa yang dilakukan si kecil dengan matematika di dunianya.

Melafalkan Angka Satu Sampai dengan Tiga

Sejak seminggu lalu saya mencoba berkata, “Saaa..tu, duuu..a, tiii..ga” sesering mungkin. Baik saat berbicara biasa, saat mendongeng, bahkan saat dia bermain dan berkeliaran di alam. Saya ingin di usianya yang baru bisa meniru ini, paling tidak dia bisa melafalkan 1-3. 

Alhamdulillah lumayan, kalo saya bilang “sa..” dia jawab dengan “tu..”. Cuma kalo “du..” dijawab “ta..”, wkwk. Duta sheila on 7, Nak? Gapapa lah yang penting udah tau dikit-dikit. Lalu “ti..” dia jawab, “da..”. 

Kenapa sih saya getol banget pake metode ini? Yaa karena anak akan berbicara kalau kita banyak kasih stimulasi pendengaran alias suara. Kalau kita jarang bicara, ya mana anak kita bisa bicara, hehe. Makanya jangan dikasih gadget dulu ya, Moms! 

Fase peniruan ini juga terjadi di ranah sikat gigi. Alhamdullilah akhirnya dia mau sikat gigi sendiri. Tapi kalo soal ini, kemampuan matematikanya belum saya asah. Lihat dia menikmati pegang skkat gigi aja sudah bikin saya trenyuh dan takjub.

Mengenalkan angka satu, dua, tiga untuk sementara. Belum mengenalkan lambangnya. Ke depannya saya ingin dia tahu bahwa 1, 2, 3 itu adalah banyaknya jumlah sebuah benda. Saya akan menggunakan buku yang berjudul 123 terbitan Priddy Books ini:

Sumber: EBay
Oya, back to mathematics. Pagi hari tadi kami pergi ke Sunday Morning UGM. Di sana si kecil tidak melakukan apa-apa selain makan opor sama kami. Tapi setelah makan, kami pergi ke taman baru depan Masjid Kampus UGM, baguus banget tempatnya. Asri! Ads jembatan, amphiteater kecil, sungai, jogging track, dan lain-lain. Lumayan agar si kecil bereksplorasi dari segi sensori dan motoriknya.

Ia memegang pasir, daun kering, batu, kerikil. Dia juga jalan-jalan sebebas-bebasnya, naik dan turun tangga.

Setelah itu kami pergi ke Gramedia Jogja. Di sana kan bertebaran buku-buku, nah dia senang sekali mengambil buku di rak dan menjatuhkan buku di lantai. Membawa-bawa beberapa buku, lalu diletakkan di rak yang lain. Pikir saya, sekalian saja saya kenalkan tentang klasifikasi buku. Bahwa buku yang sama harus dikembalikan ke tempatnya. Coba cari yang sama dan letakkan. Eh ternyata dia bisa, walaupun belum presisi. Ga apa-apa, Nak, coba lagi dan coba terus. 

Akhirnya dia tetap “onar” di Gramedia. Keliling, jalan-jalan antar gang rak buku, sembari saya dan suami bercengkerama sendiri ngobrolin buku yang baru. 

Pulangnya, kami mampir ke Perpustakaan Kota Jogjakarta. Di sana dia bermain di ruang anak. Banyak sofa, buku-buku, rak ensiklopedia. Dia belajar memanjat. Pindah dari satu rak ke rak di atasnya. Sstt untung ga ada orang yang lihat. Dalam hati, saya takjub kok dia bisa manjat sampai setinggi itu. Wah, berarti perhitungannya dan logikanya sudah mulai dipakai, nih. Kalau naik atau turun, dia juga sudah waspada dan selalu mencari pegangan. Sudah jarang jatuh. Tetap hati-hati ya, Nak.

Nah, ternyata benar. Kalau dicomot dari materi Camilan Rabu Bunda Sayang, tahap perkembangan anak usia 0-2 tahun ini belum pada tahap berpikir abstrak. Mereka butuh banyak merasa, menyentuh, bergerak, mendengar, melihat, mengenal semua yang ada di dunia ini. 

πŸ”…Tahap Sensori-motor (0-2 tahun)
Biarkan anak berinteraksi dengan lingkungannya, mengenal berbagai benda, suara dan keadaan. Anak akan mengasimilasikan skema sensori-motor sedemikian rupa dengan mengerahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrium yang memuaskan kebutuhannya.

Usia 0-1 tahun, anak suka mengamati apa saja yang ada disekitarnya yang dapat dijangkau dengan mudah. 

Selengkapnya baca ulasan ini:

πŸͺCemilan Rabu Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 26 Juli 2017 πŸͺ

πŸ”…Tahapan perkembangan Kognitif (Logis-matematis)πŸ”…

Kemampuan Logis matematis merupakan ranah kognitif. Kognitif adalah salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972).

Jauh sebelum anak berurusan dengan simbol abstrak dan rumus, ia akan menemukan matematika dalam berbagai benda yang dilihat dan disentuhnya. Semakin berkembang pengetahuan anak, apalagi dengan stimulasi yang tepat dari orangtua dan lingkungannya, anak akan semakin mampu menerapkan dasar-dasar konsep matematika seperti mengklasifikasi, membandingkan, menyusun urutan dan berhitung.

Tahap Perkembangan Kognitif manusia (versi Piaget) dan capaian Logis matematisnya (dari berbagai sumber)

πŸ”…Tahap Sensori-motor (0-2 tahun)
Biarkan anak berinteraksi dengan lingkungannya, mengenal berbagai benda, suara dan keadaan. Anak akan mengasimilasikan skema sensori-motor sedemikian rupa dengan mengerahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrium yang memuaskan kebutuhannya.

Usia 0-1 tahun, anak suka mengamati apa saja yang ada disekitarnya yang dapat dijangkau dengan mudah. 

Usia 1,5 –  2,5 tahun anak memiliki kemampuan object permanence (ketetapan adanya benda) sehingga dapat mulai mengklasifikasikan obyek berdasarkan warna, bentuk dan fungsi. Apabila anak mulai berbicara, kesadaran terhadap konsep besar dan kecil akan berkembang dan memasuki tingkatan konsep lebih besar atau lebih kecil dengan membandingkan berbagai benda.

πŸ”…Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Muncul kapasitas kognitif baru yaitu representation (representasi), atau gambaran mental. Anak dapat berpikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada di luar jangkauan panca inderanya.

Pada usia ini muncul gejala belajar berdasarkan titian akal (insight learning), anak mulai mampu melihat situasi problematik (memahami bahwa sesuatu mengandung masalah) dan berfikir sesaat, sehingga muncul reaksi β€˜aha’ dan ia mampu memecahkan masalahnya.

Kemampuan logis-matematis:
– mengenal konsep persamaan dan perbedaan (laki-laki perempuan, siang-malam,)
– mengelompokkan benda berdasarkan warna, jenis,
– menentukan posisi (luar-dalam, atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang)
– mengenal dan mengidentifikasi bangun geometri,
– menghubungkan ukuran dengan benda yang ada di sekitarnya,
– memperkirakan ukuran jumlah (panjang-pendek, berat-ringan, penuh-kosong)
– mengurutkan benda berdasarkan ukuran,
– mengamati perubahan bentuk cair-beku-uap-embun
– mengidentifikasi perubahan benda (rasa, bau, warna)
– Mengenal konsep waktu berkan kegiatan
– mengenal konsep hari
– mengenal konsep dan lambang bilangan 1-20

πŸ”…Tahap Konkret-Operasional (7-11 tahun)
Pada tahap ini anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berpikir). Kemampuan ini berfungsi untuk mengoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.

Sistem operasi kognitif yang meliputi:
🍑 Conservation (konservasi/pengekalan) adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek akumulatif materi seperti volume dan jumlah. Anak yang mampu mengenali sifat kuantitatif benda akan tahu bahwa sifat kuantitatif benda tersebut tidak akan berubah secara sembarangan.

🍑 Addition of classes (Penambahan golongan benda), kemampuan anak dalam memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yg dianggap berkelas lebih rendah, seperti mawar dan melati lalu menghubungkannya dengan bunga. Juga sebaliknya, dari tinggi ke rendah. Misalnya bunga menjadi mawar, melati dan seterusnya.

🍑 Multiplication of classes (pelipatgandaan golongan benda), kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda (misalnya warna dan tipe bunga) untuk membentuk gabungan golongan benda (misalnya mawar merah, mawar putih, dan seterusnya), juga kemampuan sebaliknya yaitu memisahkan gabungan golongan benda menjadi dimensinya tersendiri. Warna bunga mawar terdiri atas merah, putih dan kuning., dan seterusnya

πŸ”…Tahap Formal-Operasional (11-15 tahun)
Disebut sebagai perkembangan kognitif tahap akhir, pada usia ini anak menginjak remaja. Pada tahap ini seorang remaja dapat mengatasi keterbatasan pemikiran konkret-operasional sehingga ia memiliki kemampuan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif :
🍑Kapasitas menggunakan hipotesis. Dalam hal ini seorang remaja berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons
🍑 Kapasitas menggunakan prinsi-prinsip abstrak. Seorang remaja akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu agama (misalnya ilmu tauhid), ilmu matematika dan ilmu-ilmu abstrak lainnya dengan luas dan lebih mendalam.

Dua Kapasitas kognitif ini sangat berpengaruh terhadap kualitas skema kognitif karena pada tahap inilah seseorang dianggap telah mulai dewasa dan memiliki kedewasaan berpikir.

DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin. 2015. Psikologi Belajar. Rawajali Pers. Jakarta.

Kecerdasan logika-matematika Anak Usia Dini. http://ekacahyamaulidiyah.blogspot.co.id/2014/02/kecerdasan-logika-matematika-anak-usia.html

Masih semangat mengenalkan matematika yang ditemukan di sekitar kita kan, Moms?

Keep calm, keep your energy and patience tanks full πŸ™‚ 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: