Belajar Pengasuhan Anti Rempong dengan Menjadi Orangtua Pemandu Anak Bahagia

“Different kids have different needs.” – The Happy Kid Handbook

Hai, Moms! Kali ini saya akan kembali membahas buku-buku parenting yang semoga bisa memberikan pencerahan dalam pengasuhan anak.

Setelah beberapa kali membaca rangkuman (intisari) buku-buku luar negeri seperti:

img_0124.jpg

wp-image--813870944
via alodita.com

 

Saya jadi tertarik untuk membaca lebih banyak lagi audio intisari buku seputar parenting di aplikasi Blinkist.com.

Untuk saya yang sekarang waktu membaca bukunya sudah semakin habis, aplikasi ini menurut saya cukup membantu. Dengan aplikasi ini, kita bisa mengerti isi buku (impor) hanya dalam 10-15 menit. Ada beragam tema yang disuguhkan di Blinkist, mulai dari psychology, marketing, business, self-improvement, sampai parenting. Tentu saja saya yang baru jadi emak ini tertarik dengan tema parenting, dong.

 

wp-image--733541093
via Institut Ibu Profesional

 

Materi Institut Ibu Profesional kali ini adalah tentang Semua Anak adalah Bintang. Saya pun mencari buku yang cocok untuk pendukung materi ini. Tiba-tiba perhatian saya tertuju pada buku besutan Katie Hurley, seorang blogger di Practical Parenting. Ia juga penulis artikel di PBS Parents dan The Huffington Post. Saat ini ia tinggal di Los Angeles sebagai psikolog dan konselor, pakar parenting, dan ibu dari dua anak.

The Happy Kid Handbook: How to Raise Joyful Children in a Stressful World

Katie Hurley menulis buku The Happy Kid Handbook: How to Raise Joyful Children in a Stressful World. Judulnya sangat menggoda karena mencantumkan kata-kata “Stressful World”. Dunia kita saat ini memang dipenuhi dengan serangkaian berita buruk, judgement dari banyak pihak, pengaruh buruk dari media cetak dan elektronik, serta banyak hal buruk lainnya. Semua itu jika tidak kita manage dengan baik, akan mengakibatkan dampak buruk untuk diri kita, anak kita, dan keluarga.

The Happy Kid Handbook (2015) ini menjelaskan elemen kunci dari masa kanak-kanak yang membuatnya menjadi individu yang unik. Apakah anak kita introvert atau ekstrovert, poin-poin di buku ini akan memandu kita untuk memahami stress, emosi negatif, hubungan sosial dan pentingnya mencari ketenangan pada hidup mereka.

Jadilah Orangtua yang Adaptif

Banyak sekali saran dari orang-orang tentang bagaimana mengasuh anak. Semua orang memberitahu kita banyak hal. Kita lebih sibuk menilai mana teori yang benar, mana teori yang salah, tapi kita lupa untuk berkonsultasi dengan pakar terbaik dunia tentang kebutuhan anak-anak kita. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan anak-anak kita.

 

happy kid handbook
The Happy Kid Handbook via amazon.com

 

Hal ini bukan berarti kita harus memberikan semua yang anak-anak kita minta. Tahap pertama mengasuh anak yang bahagia dan percaya diri adalah mendengarkan dan mendorongnya untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan emosinya. Jika kita menyelaraskan diri dengan anak kita, maka ia akan mengajarkan kita bagaimana ia ingin dibesarkan.

Di buku ini juga dijelaskan tentang manfaat bermain dan bagaimana kita dapat melindungi anak kita untuk menghadapi dunia yang sangat penuh tekanan.

 

Bagaimana Cara Membagi Kasih Sayang dengan Seimbang

Katakan kita punya dua anak yang sama-sama manis. Satu perempuan, satu laki-laki. Kita mencintainya dan menyayanginya dengan seimbang. Kita membagi perhatian secara seimbang antara mereka berdua. Saking seimbangnya, kita tidak pernah memeluk anak yang satu tanpa memeluk anak yang lain. Lalu mengapa anak laki-laki kita tetap tidak mau saat kita mengajaknya bicara, dan mengapa dia sering tidak mau dipeluk?

Hal itu bisa terjadi karena kita tidak memenuhi kebutuhannya dengan cara yang tepat. Kenyataannya, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Different kids have different needs. Tanggungjawab kita sebagai orangtua untuk membesarkan anak sesuai dengan kepribadiannya.

Mungkin anak laki-laki kita tidak membutuhkan interaksi yang banyak dan sentuhan fisik untuk membuatnya bahagia. Namun, anak perempuan kita sangat membutuhkan stimulasi dan ingin ikut bersama kita sepanjang hari. Dengan mengabiskan waktu berbincang-bincang bersama anak perempuan dan lebih sedikit berbincang-bincang dengan anak laki-laki, itu tidak membuat kita menjadi tidak adil. Justru sebaliknya, kita sedang memastikan bahwa kedua anak kita sama-sama bahagia.

Kita butuh menghargai keinginan dan kebutuhan anak-anak kita, walaupun itu berarti tidak sesuai dengan keinginan kita.

Bukan tugas anak kita untuk memenuhi ekspektasi kita. Jadi, lakukan yang terbaik untuk merangkul semua aspek karakter anak kita.

Tidak ada teori yang one-size-fits-all dalam mengasuh anak.

Anak kita unik, dan penting untuk menghargai kebutuhannya. Bagaimana kita melakukannya? Dengan mempelajari mereka!

Children are unique.

Anak Introvert Membutuhkan Dorongan yang Lembut dan Keamanan untuk Membagi Perasaannya

Kebanyakan dari kita tahu ada dua kutub besar kepribadian yaitu ekstrovert dan introvert. Anak-anak introvert suka melamun dan pergi ke kamar untuk menyendiri. Membesarkan anak introvert memang menjadi tantangan tersendiri, namun ada dua strategi yang bisa membantu:

Pertama, sangat penting untuk membuat anak kita merasa nyaman membagi perasannya. Anak introvert memproses perasaannya di dalam (internal). Itu tidak apa-apa. Namun hal ini dapat menyebabkan masalah jika dia gagal meminta tolong jika dia memang butuh pertolongan. Mereka juga akan tetap tenang terhadap sesuatu yang mereka tidak sukai, menyimpannya sendiri hingga tidak bisa mengatasinya lagi. Ini akan menyebabkan ledakan emosi.

Mungkin anak kita bisa membuat kebiasaan berbagi emosi dengan menuliskannya di dalam Buku Perasaan. Coba tulis beberapa emosi, seperti: cinta, iri, bahagia, dan marah. Suruh dia untuk menggambar situasi di mana ia mengalami perasaan ini di buku tersebut. Diskusikan perasaan ini dan pengalaman anak kita. Teknik ini tidak akan menjadikan anak kita ekstrovert dalam waktu semalam, tapi akan menguatkan perasaannya bahwa ia aman untuk berbagi perasaannya kapan saja ia mau.

Kedua, coba kritisi ia secara lembut dan privat. Anak introvert memang sensitif dan mudah malu. Mengkritisi anak kita di depan umum dapat membuatnya ingin bersembunyi. Tunggu untuk membicarakannya secara privat, pastikan ia aman ketika mendiskusikannya dengan kita.

Bagaimana dengan Anak Ekstrovert?

Berbicara dan berbagi sesering mungkin adalah penting untuk anak ekstrovert. Mereka memproses emosinya secara eksternal dan akan membagi perasaannya dengan kita. Anak kita yang ekstrovert juga dapat menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik saat berbicara dengan kita daripada menyendiri di kamar.

Anak ekstrovert juga memiliki energi yang banyak. Aktivitas fisik seperti olahraga secara tim atau berjalan-jalan di taman, dia akan lebih tenang dan fokus setelah itu. Aktivitas kreatif seperti bermain boneka atau bermain bangunan adalah pilihan yang baik untuk meredakan energinya di dalam rumah jika hari hujan.

Anak ekstrovert butuh belajar skill relaksasi. Walaupun anak yang paling ekstrovert sekalipun tetap butuh waktu tenang. Namun, mereka biasanya tidak tahu bagaimana cara menanngkan diri. Inilah saatnya kita sebagai orangtua menolong mereka memilih cara yang tepat untuk menenangkan diri anak.

Bermain Akan Mengasah Kemampuan Sosial dan Emosionalnya

Apakah kita ingat bagaimana serunya bermain saat kita masih kecil? Kebanyakan dari kita sebagai orangtua tidak ingat. Inilah mengapa kita cenderung melihat bermain sebagai aktivitas yang buang waktu serta bisa menghalanginya dari mengerjakan PR dan hal penting lainnya. Padahal, bermain itu penting untuk kesehatannya.

pexels-photo-85599

Dari aktivitas bermain, anak belajar untuk berhubungan dengan orang lain, berbagi, dan bekerjasama. Ketika orang dewasa bertemu dengan anak untuk pertama kalinya, mereka akan mengenalkan diri, menjabat tangan, dan berbagi tentang apa yang mereka lakukan. Ketika anak bertemu dengan anak lainnya, mereka berhubungan dengan cara bergabung dengan permainan satu sama lain.

Anak-anak belajar untuk mengatasi konflik, membuat kompromi dan negosiasi dalam bermain. Dari memutuskan peran ketika bermain rumah sakit hingga bekerjasama membangun rumah pohon, anak memastikan permainannya tidak berakhir kacau dan menangis. Namun, kemampuan sosial bukanlah satu-satunya manfaat dalam bermain.

Bermain adalah cara yang paling baik bagi anak untuk memahami dan mengekspresikan perasaannya. Anak jarang terlihat sebahagia saat mereka lari berkeliling bermain bersama yang lain. Anak-anak yang tidak nyaman mengekspresikan kemarahan atau kesedihannya dapat menggunakan boneka, mainan, atau bermain pretend-play untuk mengekspresikannya. Dengan cara ini, bermain telah menjadi bagian terpenting dari terapi bagi anak.

 

Emosi Negatif Adalah Bagian Alami dari Kehidupan

Semua orangtua ingin anaknya bahagia. Namun, anak ternyata tidak butuh selalu bahagia. Ini sangat tidak mungkin. Yang paling penting, emosi negatif adalah pengalaman penting yang membuat anak tumbuh menjadi dewasa.

Banyak orangtua yang menolak ketidakbahagiaan anak. Mereka mengelompokkan emosi menjadi “baik” dan “buruk”, membuat sinyal bahwa takut, marah, cemburu, dan sedih adalah salah. Banyak orangtua yang tidak nyaman dengan reaksi negatif anak mereka.

Dengan pengalaman seperti ini, anak belajar bahwa yang diterima hanyalah berbagi emosi positif. Semua emosi, senang maupun sedih itu alami dalam pengalaman masa kecil anak-anak. Orangtua bertanggungjawab untuk membantu anak mengerti dan mengatasinya.

Anak yang lebih kecil, biasanya susah mengontrol emosinya. Mereka sering tidak bisa mengidentifikasi atau mengatur reaksinya. Orangtua berperan untuk membuat mereka merasa lebih nyaman kembali.

Jika anak menangis ketakutan, orangtua bisa mengatakan, “Nak, kamu sedang takut karena (…). Dia tidak akan melukaimu. Kamu aman di sini bersamaku.” Ini dapat membuat anak kita mengerti dari mana perasaan itu datang, apakah ini wajar dan juga dia aman untuk menghentikan perasaannya tersebut.

Anak Membutuhkan Role Model untuk Mengembangkan Kemampuan Empatinya

Pernah mengira mengapa bayi cenderung menangis jika mereka mendengar bayi lain di dekatnya menangis? Ya, bayi memiliki empati!

Namun, walaupun manusia sudah memiliki empati sejak kecil, seiring waktu berjalan, kemampuan untuk empati terhadap situasi menjadi sebuah kemampuan, bukan lagi insting. Di sinilah orangtua berperan menolong anak untuk mempelajarinya.

Mulailah dengan menjadikan diri kita yang empati. Jika kita tidak memiliki empati terhadap anak, jangan berharap dirinya akan menjadi pribadi yang penuh empati. Tunjukkan pada anak kita empati dan mereka akan melakukan hal yang sama. Hargai perasaannya, dengarkan mereka tanpa menginterupsi dan tunjukkan pada mereka bahwa kita mendengarkan dan menyayangi mereka.

Kita juga bisa meminta anak yang lebih tua atau teman, guru, saudara laki-laki dan perempuannya sebagai role model alami untuk anak yang lebih muda. Suruh mereka untuk menolong anak kita mempelajari pentingnya empati. Bisa dengan mendorong mereka untuk berbagi emosinya dengan mereka atau membicarakan mengapa mereka harus berempati.

 

Menjadi Orangtua Pemandu Anak yang Bahagia

“No one cares how much you know, until they know how much you care.” – Theodore Roosevelt

Membesarkan anak kita dengan benar adalah tentang mengizinkannya untuk maju, daripada banyak melarangnya. Ketahui kepribadian uniknya dan pelajari kebetuhan khususnya. Jadilah role model yang dapat mereka tiru dan berikanlah mereka kebebasan untuk bermain dan bertumbuh.

Saya jadi berharap ada sebuah metode pengasuhan yang benar-benar anti rempong alias gak ribet atau anti stress. Apakah itu benar-benar ada? Setelah mencoba mengikuti seminar dan membaca buku Parenting Nabawiyah serta Fitrah Based Education, sepertinya saya menemukan jawabannya.

a4c3fb12-141f-4ac4-be53-ae1625ebfc91-410-0000001fbf9ac7b4
Fitrah Based Education oleh Ustadz Harry Santosa

 

Ternyata memang ada metode pengasuhan anti stress. Semua sudah diatur di dalam agama Islam. Tidak ada suri tauladan terbaik selain Rasulullah SAW. Oleh karena itu, saya yakin metode parenting nabawiyah tidak akan salah. Begitu pula dengan Pendidikan Berbasis Fitrah atau Fitrah Based Education. Fitrah anak tidak pernah salah. Hanya kita sebagai orangtuanya yang suka ‘membunuh’ fitrahnya. Bahkan sejak anak baru lahir.

Di masa yang serba ribet ini, kita harus pintar memilah mana yang perlu untuk kita, mana yang tidak perlu. Jadilah orangtua yang tenang (rileks) dan optimis sehingga dapat memandu tumbuh kembang anak dengan bahagia. Anak yang kita pandu pun juga insyaaAllaah akan bahagia.

Kita sebagai orangtua adalah fasilitator saja. Bebaskan anak bereksplorasi sesuka hati. Jangan terlalu banyak melarangnya untuk melakukan ini-itu. Awasi dan perhatikan. Fasilitasi kebutuhannya. Happy parents raise happy kids!

Sekian cerita mengenai buku The Happy Kid Handbook kali ini, jika ada kesempatan, saya ingin sharing tentang banyak buku parenting lainnya. Buku parenting apa saja yang sudah kalian baca atau ketahui, Moms? Saya mau tahu dong, supaya bisa beli atau baca juga.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: