Birth Plan, Mewujudkan Proses Persalinan Sesuai Keinginan

Suatu hari, seseorang dari tabloid Nakita menghubungi saya lewat blog ini. Beliau mengirimkan komentar pada salah satu artikel saya dan akhirnya menghubungi saya lewat e-mail. Ternyata saya diminta untuk menulis tentang Birth Plan. Nah, draft tulisan ini yang saya berikan kepada mbak kontributor Nakita. Tulisan ini saya buat saat Kindi berusia 3 bulan. InsyaAllah akan dimuat di Tabloid Nakita rubrik Beranda (Topik Utama) edisi Oktober 2016.

Melahirkan adalah proses yang indah dan menakjubkan bagi setiap Mama. Proses lahirnya satu nyawa ke dunia ini baiknya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Mama dan Papa perlu turut bekerjasama untuk menyiapkan lahirnya si buah hati. Nah, birth plan atau rencana persalinan bisa membantu Mama dan Papa untuk menyiapkan segala keperluan yang berhubungan dengan keamanan dan kenyamanan proses persalinan sehingga sesuai seperti keinginan Mama dan Papa. Saat melahirkan, Mama biasanya lupa dengan segala rencana. Dengan adanya birth plan, rencana Mama akan tetap dapat terwujud. Papa atau pendamping persalinan lainnya dapat mengingatkan obgin serta petugas kesehatan yang membantu proses persalinan untuk melakukannya sesuai rencana persalinan yang sudah dibuat.

Mengapa Mama membuat Birth Plan?

Agar persalinan dapat berjalan sesuai rencana. Birth Plan adalah rencana proses persalinan dan sesudahnya yang harus dipenuhi pihak rumah sakit. Pernah dengar pepatah: “If you fail to plan, you plan to fail”? Ya, saya tidak ingin gagal dalam merencanakan sehingga saya merencanakan untuk gagal. Saya tidak ingin proses persalinan anak (yang tentunya setiap anak hanya sekali seumur hidup) tidak sesuai dengan keinginan dan kenyamanan saya.

Seperti apa Birth Plan Yang Mama buat?

Saya membuat Birth Plan menggunakan Trello.com (tentang penggunaan aplikasi Trello juga saya tulis di: http://adiarersti.com/aplikasi-trello-untuk-proses-kehamilan-dan-kelahiran-bayi/ dan http://adiarersti.com/persiapan-menjelang-kelahiran-bayi-bagian-2/).  Setelah itu, saat kehamilan berusia 7 bulan, saya pindahkan Birth Plan tersebut ke kertas, agar disimpan suami saya di dalam dompet, sehingga dapat dibawa ke mana-mana. Berikut Birth Plan yang saya buat:

  • Dokter dan tenaga medis perempuan
  • Memutar playlist AlQuran (terutama Surat Ar Rahman, Al Fatihah, Yusuf, Maryam, An-Nahl, Al Hujurat, Yasin, At-Taubah) – tersedia di Podcast iPhone
  • Kamar kelas I (1 kamar 1 orang)
  • Ibu menggunakan jilbab (yang tidak panas) saat melahirkan
  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD) langsung setelah bayi dibersihkan (bukan dimandikan) selama 1 jam
  • Diingatkan untuk shalat (sambil duduk atau berbaring) saat proses menjelang persalinan dan sesudahnya
  • Membiarkan ketuban pecah spontan
  • Tidak dilakukan induksi
  • Tidak dilakukan episiotomi
  • Rawat gabung: Rooming in (1 ruangan dengan bayi) dan bedding in (1 tempat tidur dengan bayi)
  • Suami selalu hadir mendampingi
  • Sebisa mungkin tidak operasi caesar
  • Membawa kaca untuk melihat proses persalinan
  • Merekam proses persalinan
  • Makan kurma
  • Memutar asmaul husna
  • Diingatkan untuk selalu dzikir, meminta maaf kepada keluarga dan kerabat serta teman-teman
  • Setelah lahir langsung diadzani
  • Setelah lahir langsung disunat
  • Tidak diberi susu formula
birthplan-adiarersti
Birth Plan yang saya buat menggunakan aplikasi Trello

Sejak mempunyai Birth Plan, saya dan suami melakukan survey Rumah Sakit yang memenuhi persayaratan yang saya ajukan. Ternyata hal itu di luar ekspektasi awal. Rumah Sakit tempat saya melakukan kontrol kandungan selama ini kurang cocok untuk persalinan. Beruntung dokter kandungan saya juga praktek di sebuah Rumah Sakit lain yang lebih dekat dengan rumah saya. Setelah survey, kami merasa cocok dan akhirnya mantap memutuskan melahirkan di sana.

Dimulai dari usia kehamilan berapa Mama mulai membuat Birth Plan?

Saya membuat Birth Plan sejak awal kehamilan dan terus disempurnakan hingga 7 bulan kehamilan. Kebanyakan bayi sudah bisa lahir sejak usia 7 bulan, sehingga di usia kandungan tersebut saya sudah mempersiapkannya dalam bentuk tulisan dan diberikan kepada suami.

Mama memberikan Birth Plan tersebut pada siapa saja?

Kepada suami. Kepada tenaga persalinan hanya ditanyakan poin-poinnya saja.

Apakah Mama merasakan keuntungan dengan membuat Birth Plan? Adakah kerugiannya?

Saya tidak merasakan kerugian sedikit pun. Justru dengan membuat Birth Plan, kami mendapat gambaran rencana persalinan sesuai kondisi ideal yang kami dapatkan dari membaca buku dan artikel, mengikuti seminar, dan bertanya-tanya kepada banyak pihak. Alhamdulillah, persalinan berjalan sesuai rencana walaupun terdapat beberapa poin yang tidak terlaksana seperti: membawa kaca untuk melihat proses persalinan, memutar asmaul husna, serta dilakukan sunat segera. Selain itu, IMD yang akhirnya hanya dilakukan kurang lebih 15 menit saja karena bayi harus dibawa ke ruang bayi terlebih dahulu. Keuntungannya, dengan mempunyai Birth Plan, saya bisa memilih rumah sakit yang sesuai dengan keinginan saya, juga yang dekat rumah. Saya juga bisa mengurus bayi sendiri dan menciptakan ikatan dengan bayi karena diizinkan rooming serta bedding in dengan bayi.

Dalam Birth Plan tersebut, apakah Mama juga menuliskan pilihan pendamping persalinan Mama? Siapa saja dan apa alasannya memilih orang tersebut?

Ya, saya juga menuliskan pilihan pendamping persalinan. Saya memilih dokter wanita dan tenaga kesehatan wanita karena proses persalinan merupakan sesuatu yang menunjukkan aurat. Saya dan suami merasa tidak nyaman bila mempertunjukkan aurat ke lawan jenis. Saya hamil di Mesir selama 6 bulan, sisanya saya habiskan di Surabaya. Sejak tahu bahwa saya hamil saat Mesir, saya dan suami berkomitmen memilih dokter dan tenaga kesehatan yang wanita saja, meski harus mencarinya di kota lain. Selama di ruang persalinan, saya juga hanya ingin ditemani suami karena beliau sabar, tanggap, dan paling paham proses kehamilan saya.

Apakah Mama menggunakan jasa Doula? Bila tidak, mengapa? Bila iya, mengapa?

Saya tidak menggunakan jasa doula karena saya rasa cukup dengan didampingi suami, dokter, dan tenaga kesehatan di rumah sakit saja. Saya tidak terlalu suka keramaian dan didampingi orang asing.

Semoga bermanfaat, ya. Selamat menanti persalinan dengan sabar dan terencana. Boleh juga lho, Moms, berbagi birth plan yang sudah dibuat bersama suami 🙂 Saya tunggu komentarnya.

Artikel bisa dilihat di sini.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: