Boks Anomali #2



Manusia-manusia, khususnya anak kemarin sore yang baru diperbolehkan memiliki KTP dan SIM pun mulai doyan membentuk pagar-pagar pemisah. Di satu sisi mereka meneriakkan persatuan. Namun nyatanya tidak sama sekali. Pagar-pagar pemisah itu bernama komunitas. Agaknya hal itu menjadi sebuah pemandangan yang biasa. Di sebuah situs pertemanan maya, kita jumpai komunitas anak muda yang punya mimpi merubah dunia. Disana terjadi adu mulut, adu pikiran, dan bahkan adu-adu lainnya. 
***
Setiap detik kita konsumsi berita-berita negatif dari kotak ajaib yang seringnya berwarna hitam. Tidak ada baik-baiknya. Ketika surat kabar tidak lagi menjadi sumber berita yang akurat, yang mulai terkontaminasi opini pribadi. Seorang ibu membunuh anak, seorang anak terjerat kasus narkoba karena efek broken home. Jurang kenistaan semakin meluas. 
***
Semua orang berlomba-lomba membangun pencitraan terhadap dirinya. Mulai dari memperbaharui status di situs-situs pertemanan, mengikuti timeline artis-artis idola yang nyatanya tak bisa diidolakan sama sekali, kemudian melakukan apa itu yang disebut operasi plastik seperti artis-artis dari negeri ginseng. Semua membangun citranya masing-masing demi mengejar sesuatu. Apa itu? Tanyakan pada duri yang tergeletak di piring ibu.
***
Mengapa harus pergi ke pusat perbelanjaan bila masih ada tukang sayur yang selalu lewat depan rumah di pagi hari? Mengapa harus memburu sekian banyak persenan diskon saat lebaran jika itu adalah fatamorgana?
***
Orang-orang ramai meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Konser seorang artis luar negeri berinisial LG yang konon katanya dibatalkan, namun nyatanya belum dibatalkan. Indonesia tak memiliki aturan yang kuat. Remaja, generasi muda yang beberapa putaran jarum jam lagi akan memegan kekuasaan negeri ini mulai terhibur goyangan-goyangan nakal band laki dan band perempuan negeri ginseng atau versi imitasinya. Negeri ini lupa jati dirinya. 
***
Anak kemarin sore menggenggam erat telepon pintar yang katanya sehari saja tak dibawa dapat menimbulkan kecemasan. Tanpa mau berintrospeksi mengenai dirinya sendiri. 
***
Tarik atas, tarik bawah, geser kanan, geser kiri..
Pemandangan yang jamak ditemukan di mall-mall ketika seorang eksekutif muda dan wanita cantik paruh baya dengan sepatu hak tinggi dan rok yang miskin kain berjalan beriringan. Saya tak paham apa yang sedang mereka lakukan. Sang pria menggeser-geser layar iPad keluaran terbaru sambil berjalan. Sang wanita sibuk membalas chat teman di BlackBerry pink-nya. Itukah gaya jalan-jalan terbaru? Tak pedulikah mereka dengan anak yang menangis di kolong jembatan? Oh, tentu tidak. Masih lebih penting membalas chat teman di gadget daripada harus ke kolong jembatan.
***
Mall telah menjadi miniatur boks anomali. Semua yang ada disana berwarna-warni, merepresentasikan semua yang ada di boks anomali yang lebih besar. Deretan tenant-tenant penyedia makanan sampah perusak otak generasi muda dengan bangganya menyampaikan pesan tersembunyi mereka “Makanlah di sini, dan otak kalian akan rusak.”
***
Lelaki-lelaki yang mengaku penyayang menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. Keren, katanya. Mereka terus mencekoki orang-orang di sekelilingnya dengan penyakit. Asap yang mengepul, semakin banyak kepulannya, semakin keren mereka mengira diri mereka. Poster-poster stop merokok tak kunjung membuka mata hati mereka. Mereka lupa, mereka punya orang-orang yang mereka sayangi. Para ahli hisap itu pun membunuh orang-orang yang mereka sayangi perlahan tapi pasti. Termasuk organ pernapasan mereka sendiri.

***

Mall kini menjadi tempat kesenangan fiktif yang instan. Jika kita keluar beberapa senti dari pintu utamanya, kita akan melihat boks anomali yang sesungguhnya, dunia.
‘Indah’nya hidup di boks anomali sejatinya hanyalah fatamorgana. Kesenangan di dalamnya dianalogikan sebagai air yang tertinggal di jari setelah dicelupkan di samudra luas lalu diangkat.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: