Boks Anomali #3


surat kabar pagi ini mulai tak layak untuk dibaca.
bahkan ditoleh pun tidak.
berita kekerasan di mana-mana.
korupsi. 
curanmor.
ibu bunuh anak, anak bunuh ibu.
artis kawin lalu cerai seenak jidat.
tontonan tanpa tuntunan tersiar di berbagai channel.
bapak, ibu, anak, 
sibuk sendiri-sendiri.
jarang bertemu.
rumah sepi.
hanya jadi tempat transit.
lalu, apa arti sebuah rumah?
di mana rumah mereka sesungguhnya?
teman, sudah lama tak jumpa.
namun, sekali berjumpa,
autis dengan gadget sendiri-sendiri.
anak-anak tak semangat pergi sekolah.
padahal fasilitas tak kurang suatu apapun.
mau jadi apa mereka kelak?
pengangguran?
semua saling mengejek.
mengejek kekurangan fisik masing-masing.
semua itu nyata.
semua itu ada.
apalagi di tivi tivi.
tak sadarkah mereka,
diri mereka sendiri masih kurang?
merasa lebih baikkah mereka sehingga mengejek orang lain?
satu agama,
namun saling mengejek, menjatuhkan, menyalahkan, menunjuk-nunjuk.
apa maunya?
takbisakah rukun?
satu tanah air, katanya
tapi menjaga tanah air sendiri tak bisa.
dunia ini memang panggung sandiwara.
apa dunia sudah kehilangan jati diri?
apa dunia ini sudah tak lagi bulat?
mengkotakkah ia?
ya, terkotak-kotak oleh semakin banyaknya paham, aliran, gerakan,
yang sering berbasis kekerasan.
apa sebaiknya kita tinggal di masa lalu?
ketika hidup masih serba susah?
saat semua belum maju?
siapa yang seharusnya memakmurkan bumi ini?
siapa? siapa kata Tuhan?
coba tunjuk ke dalam. 
itu jawabannya.
maaf atas kerandoman pikiran, hanya mencoba menuangkan apa yang terlihat, terasa, dan terpikirkan.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: