[BOOK REVIEW] 99 Cahaya di Langit Eropa

Eropa. Sebuah titik awal bermulanya cerita hidup saya. Di sanalah pertama kalinya saya membuka mata dan melihat dunia.

Eropa juga menjadi impian wisata bagi kebanyakan anak manusia. Eropa menjadi tempat lahirnya karya-karya seni, sastra, dan budaya yang termashyur ke seluruh belahan dunia.

Siapa sangka benua yang terkenal dengan keindahan wisata alam dan buatannya itu, menyimpan sejuta harta karun sejarah peradaban Islam yang tak banyak diekspos oleh media.

***

Berawal dari perjalanan ke Jogjakarta dengan kereta api, kawan baik saya membawa buku yang baru ia beli beberapa minggu sebelum keberangkatan kami. 99 Cahaya di Langit Eropa judulnya. Saya tertarik pada sampul bukunya. Akhirnya saya meminta izin padanya untuk membacanya selama di kereta. Namun saat itu, saya belum tahu bahwa yang menulisnya adalah anak dari seorang tokoh ternama Indonesia.

Ialah Hanum Salsabiela Rais, anak dari Amien Rais, menceritakan kisah perjalanannya di Eropa ketika ikut suaminya, Rangga Almahendra, menempuh pendidikan lanjut di Wina, Austria. Hanum mengawali kisah ekspedisinya di Eropa saat bertemu Fatma Pasha, seorang imigran Turki, saat mengambil kursus Bahasa Jerman di Wina. Selepas kursus Bahasa, Fatma dan Hanum berkenalan dan mereka berkelana, mengelilingi sudut-sudut kota, dan menguak rahasia-rahasia Islam di Eropa. Sebagai orang Turki di Austria, Fatma mencoba menebus kesalahan nenek moyangnya, Kara Mustafa Pasha di masa lalu dengan cara yang elegan. Tanpa kekerasan, tanpa perang, yaitu dengan senyum dan kerendahan hatinya.

Kehadiran Ayse, anak semata wayang Fatma, turut memperkaya cerita Hanum. Kata yang teringat dari sosok Ayse yang ceria ialah “Hai masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar!”. Ialah Ayse yang ceria, ceria dibalik sakit kanker yang diidapnya. Ayse yang ternyata memakai jilbab selain untuk mengikuti perintah agama, namun juga menutupi kepalanya karena tak ada satu rambutpun tersisa.

Rangga, suami Hanum, turut memberikan warna pada cerita. Kisahnya selama menempuh pendidikan di Wina dengan segala cobaan yang dihadapkan padanya, mengajari pembaca bagaimana kita harus bersikap di negeri yang bukan tempat kita. Di mana agama yang dianutnya adalah minoritas.

Begitu pula dengan pelajaran yang dapat dipetik saat Fatma, Hanum, dan Ayse makan di sebuah kedai. Saat itu Hanum tak sengaja mendengar percakapan dua orang Austria yang sedang makan Croissant, roti berbentuk separuh bulan, seperti lambang bendera Turki. Kedua orang itu ternyata telah mengolok Turki, negara Fatma, dan agama Islam. Kedua orang itu berhasil membuat Hanum marah. Namun Fatma malah bertindak dengan caranya. Cara agen muslim yang baik. Ia membayar tagihan makanan kedua orang Austria itu, dan memberikan alamat email kepada mereka melalui pelayan kedai. Hasilnya? Kedua orang Austria tadi mengirim email yang positif kepada Fatma.

Pelajaran tadi akhirnya Hanum terapkan untuk tetangga sebelah kamar di apartemennya. Ia berlaku baik pada tetangga yang telah memarahinya saat memasak ikan yang baunya menyengat hingga kamar si tetangga. Suatu hari, ia memasakkan ikan untuk tetangganya itu. Respon tetangga pun, menjadi 180 derajat berbeda. Ia sangat berterima kasih kepada Hanum.

Ah ya, tak lupa, Marion Latimer, orang Prancis yang telah membukakan mata Hanum pada berbagai hal yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Mereka berjalan-jalan ke museum yang paling terkenal seantero dunia, Louvre Museum namanya. Di sana, Marion menunjukkan bahwa di hijab Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Yesus, terdapat tulisan arab Pseudo-Kuffic yang berbunyi, “La Ilaaha Illallah.” yang artinya sudah barang tentu, “Tiada Tuhan Selain Allah”.

Tak hanya itu, Marion pun membuat Hanum semakin terperanjat ketika tahu bahwa Napoleon Bonaparte telah sengaja membuat Arch de Triomph, Louvre Museum, dan Obelisk di Voia Triomphale (Jalan Kemenangan) segaris dengan bangunan terimpresif sedunia, Ka’bah.

Marion Latimer, seorang mualaf yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris itu telah menunjukkan pantulan cahaya kebesaran Islam. Penjelasan Marion ini telah membukakan mata hati Hanum dan membuatnya jatuh cinta lagi dengan agamanya, Islam.

***

Di buku ini, Hanum, Rangga, Fatma, Ayse, Marion, dan seluruh tokoh, berkolaborasi apik menghadirkan rangkaian cerita yang menggugah jiwa. Rangkaian skenarioNya kali ini telah mengubah hidup Hanum dan menuntun Hanum menemukan 99 cahayaNya.

Hanum yang dulunya tak berhijab menjadi teguh berhijab, dan menemukan keajaiban-keajaiban yang tak pernah ia ketahui dan rasakan sebelum tinggal di negeri orang.

Tak hanya Hanum yang belajar, pembaca juga dapat belajar untuk selalu menjadi agen muslim yang baik. Itu yang selalu terngiang di benak saya setelah menamatkan buku itu.

Hanum berhasil mengedukasi, mengaduk emosi, serta membuat pembaca merenungi setiap apa yang Hanum temui. Hanum mampu mengemas buku ini dengan sempurna, menurut saya. Dengan gaya bahasa sistematis ala jurnalis, pekerjaannya dahulu. Ditambah hasil jepretan lensa kamera yang menguatkan tulisannya. Serta dipadu cerita yang lebih dari sekedar catatan jalan-jalan, cerita yang dalam dan menyentuh hati setiap pembaca.

Tinggal di Eropa selama 3 tahun merupakan titik balik hidup Hanum. Lebih dari sekedar berfoto di depan Menara Eiffel, Tembok Berlin, menonton konser Mozart, melihat Colloseum di Roma atau berwisata dengan perahu di Venezia. Di sana Hanum telah menapak tilas sejarah agamanya. Hanum tak menyangka bahwa Islam dan Eropa memiliki pertalian yang sangat kuat pada masa kejayaannya. Paradoks dengan apa yang terjadi di masa kini, Eropa dan Islam, nyatanya pernah menjadi pasangan yang serasi.

Begitulah seharusnya hakikat sebuah perjalanan. Setiap perjalanan seharusnya membuat kita semakin mengenalNya dan semakin dekat denganNya.

***

Suatu hari nanti, insyaAllah aku akan kembali ke sana, ke kampung halaman, bersama pasangan hidupku dan keluargaku, untuk melihat langsung 99 cahaya di langit Eropa.

Surabaya, 16 Januari 2014

(c) Adiar Ersti Mardisiwi

Review ini juga dapat kamu baca di sini: http://lendabook.co/books/detail/291/99%20Cahaya%20di%20Langit%20Eropa#sthash.sCBdYGSR.dpuf

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: