[BOOK REVIEW] A Cup of Tea for Writer



“Ketika kau tidak bisa mengucapkan sesuatu, tidak usah takut karena kau masih bisa menuliskannya. Lakukan sekarang dan kau akan merasa lega.” — M. A. Sitanggang

“Ketika tak sanggup menyampaikan semua isi kepala, menulislah. Ketika tak sanggup mengucapkan semua isi hati, menulislah. Tulisan adalah rekam jejak terbaik bagi mereka yang kelak kita tinggalkan di dunia.” — Ririe Rengganis


Saya percaya bahwa menulis adalah terapi yang sangat baik bagi penyembuhan jiwa kita. Tidak hanya saat kita dilanda kegalauan, namun kita juga bisa membagikan kebahagiaan dan inspirasi pada orang lain.


Menjadi penulis ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Itulah kiranya yang coba diungkapkan oleh para penulis buku ini. Di dalamnya terdapat kisah suka duka mereka (baik yang memang bercita-cita, tidak sengaja, atau bahkan terpaksa menjadi penulis). Seperti sambil minum segelas teh, kita diajak mendengarkan curahan hati 16 orang penulis. Di bagian akhir, terdapat ‘bonus’ dari Reda Gaudiamo tentang 10 tips menulis.


“Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.” — W. Somerset Maugham

“Touching lives with words. Sounds superficial and cheesy, but sometimes it happens, and when it does, I’m flattered.” — Ika Natassa


Adalah mustahil bagi seseorang yang ingin menjadi penulis, jika ia tak suka membaca. Seperti dua kutipan menampar dalam buku ini:


“If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot.” — Stephen King

“Penulis yang nggak suka baca sama dengan vegetarian yang jadi model iklan produk daging. It doesn’t work.” — Ika Natassa


Ya, menulis adalah kegiatan menyenangkan, menyembuhkan dan adalah salah satu upaya untuk mendokumentasikan kenangan.


“Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yang tak akan pernah kau sesali kemudian.” — Helvy Tiana Rosa

“Menulis adalah jantung jiwaku. Menulis menjadi sarana untuk menghidupkan kisah-kisahku. Tak ada yang lebih memuaskan ketimbang menggoreskan kata-kata di kertas dan mengetahui bahwa mereka akan membangkitkan emosi dan reaksi tertentu dari pembaca.” — Christoper Paolini

“Writing is my pleasurable voyage with mind and soul.” — Juliana Wina Rome


So, jika kamu ingin menjadi penulis atau sudah menjadi penulis, baca saja buku bergizi ini. Tidak rugi!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: