[BOOK REVIEW] Travel Young – Alanda Kariza

“Aku takut ketinggian,” tandas saya singkat. Mendengar hal itu, teman yang duduk di sebelah saya menawarkan untuk bertukar tempat, tapi saya menolak. Bagaimana saya bisa pergi keliling dunia kalau berpergian dengan pesawat saja, membuat saya ketakutan setengah mati? Segera, pesawat pun perlahan-lahan melewati landas pacu, sedikit menukik ke atas, dan… I swear, it was one of the scariest moments in my life! 
*** 
Menjejaki kedewasaan ibarat melakukan sebuah perjalanan. Semakin jauh melangkah, akan sering kita temukan tantangan baru. Dan melakukan perjalanan sejak dini berarti menemukan banyak pelajaran yang akan menempa diri kita menjadi sosok yang lebih dewasa. Alanda Kariza berbagi kisah perjalanan yang mendewasakan dirinya saat ke New York, Vatikan, London, Doha, Pittsburgh, dan tempat menarik lainnya. Banyak hal yang bisa jadi pelajaran menarik, seperti keluar dari zona nyaman, berani mengambil keputusan, percaya diri, dan bisa menyikapi suatu masalah tanpa keluhan. Baginya, traveling is about discovering yourself and also your flaws. Jadi, siapkan destinasi impianmu, tangkap setiap momen yang ada… dan bertualanglah! Temukan jawaban tentang kedewasaanmu.
– goodreads.com


pic source: Andra Alodita

Alanda adalah salah satu dari sekian banyak public figure yang menginspirasi perubahan dalam hidup saya. Bukunya yang pertama saya baca berjudul ‘Dreamcatcher‘ di tahun 2012. Saya menjadi orang yang lebih berani untuk bermimpi besar. Nah, di buku ‘Travel Young‘ kali ini, Alanda menceritakan pengalaman-pengalaman perjalanannya ke berbagai tempat, di antaranya Bali, New York, London, Vatikan, Zurich, Doha, dan Orlando. 


Tidak seperti buku Dreamcatcher yang interaktif, di mana pembaca bisa turut berpartisipasi dalam mencorat-coret buku tersebut, di buku ini hal itu tidak bisa dilakukan. Namun, seperti di buku ‘Dreamcatcher’. Alanda tetap mencantumkan profil-profil tokoh inspiratif lainnya dalam bentuk interview, dengan topik traveling dan kedewasaan. Di buku ini, seperti buku traveling kebanyakan, Alanda juga membagi tips-tips seputar traveling. 


Menurut saya, bagian yang paling mendebarkan -dan akhirnya melegakan- dari buku ini adalah di segmen Vatikan. Di segmen ini, Alanda memberikan titel “When People Laugh at You, Laugh with Them.” Di sini saya mendapatkan pelajaran berharga, yaitu tentang bersikap saat orang-orang menertawakan kita, terlebih saat sedang mengungkapkan ide kita. “You grow up the day you have your first real laugh -at yourself.” – Ethel Barrymore.


Keberanian, perjuangan, dan cinta. Mungkin itulah 3 hal yang bisa kita pelajari dari melakukan perjalanan, dan ketiganya bisa kita dapatkan dari membaca buku ini.


Overall, great job, Alanda Kariza! Saya sangat suka gaya penuturan Alanda yang jujur, didukung ilustrasi buku yang menarik. Oya, buku ini mampu menginspirasi bagi anak muda -terutama kaum introvert– agar berpikiran lebih terbuka, tidak malas melakukan perjalanan dan berinteraksi dengan orang lain. Karena, pada hakikatnya, perjalanan akan membuat kita lebih mahir bercerita, bukan? 
Beberapa kutipan menarik di buku ini:

Menjadi seorang anak muda tidak hanya berarti meninggalkan jejak di dunia, tetapi juga berarti membiarkan dunia meninggalkan jejak di dalam hidup kita. Jejak tersebut bisa terjadi melalui sebuah peristiwa, atau bahkan melalui seseorang. Jadi, berpetualanglah ke luar sana. Jatuh cinta dan patahkan hati kita, ambil risiko dan buatlah kesalahan, lalu, kumpulkan cukup keberanian untuk kembali memulai dari nol.

Di dalam perjalanan ini, saya sadar bahwa saya telah belajar banyak hal. Pertama, soal pentingnya ikut tertawa ketika orang menertawakan suatu hal yang kita sampaikan atau lakukan. Jika kita tidak ikut tertawa, mungkin saja kita akan merasa malu atau tersinggung dan akhirnya justru merusak suasana. Sebaliknya dengan ikut tertawa, justru membuat perasaan kita menjadi baik-baik saja. Lebih dari itu, berarti ikut menertawakan diri sendiri juga merupakan salah satu kualitas untuk menjadi dewasa. P.88

Bahwa ketika kita beranjak dewasa, kita harus bisa bersandar dan menggantungkan nasib pasa diri kita sendiri. Whatever it costs. P.122.

Hubungan-hubungan terbaik yang kita punya, biasanya dimulai secara tidak sengaja dan tanpa direncanakan. P.97.

Berkelanalah selagi masih muda! 

Love does not consist of gazing at each other, but in looking outward together in the same direction. P.112.

Ketika kita masih muda, daftar impian yang kita punya pasti tanpa batas. Ketika beranjak dewasa, mungkin daftar itu akan berkurang, tapi jangan lupa bahwa ada banyak impian yang tak mengenal tanggal kadaluwarsa. 

Don’t be afraid to be the one who loves the most.

Padahal, hidup adalah sebuah petualangan yang seharusnya dapat kita nikmati sepenuhnya, tanpa melupakan impian-impian yang ingin kita ciptakan di masa depan. Sama seperti sebuah perjalanan, menciptakan rencana-rencana perjalanan yang baru sejarusnya tidak membuat kita lupa bahwa ada perjalanan yang saat ini sedang kita jalani dan sudah sepantasnya kita nikmati.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

1 Comment

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: