Buku Filosofi Kue Pancong, Bikin Kamu Makin Yakin untuk Menikah

Tanggal 29 November 2017 lalu, usiaku genap 25. Setelah suamiku memberi kejutan berupa menginap di sebuah hotel kecil, kami pergi ke mall dan membeli buku diskon di Periplus. Memang, di hari kelahiran, Periplus hobi memberikan diskon 15%. Saat itulah aku merayu-rayu suami untuk pergi ke sana membeli buku yang sudah lama aku incar, yaitu…. Filosofi Kue Pancong.

Awalnya, tanggal 30 Oktober 2017 lalu, aku menemukan buku ini di Periplus Juanda. Aku lihat buku ini biasa saja, eh malah mirip buku resep atau review kuliner. Tapi segala sesuatu yang berbau filosofi, bagiku sangat menarik. Pasti ini membicarakan tentang makna dari sesuatu. Jadilah langsung kubaca sinopsis buku ini di halaman belakang. Eits, ternyata buku ini bicara tentang hal-hal yang sekarang menarik perhatianku. Apalagi kalau bukan: pernikahan dan keluarga.

Aku tak bisa membuka plastik bukunya. Uang pun juga cukup mepet saat itu. Jadi ya sudahlah, besok-besok saja belinya. Kalau memang jodoh sama bukunya ya pasti kebeli juga. Saat itu aku memang tidak mem-budget-kan untuk membeli buku, sih.

Layout-nya sungguh Canva banget! Sungguh perempuan sekali. Ini buku yang memang tipe aku banget. Makanya sebenarnya waktu itu nyesek juga ga bisa beli buku itu.

Lalu kembali ke tanggal di mana umurku menjadi 25. Aku pun berhasil mendapatkan buku itu! Tapi aku hanya membeli buku nomor 1 saja. Buku nomor 2-nya sih entar aja kalau buku nomor 1 udah selesai dibaca. Takut nyesel kalau isinya ga bagus. And… tadaa! I got the book! Thank you, Mas! Thank you, Mbak Periplus juga!

Aku juga pengen banget baca buku ini, karena lagi bikin buku serupa, tapi duet sama suami. Itu lho, yang judulnya Ruang Henti. Jadi buku kami nanti akan membahas renungan seputar dunia pernikahan, terutama rumah tangga baru. Ya, buat referensi gitu deh. Selain referensi konten juga layout-nya. Karena aku benar-benar jatuh cinta sama flow dan layout bukunya.

 

Kenapa Kok Kue Pancong?

Aku benar-benar ga pernah denger kata ‘kue pancong’. Tapi gara-gara buku ini, jadi tau deh. Ternyata kue ini semacam kue berwarna putih dengan cita rasa gurih dari santan kelapa. Manisnya berasal dari taburan gula pasir.

Tapi kenapa ya si penulis alias mbak Diany Pranata tidak membahas kue pancong secara mendalam? Ternyata filosofi kue pancong hanya dia jadikan perumpamaan saja. Buku ini berisi nilai-nilai keluarga yang sarat makna. Nilai-nilai ini diajarkan orang tua kepada Diany. Nilai-nilai tersebut sungguh melekat di benak Diany.

Akhirnya dia menuliskan nilai-nilai tersebut dan membukukannya untuk dihadiahkan kepada ibunya di usia 70 tahun. Karya ini sudah pernah diterbitkan lima tahun yang lalu, namun baru secara indie. Akhirnya di tahun 2017, PT Sejahtera Menjadi Berkat menerbitkannya kembali secara lebih fresh.

 

Siapa Sih Diany Pranata?

Memang aku ga pernah sekalipun denger namanya. Ternyata dia ownernya Bella Donna The Wedding. Sebuah majalah pernikahan, yang sekarang juga punya situs thewedding.id. Situs tersebut membahas hal-hal terkait pernikahan. Beliau sudah 20 tahunan menikah dengan suaminya. Beliau adalah keturunan Tionghoa dan ternyata keponakan dari master kosmetika yaitu Tante Martha Tilaar. Hohoho.

Selain sebagai ibu dari dua anak, Diany Pranata adalah seorang wedding consultant dan wedding planner. Bisnis yang ia jalani itu sudah berusia 17 tahun. Bayangkan, sudah master banget berarti ya di dunia pernikahan.

 

filosofi-kue-pancong

 

Selain Itu Apa Saja Konten di Buku Ini?

Buku ini juga memuat kumpulan tulisan Letter of Diany di Majalah Bella Donna The Wedding.

Aku sangat suka dengan gaya bahasa Diany dalam menulis buku ini. Dia seperti aku yang suka bermimpi, film animasi, dan juga dongeng. Mimpi yang dimaksud di sini bukan mimpi bunga tidur lhoo, tapi mimpi yang berkaitan dengan visi misi.

Ah, rasanya baca buku ini mengalir sekali. Ia menuliskannya dengan jujur dan sangat mengena. Walaupun hal-hal yang dibahas berat banget yaitu tentang pernikahan dan keluarga, namun Diany berhasil mengupasnya tidak seperti buku motivasi yang berisi petuah berat.

Total aku hanya menghabiskannya dalam 2 hari. Yaitu tanggal 29 November dan 2 Desember. Kenapa aku cepat menghabiskannya? Karena tanggal 3 mau kuhadiahkan buat sahabatku yang berusia 26 dan akan segera menikah. Hihihi.

 

Bagi Diany, bukan hanya pesta pernikahan saja yang perlu dipersiapkan, tapi kita harus yakin bahwa pasangan kita adalah jodoh dari Tuhan,

Caranya: libatkan Tuhan dari awal. – Diany Pranata

 

Judul Buku : Filosofi Kue Pancong I 
Penulis : Diany Pranata 
Penerbit : PT. Sejahtera Menjadi Berkat 
Harga : Rp. 125.000,-

 

Walaupun buku ini banyak mengangkat nilai-nilai non islami, tapi ga ada salahnya kita baca sebagai referensi. Sedikit banyak aku jadi mengetahui nilai-nilai pernikahan yang diyakini orang nasrani. Tapi tetap yang kuyakini hanyalah yang sesuai dengan nilai agamaku. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Rasanya ga sabar untuk baca buku bagian kedua, nih! Ada yang mau menghadiahkannya buatku? 🙂 Dengan senang hati aku akan menerimanya!

Doakan juga semoga bukuku tentang renungan pernikahan segera selesai, ya. Masih mandek karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Tapi tetep stay tuned-lah di blog ini karena aku akan update berita progress penulisan bukuku.

Overall, salut buat mbak Diany yang keren banget! Saya juga ingin menjadi inspiring woman seperti mbak. Terutama di dunia pernikahan dan keluarga. Saya yakin, hal kecil yang kita perjuangkan, akan menjadi besar jika diiringi niat dan usaha yang baik. Seperti mbak Diany yang memperjuangkan majalah pernikahannya hingga sudah sebesar sekarang.

Selamat mempersiapkan pernikahan dan merenungi makna pernikahan, Moms and Moms-to-be!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: