Catatan dari Majelis Jejak Nabi Ustadz Salim A. Fillah 8 Maret ’13

Memang tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari 2 jam cerita Ustadz Salim A. Fillah di Majelis Jejak Nabi 8 Maret ’13 kemarin. Namun, saya akan berusaha membagikan sedikit yang saya tangkap dalam buku catatan saya.
Jadi ceritanya begini….
1) Kala itu, Rasulullah Muhammad SAW berada di Gua Hira. Gua yang tidak seperti yang dibayangkan oleh kita semua. Gua tersebut tidak berupa rongga yang memiliki stalaktit dan stalakmit, namun hanyalah sebuah celah di antara tumpukan batu-batu. Di sanalah Rasulullah Muhammad SAW dapat memandang penjuru kota Mekkah dan menyaksikannya dengan keprihatinan. Maka Allah menurunkan Jibril as. dan berkata pada Rasulullah Muhammad SAW, “Iqra’ yaa Muhammad! (Bacalah wahai Muhammad!)” lalu Rasulullah Muhammad SAW yang tidak bisa membaca pun berkata, “Ma ana bi Qari’, (Aku bukanlah orang yang pandai membaca)”. Lalu Jibril as. pun memeluk Rasulullah hingga beliau sesak. Jibril pun melakukannya untuk memverifikasi bahwa itu benar orang yang ia cari. Rasulullah pun akhirnya diajari Jibril membaca. Maka itu, turunlah wahyu Surat Al-Alaq 1-5 yang artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu Yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Salah satu hal yang bisa dipelajari dari kejadian turunnya wahyu tersebut adalah: Kenalkan anak-anak pada Al-Qur’an walaupun ia belum pandai membaca dan menulis. Mengapa? Karena Rasulullah pun diajari Jibril saat ia tidak pandai membaca dan menulis. FYI, kala itu, membaca dan menulis bukanlah ukuran kecerdasan bangsa Arab, namun daya ingat/daya hafalnya. Ustadz Salim pun bercerita bahwa, bahkan ada seorang anak yang sejak umur 7 tahun sudah hafal Al-Qur’an, namun baru saat 10 tahun ia mengenal huruf hijaiyah! Subhanallah. Berarti Al-Qur’an memang mudah dipelajari oleh orang usia berapapun dan dengan kemampuan literasi seberapapun. Cara belajar Al-Qur’an dengan metode meniru/mengikuti seperti itu melatih kefokusan, perhatian, dan akhlak kepada guru. 
2) Oya, Ustadz Salim juga berkata, Mengapa ayat pertama berbunyi Iqra’ (membaca)? 
“Membaca adalah kegiatan yang mewakili semua kegiatan manusia,” dan beliau menambahkan, “Berbanggalah Anda yang menjadi penulis!” 🙂 😀
Di dalam semua kegiatan terkandung kegiatan membaca. Saat makan, kita membaca makanan. Dan ternyata kita membaca apapun! (Silakan dipikirkan sendiri, ya :p). Maka, amatlah benar jika ayat pertama yang diturunkan merupakan ‘Iqra (membaca)”, bukan berjalan, ataupun makan, dll. Subhanallah 😀 Beruntunglah teman-teman yang suka membaca 😀
3) Inti agama ini adalah ilmu, ilmu yang menyebabkan ketaatan pada Allah.
Ilmu, sebagaimana berdzikir, membuat hati menjadi tentram. 
Kira-kira itu saja yang dapat saya tulis. Sebenarnya masih banyak lagi. Namun sekiranya dapat didengarkan di mp3 berjudul:
kira-kira isinya kurang lebih sama. Maaf sebesar-besarnya bila ada salah catat. Mohon koreksi 🙂
Mau tahu kelanjutannya? Jangan lupa datang ke Masjid Al-Falah Raya Darmo pada Jumat pekan kedua tiap bulannya 😀
source: http://on.fb.me/Z8YedO

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: