Catatan dari Nonton Bareng Film The Beginning of Life

Tiga kali saya menonton film ini, tiga kali pula saya menangis. Pertama, saya menonton film dokumenter inspiratif ini dengan suami saya. Kami berbagi banyak pandangan dengan menonton film ini hanya berdua saja. Kedua, karena dirasa film ini akan berdampak positif, saya mengadakan nonton bareng di Kafe Baca Ceria (perpustakaan mini saya di Surabaya Timur). Ketiga, karena saya menginginkan impact yang lebih besar lagi, akhirnya terbesit ide untuk mengajak Insitut Ibu Profesional (IIP) Surabaya nonton bareng dengan mendaftarkan ke Teman Takita. Setelah melalui diskusi yang panjang, akhirnya panitia memutuskan untuk mengadakannya di C2O Library, sebuah perpustakaan di tengah kota. Tiga-tiganya memiliki atmosfer yang berbeda, namun tetap saja mata saya tak sadar meneteskan airnya karena beberapa scene yang mengharukan.

nobar TBoL kabaca
Suasana pemutaran film TBoL di Kafe Baca Ceria

DSCF8821DSCF8822IMG_1419IMG_1421IMG_1422

Film besutan Maria Farinha Filmes ini mengundang siapa saja yang peduli pada tahun-tahun pertama kehidupan, yang akan menentukan keadaan saat ini dan masa depan kemanusiaan.

Sebuah terobosan terbesar neuroscience telah menemukan bahwa bayi bukan sekedar berisi muatan genetik. Perkembangan manusia dibentuk melalui kombinasi genetik, kualitas relasi dan lingkungan mereka. Saksikan bagaimana ratusan narasumber mulai dari ahli, orang tua, guru dan bahkan anak-anak menyampaikan pandangan mereka tentang tumbuh kembang anak. Sebuah film dokumenter yang menampilkan sinematografi yang indah dan menyentuh emosi.
Berbagai pendapat pakar dan masyarakat sipil ditampilkan di sana. Mulai dari negara yang miskin hingga negara sangat maju, dari yang muda hingga yang tua, dan lain-lain, total di 9 negara. Sayangnya, rating film ini 18+. Mungkin dikarenakan terdapat pandangan tentang pasangan lesbian, proses melahirkan di air, serta beberapa aurat ibu yang ditampakkan.
13413156_1125842964146234_9094850117706520334_n
13332975_1124070760990121_2177743392540802855_n
13315399_1122194807844383_3635046657193083660_n
13256422_1111344935596037_2497790916606772561_n
13239077_1113240005406530_4832791885256108918_n
Didukung sinematografi dan background music yang apik, karya ini sangat menyentuh dan mencerahkan. Namun sangat disayangkan, tidak ada yang berbagi pandangan tentang anak berkebutuhan khusus. Saya rasa film ini cocok untuk yang sudah lama menjadi orangtua, baru menjadi orangtua, serta yang akan menjadi orangtua. 

Ada tiga hal utama yang ingin saya sarikan dari film tersebut: 

1. Belajar

  • Umur 3 tahun anak sudah mengenal tipu daya.
  • Anak adalah mesin belajar terbaik di alam semesta.
  • Anak bukan kertas kosong. Mereka ilmuwan terbaik dan pembelajar terbaik di alam semesta.
  • Mereka terus mencoba, kita perlu mem-boost self-esteem mereka sehingga bisa sukses.
  • Seorang anak haruslah bebas. Merasakan banyak hal dengan cara berbeda.
  • Belajar dimulai sejak lahir, bahkan sejak di dalam kandungan.
  • Belajar adalah membentuk hubungan .
  • Anak-anak adalah “world’s original innovator.”
  • Otak menciptakan hubungan antarsel dengan cepat. Setiap detik terbentuk 700-1000 hubungan baru.

TBOL5

2. Cuti Hamil, Peran Ibu dan Ayah

  • Peran ayah sangat penting.
  • Merawat anak adalah pilihan, bukan beban.
  • Menjadi ibu rumah tangga, merawat anak-anak, berarti peduli kepada mereka yang akan menjadi warga masa depan, membentuk manusia.
  • Selama masa cuti hamil, seorang ibu akan mempelajari cara menyusui dan meningkatkan produksi ASI. Tapi di banyak negara, cuti hamil diberikan sedikit atau malah tidak sama sekali.
  • Swedia dan Finlandia memberikan cuti hamil berbayar dan cuti untuk ayah, agar ayah mendukung keberhasilan ibu dalam proses menyusui.
  • Dalam hubungan orangtua-anak, anak membutuhkan kuantitas, bukan kualitas.
  • Dunia berinvestasi pada ekspedisi ke luar angkasa, namun untuk anak-anak (awal mula kehidupan) seharusnya berinvestasi juga.
  • Masa cuti hamil untuk ibu adalah 1-6 bulan di Denmark. Ayah mendapatkan cuti hamil 4 bulan. Jangan heran jika di Denmark banyak terlihat ayah yang mengurus anak-anaknya.
  • Ibu dapat berbagi pekerjaan rumah dengan ayah. Suami istri adalah partner.
  • Peran ayah adalah menunjukkan pada anak bahwa ada dunia yang luas di luar sana.
  • Ayah rumah tangga memiliki kesadaran membantu pekerjaan istri karena ada anak yang menyusu pada istrinya selama 12 jam.
  • Ayah yang bertanggungjawab adalah ayah yang ada untuk anaknya.
  • Anak tidak peduli ayah menghasilkan uang atau tidak, tapi apakah ayah ada untuk anak atau tidak.

TBOL1

3. Bermain

  • Jika anak menginginkan atau meminta mainan, tanamkan mindset: “Aku menginginkan ini, ayo kita buat!”
  • Bermain adalah sarana belajar utama untuk anak-anak.
  • Anak tidak akan bosan bermain.
  • Anak akan melakukan lagi lagi dan lagi terus sampai bisa.
  • Anak-anak hidup melalui bermain.
  • Bermain adalah intinya. Bermain adalah tujuan tersendiri.
  • Tugas guru adalah membuat konteks yang menarik untuk anak-anak.
  • Orangtua sering ingin menyediakan banyak mainan edukatif, dll. Padahal bermain menurut anak-anak adalah merusak benda-benda dan mengubah menjadi mainan dengan imajinasi mereka. Hal itu lebih menyenangkan daripada memainkan mainan yang sesungguhnya. Benda apa saja mereka anggap mainan. Seperti: pura-pura memasak di dapur buatan.
  • Biarkan anak berkeliling dan mencoba hal baru.
  • Dengan belajar di alam, anak belajar bahwa dunia tidak statis. Mereka explore and appreciate.
  • Ajarkan anak-anak empati. Empati adalah membayangkan diri sendiri seperti berada pada posisi orang lain.
  • Saat berinteraksi dengan anak, orang dewasa harus membuat dirinya senang dengan permainan.
  • Kemampuan bahasa anak timbul jika kita berbicara dengan anak, menjawab saat mereka berbicara.
  • Daripada memberikan yes or no answer, saat anak bertanya, berilah pertanyaan atau umpan balik. Tanyalah: “mengapa?” atau “mengapa tidak?”
  • Jangan abaikan anak.
  • Jangan berkata “Diamlah!”. Harusnya berlutut pada anak, kontak mata sejajar dan berkata pada anak.
  • Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang untuk berkembang.
  • Sangat penting mendengarkan anak.
  • Bahkan balita, mereka sebenarnya sudah berusaha mengatakan sesuatu.

TBOL4

Jadi, masihkah kamu mengabaikan fase tumbuh kembang anak, yang notabene merupakan awal mula kehidupan? Bersiaplah menjadi orangtua (orang tua) yang lebih baik lagi!

Penasaran? Trailer film The Beginning of Life ini bisa dilihat di link ini: http://www.youtube.com/watch?v=LHqUMqvL1RQ. Kalau sudah tidak sabar, bisa beli di iTunes atau Netflix, kok 🙂

Keep learning and watching good films, moms!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

7 Comments

  1. note :
    1. Orangtua sering ingin menyediakan banyak mainan edukatif, dll. Padahal bermain menurut anak-anak adalah merusak benda-benda dan mengubah menjadi mainan dengan imajinasi mereka. Hal itu lebih menyenangkan daripada memainkan mainan yang sesungguhnya. Benda apa saja mereka anggap mainan. Seperti: pura-pura memasak di dapur buatan.
    2. Jangan berkata “Diamlah!”. Harusnya berlutut pada anak, kontak mata sejajar dan berkata pada anak.

    1. Itu nonton bareng komunitas Ibu Profesional Surabaya, mas. Makanya yang nonton perempuan semua. Tapi saya merekomendasikan film ini ditonton orangtua (baik ayah maupun ibu) bareng-bareng. Banyak hal yang bisa dipelajari terkait pengasuhan anak.

  2. halo Mom, ive been trying to search, but didnt find any of this film which has english/indo subtitles. dimanaaa sihh mommm nyari nya?atau beli dvd nya atau gimanaa caranyaa? hihi.. aku pgn nonton banget ihh.. thanks in advance 🙂

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: