Cerita tentang Senja

Senja. Seorang perempuan yang sedang kacau pikiran dan perasaannya. Hari ini hari baru. Kebanyakan orang menyambutnya dengan suka cita.
Hari itu, Senja muram. Senja tahu, saat ini tahun telah berganti. Senja tahu, sebenarnya sudah saatnya ia mengganti hatinya dengan yang baru. “Ah, tapi… itu bukan perkara mudah,” gumam Senja.
Berbicara dengan hati, berarti berbicara tentang rasa kagum Senja pada Matahari. Rasa kagum yang tak dapat tersampaikan sejak awal Senja bertemu Matahari, hingga kini. Senja ingin sekali bertemu kembali dengan Matahari hanya untuk menyampaikan rasa kekagumannya. Namun, Matahari tak menangkap sinyal yang Senja berikan, sepertinya.
Suatu hari, Senja pergi bertanya pada Pelangi. Pelangi adalah teman Senja yang baik. Ia percaya bahwa Pelangi dapat diandalkan. Suatu sore, Pelangi membantu Senja untuk meneruskan sinyal kepada Matahari. Sayangnya, sebelum Pelangi mengatakan dari siapa sinyal itu berasal, Matahari segera berkata pada Pelangi, “Sayangnya, aku akan mengikat janji dengan Hujan.” Pelangi lalu menyampaikan kabar tersebut pada Senja.
Kontan, Senja yang mendengar kabar itu tak kuasa menahan air mata. “Pelangi, apakah masih ada harapan untukku diterima oleh Matahari?” “Ya, selama ijab belum terucap, kamu masih memiliki harapan. Tetap semangat, Senja!” ujar Pelangi berapi-api. Pelangi memang selalu memberikan warna bagi hidup. Begitu pula kata-katanya yang selalu menyemangati Senja. Terukir senyum manis di bibir Senja setelah mendengarkan kata-kata Pelangi. Senja pun tidak jadi berniat untuk mengganti hatinya.
Beberapa hari kemudian, Senja bertamu ke rumah teman baiknya yang lain, Embun namanya. Senja pun sengaja bercerita pada Embun dan sekaligus bertanya, ia pikir, Embun dan Pelangi pasti sama-sama mencerahkan dan menyegarkan. Ia merasa, jawaban yang ia peroleh akan sama. Sama-sama mencerahkan. “Embun, kalau begitu, apakah masih ada harapan untukku diterima oleh Matahari?” tanya Senja. “Sudahlah Senja, buat apa kamu berusaha lagi mengejarnya. Ikhlaskan saja. Nanti orang yang baik pasti akan datang sendiri padamu,” tutur Embun mencoba menguatkan Senja. “Tapi Embun, ada yang pernah bilang padaku. Katanya, semua harus diusahakan. Dan sekarang kamu lihat, aku sedang berusaha…. agar diterima oleh Matahari. Aku menyimpan kekaguman pada Matahari.” Embun pun dengan sigap menjawab, “Sudahlah. Aku ini teman baikmu. Aku tidak ingin kau terluka dengan harapan semu. Kalau Matahari tidak suka padamu, ya sudah. Kau memiliki banyak teman, kan? Sudah, tunggulah saja dengan sabar, kau pasti akan dapat di waktu yang tepat,” ujar Embun sedikit emosi. Emosi, demi kebaikan temannya. Senja merasa apa yang dikatakan Embun benar, tidak ada harapan lagi. Lebih baik mengundurkan diri perlahan dan membuka lembar baru.
Setelah mendengarkan jawaban dari Embun, Senja pun makin bingung. Ia dihadapkan pada pilihan: mendengarkan saran Embun, Pelangi, atau hati nuraninya sendiri? Atau….
“Ah, ya, aku tahu kepada siapa seharusnya aku bertanya,” gumam Senja disusul senyum manis yang terbit di bibirnya.
Senja pun segera bersujud pada illahi.
Surabaya, 1 Januari 2014

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

1 Comment

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: