#CeritaMini: Lupa

Dia membuka pintu dan mendapati perempuan itu berdiri di sana; menangis. Sejenak lelaki yang baru saja melukai hati seorang perempuan, bergeming di balik pintu kamar mandi di sebuah toko buku. Ia tak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Mau mendekap, namun akad belum terucap. Mereka belum menjadi halal satu sama lain. Mau bertanya, namun sang kekasih masih berderai air mata.
Roni pun memberanikan diri membuka mulutnya perlahan.
“El… El… Elisa… H-h-hai,” ucap Roni terbata.
“…” Elisa tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“El… maafkan aku. Aku tak bermaksud melukaimu. Ini murni salah paham,” sang kekasih mencoba memulai pembicaraan.
“Kamu tega,” ucap Elisa menangis sesenggukan sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Aku… tak seburuk yang kamu kira, El. Sebentar lagi aku akan menjadi imammu. Tinggal menghitung hari. Tegakah aku menodai kepercayaanmu?”
“…” Elisa pun kembali diam seribu bahasa.
“El… Dengarkan aku,” lelaki penyabar itu ingin mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Kalau begitu, siapa perempuan yang berjalan bersamamu di toko buku ini barusan? Apa hubunganmu dengannya? Mengapa kamu berani berpegangan tangan dengannya di depan umum?” Elisa lalu memberondong kekasihnya itu dengan pertanyaan-pertanyaan.

“El… Kau tahu, aku punya sepuluh orang adik. Satu di antaranya perempuan. Annisa, dia adalah adik kandungku. Cepat sembuh ya, penyakit lupa-nya, Elisa,” tutur Roni lembut.
Sontak Elisa menelan ludah perlahan dan memainkan matanya ke atas dan bawah. Gadis itu terdiam, tersenyum, menunduk, pipinya memerah. Dalam hati, ia lega. Sangat lega. Calon imamnya ternyata tidak menghancurkan kepercayaannya.
Kedua sejoli itu lalu tertawa bersama. 
“Maaf, aku terlalu cemburu padamu,” Elisa menunduk malu.
“Tak apa. Mari pulang saja. Ibu bapakmu sudah menunggu di rumah,” ucap Roni.
“Baiklah, sampai jumpa esok hari,” Elisa tersenyum lega dan bergegas pulang.
Akhirnya, dua insan yang tak lama lagi mengikat janji itu saling melambaikan tangan.
*kisah ini ditulis saat workshop kepenulisan Gagas Media bersama Prisca Primasari dan Widyawati Oktavia, 15/09/2014, berdasarkan pengembangan kalimat pertama yang diberikan kepada peserta workshop

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: