Cerpen: Awan, Hujan, dan Pelangi

Awan, Hujan, dan Pelangi
Aku tidak ingat kapan terakhir kali diri ini memegang pena sembari menulis dengan nikmatnya. Bahkan, buku tempatku biasa menorehkan tinta tampaknya tersenyum sinis dan berkata, “Hei, hampir saja laba-laba membuat sarang di sini. Kemana saja engkau selama ini, wahai penulis handal?”. Mendengar sindiran maya sang buku harian tersebut, aku merasa sangat malu sekali.

Aku sudah kuliah, bahkan kusambi kerja menjadi karyawati sebuah restoran pizza. Aku tinggal sebatang kara di kota orang. Enak, bebas, kata orang. Sayangnya, aku selalu sedih sepanjang hari. Mungkin, sudah dua kali musim hujan kulalui dan buku curhat gado-gadoku ini masih saja tertidur di dalam tas. Dormansi. Buku itu bersampul batik dan mirip buku tagihan hutang. Dulu, aku sengaja memilih buku itu menjadi buku harianku, supaya tidak ada yang berminat membacanya. Dulu, ia tempatku bebas meluapkan emosi setiap hari. Kini, sudah berbulan-bulan aku tak menyapa buku itu. Hingga pada suatu hari, buku tersebut terjatuh di angkutan umum. Untung ada seorang Ibu berhati mulia yang melihatnya dan mengembalikan padaku.
***
Siang ini aku sedang melamunkan Awan. Sesuatu yang begitu putih, lembut, namun tak dapat kugapai. Di sebuah kafe yang dingin, aku duduk di sudutnya, kemudian mencoba kembali menulis kisah tentang hidupku yang terlewat selama ini. Ya, di buku harian bersampul batik tadi. Awan adalah nama lelaki yang telah merasuki jiwa dan pikiranku sejak menjadi mahasiswa di kampus ini. Kata anak SD, awan berteman baik dengan pelangi dan hujan. Kenalkan, namaku Pelangi.

Awan adalah seorang pelukis yang sesekali berpuisi. Selama ini, aku bersemangat berangkat kuliah ke kampus karena Awan. Ya, A-W-A-N. Sejuk bila mendengar dan mengejanya namanya. Aku selalu bersemangat saat mendengar namanya, seperti motor yang baru saja diisi bahan bakarnya.

Aku dan Awan menempuh pendidikan di jurusan yang berbeda. Dia Arsitektur, aku Ekonomi. Berbeda 180 derajat. Walaupun kami seharusnya memang jarang bertemu, namun aku beruntung karena aku sempat menemukan sosoknya saat hadir di pertemuan perdana Klab Menulis. Ya, sekali itu saja. Setelahnya, Awan tidak pernah hadir lagi karena terlalu sibuk dengan organisasinya yang lain. Mungkin juga, ia lupa jika ada sesosok gadis kesepian yang bernama Pelangi.

Ibu dan Ayah memberiku nama Pelangi tentunya dengan doa agar aku bisa terus bergembira. Agar aku ceria dan energik seperti warna-warna pelangi. Dulu aku memang begitu, tetapi sejak aku mengenal Awan, aku berubah menjadi sesosok gadis pendiam, kutu buku, bahkan tak seorang pun mau berteman denganku. Sejak empat tahun yang lalu pula aku resmi menjadi penggalau kelas kakap. Ya, Awan lah yang patut dijadikan tersangka. Awan lah penyebabnya.
***
Adalah Hujan yang resmi menjadi musuhku sejak saat itu. Hujan adalah nama perempuan yang hingga detik ini bersanding dengan Awan sebagai sepasang kekasih, selama hampir empat tahun. Hubungan itu berlangsung sejak kami masih baru mengenal dunia mahasiswa. Aku tak pernah melihatnya. Aku tak pernah tahu bagaimana rupa Hujan. Begitupun dengan Awan. Aku tak pernah bertemu dengan mereka.

Sejak hari pertamaku masuk Universitas Tunas Bangsa ini, Awan telah mengambil separuh hatiku. Ia juga telah berhasil membuat nafasku berhenti saat matanya menatap mataku. Aku ingat sekali, kala itu kami duduk sebangku saat ospek. Sejurus kemudian, Awan dengan lembutnya menanyaiku, “Hai, aku Awan. Kamu?”. Luluh. Leleh. Aku, seperti mentega yang dicairkan di penggorengan bersuhu 6000 derajat. Leleh seketika. “A-a-a-k-k-ku P-p-pe-langi,” ujarku terbata-bata. Sepertinya, secercah cahaya surga ada di depanku kala itu. Matanya, senyumnya, dan kata-katanya, “Awan dan Pelangi. Cocok,” hanya itu kata terakhirnya yang bisa kudengar, sebelum seorang senior menyuruhku pindah ke bangku seberang. “Kamu yang berkuncir dua, pindah ke sana.” Ternyata tempat duduk harus satu gender, alias sesama jenis.

Setelah aku duduk di belakang, Awan tak pernah lagi menyapaku, hingga empat tahun setelahnya. Kini kami sudah hampir lulus dan wisuda. Hampir empat tahun sudah perasaan kalang kabut ini bersarang di hati. Kami belum sempat berkenalan lebih jauh.

Dulu, sepulang ospek aku langsung menyambar buku daftar murid sekampus untuk mencari alamat rumah dan nomor telepon Awan. Nihil, ternyata, hanya nomor mahasiswa dan asal jurusannya yang ada. Senyumnya tanggal 3 Agustus 1996 itu membuatku deg-degan setiap mengingatnya, ataupun melihatnya langsung. Ia mungkin tak pernah mengingatku dan kejadian empat tahun lalu. “Awan dan Pelangi. Cocok,” kata-kata itulah yang terus terngiang di telingaku. Aku berhasil diperdaya oleh bayang-bayang ke-hampir-sempurna-an Awan.

Sampai tiba puncak kegalauanku. Aku membolos 25 hari karena opname di rumah sakit. Aku tidak masuk kuliah hari-hari terakhir itu. Tidak jelas sebabnya, mungkin aku kecanduan. Kecanduan Awan. Tiba-tiba saat aku sembuh dari sakit, kudengar selentingan kabar bahwa Hujan, anak jurusan Fashion Design, telah mengikat janji suci sehidup semati dengan Awan, pangeranku. Hatiku hancur, sampai kaki rasanya tak menapak. Beberapa hari setelah itu rasanya aku berjalan tanpa tulang. Hujan dan Awan adalah pasangan serasi! Hujan secantik Paramitha Rusady dan Awan setampan Thomas Djorgi. Se-ra-si!
***

Bruk! Aku menabrak seseorang. Gelas plastik berisikan teh yang kupegang terjatuh ke lantai. Shock. Tiba-tiba aku menyadari bahwa seseorang yang aku tabrak ini adalah pangeranku sendiri: Awan. Bodoh. Karena terburu-buru datang ke pertemuan Klab Menulis, aku jadi lupa diri.

Putih. Benar-benar seputih awan yang baru saja kulihat tadi pagi. Tenang rasanya. Padahal aku jelas-jelas membuat baju kami berdua sama-sama kotor terkena tumpahan teh.

“Maaf, Awan. A-a-aku tidak sengaja,” ujarku terbata-bata, gemetar. Masih tidak percaya bahwa sesosok makhluk tampan di depanku ini bernama Awan.

“Pelangi……,” pangeranku itu memanggil namaku.
Tenggorokan rasanya tercekat. Susah bicara. Mungkin selama dua puluh detik keempat biji mata kami beradu pandang. Tolong sediakan tandu, aku ingin pingsan.

“Kamu mengenaliku?” tanyaku mengujinya.

“Ya, empat tahun lalu kita pernah bertemu, kan? Walau hanya sebentar saja, Pelangi?”

Deg. Lagi-lagi, ia menyebut namaku dengan sempurna. Darahku seakan berhenti mengalir.

“Kamu masih ingat, Wan? Terima kasih,” ujarku. Entah apa yang membuatku berani mengucapkan kata-kata spontan itu.

“Ayo kita bersihkan baju dulu,” badannya yang tegap itu melangkah ke tempat sampah untuk membuang gelas plastik kosong tadi.

Ia menarik tanganku dan menggandengku. Aku gugup. Ups, dia kan sudah punya Hujan? Ah, persetan.

Sembari berjalan ke toilet yang masih berjarak beberapa puluh meter dari tempat kejadian perkara, Awan mengajakku berbicara.

“Pelangi, aku minta maaf karena kita tidak sempat berkenalan atau bertemu lagi setelah…,”

“Setelah empat tahun yang lalu, maksudmu?”

“Tepat. Aku masih ingat. Saat itu aku berkata bahwa Awan dan Pelangi itu cocok, kan? Tetapi setelah itu kita tak pernah bertemu lagi,”

“Ya….,” tak ada kata-kata pendukung yang dapat kuucapkan pada pangeranku. Ia menganggap kita tak pernah bertemu lagi setelah itu. Namun, sebenarnya pernah, walaupun hanya sekali di pertemuan perdana Klab Menulis. Tiba-tiba saja air mata sudah mengalir deras di kedua pipiku.

“Kamu kenapa? Apa yang kau tangisi, Pelangi?” tanya pangeranku lembut.

“K-k-ka-mu….”

Seketika wajahku sudah tergenang air dan kedua tangan Awan yang lembut mendarat di pipiku, mengusap air mataku.
***

Basah. Meja kafe ini basah. Penuh dengan air mata sekaligus air liurku. Buku catatan hutang, eh, buku harianku yang terbuka itu sedikit basah di tengahnya. Alhasil, beberapa tulisanku luntur. Perfect! That short surprising scene was just my dream! Ternyata aku hanya terbawa keinginan alam bawah sadarku. Aku ingin bertemu lagi dengan Awan, walaupun hanya lewat sebuah pertemuan yang tidak sengaja. Tuhan telah mengabulkan doaku, namun hanya dalam mimpi. Barangkali, awan dan pelangi memang cocok. Namun, awan ditakdirkan lebih dekat dengan hujan, daripada dengan pelangi. Begitu pula dengan aku si Pelangi, Awan, dan wanitanya, Hujan.
            
Bunga tidur memang indahnya hanya sesaat. Setelah bangun, kita harus bersiap menghadapi kenyataan. Aku tak punya pilihan selain mendoakan kebahagiaan, untuk Awan dan Hujan.
***
Di sebuah kafe, 3 Agustus 2000

Aku harus tetap tersenyum dan berjanji tidak boleh galau lagi. Setidaknya keinginanku sudah terkabul, pernah berhasil bertemu Awan, walau hanya dalam mimpi. Lalu segera kusambar pena dan kembali menulisi buku harianku. Aku menuliskan mimpiku tadi di atas kertas yang basah karena air mataku sendiri…

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: