Diskusi Pendidikan Seks bersama Ustaz Harry Santosa – Tantangan IIP Day 3

Cuplikan diskusi bersama Ustaz Harry Santosa tentang Pendidikan Seks

Saat sedang mencari bahan review untuk materi Fitrah Seksualitas, saya menemukan dialog sebagai berikut di internet. Sumbernya dari iwaza.wordpress.com/2015/02/12/pendidikan-berbasis-fitrah-diskusi-tentang-pendidikan-seks/amp/

Mari kita baca satu per satu.

Saya:

Ustadz, apakah orangtua/pendidik yg masih merasa bahwa memberikan pendidikan seks pada mereka yg berusia 13-15 tahun msh belum pantas/belum waktunya termasuk melambatkan kedewasaan/pembocahan? sejak kapan anak sudah harus diberikan pendidikan seks? apakah anak 10tahun sdh cocok diberikan pendidikan seks seperti fungsi alat reproduksi, kenapa hewan/manusia bisa punya anak (hamil), dsb? kalo dr penilaian ane kayaknya sdh cocok, krn anak skrg baligh lebih cepat dan fakta-fakta yg terang bahwa anak kelas 4 sd sdh pacaran atau sdh tahu ttg seks dari temannya atau dr tontonan?

Beliau :

Pendidikan sex diberikan bertahap sejak usia balita dengan cara dan maksud yg berbeda. Secara alamiah menjelang baligh (dewasa biologis) anak2 sdh mulai punya gairah pd lawan jenis shg pertanyaan2 mereka seputar sex harus terpuaskan di rumah bersama kedua orangtuanya agar persepsi dan imajinya tdk menyimpang, jangan dengan teman2nya atau buku yg tdk jelas. Antara anak pria dan wanita ada perbedaan dalam penekanan perilaku sex. Imaji yg menyimpang akan membuat persepsi yg salah, dan persepsi yg salah akan membuat pensikapan dan perilaku yg buruk ttg sex.

Pendidikan sex dapat dipaparkan dalam perspektif ilmiah, atau fitrah belajar, di usia 10-11 tahun saat pre aqilbaligh, misalnya pengenalan alat reproduksi, asal bayi, ihtilam dan haidh, perbedaan sentuhan yg baik dan buruk dll.

Pendidikan sex dapat direlevankan dengan fitrah keimanan sejak kecil, misalnya membiasakan malu (menutup aurat), adab masuk kamar, memperkenalkan muhrim dan larangan ikhtilat dengan bukan muhrim, menjaga najis, memelihara kemaluan dan mandi junub dll.

Pendidikan sex dapat dikaitkan dengan fitrah jenis kelamin sesuai tuntunan syariat, pria dan wanita. Memisahkan kamar anak pria dan anak wanita di usia 7 tahun, memberi pakaian yg sesuai jenis kelamin dll

Saya :

oh iya ustadz. ane guru smp, khawatir tindakan ane justru salah jika menjelaskan perihal seksologi yg ane kaitkan dgn larangan ikhtilat, berdua-duaan, tabarruj, dsb. jadi pertanyaan tentang ‘kenapa bisa haid, kenapa anak yg lugu & awalnya menolak pacaran akhirnya bisa terjerumus dlm zina dan hamil di luar nikah karena permisif dgn larangan pacaran/berdua-duaan, dan pertanyaan2 lain terkait pendidikan seks & pergaulan yg islami’ bisa dijelaskan dlm satu tema yg saling terkait..

ane khawatir ada penolakan, misal ditanya ‘kok mereka sdh diajari seks sih?’ tapi hati nurani ane mengatakan bahwa itu sangat penting.. banyak orangtua/pendidik yg khawatir dgn pergaulan anaknya yg ABG krn mereka masih dianggap lugu, tapi mereka sendiri blm/tidak diberitahu info-info relevan agar mereka tak disebut lugu lagi dgn alasan mereka belum waktunya utk tahu hal itu..

Beliau :

hehehe… jangankan di Indonesia, di Eropa yg konservatif juga ditentang jika tdk hati2 mengkomunikasikannya. Jadi sebaiknya adakan pertemuan dengan ortu utk anak2 yg menjelang baligh, sampaikan maksud pendidikan sexnya. Kalau perlu ortu yg menyampaikan sendiri, jadi semcam pembekalan, guru hanya aspek sains saja. Saya pernah dapat buku saku utk menjawab pertanyaan2 sex bagi anak2 dari tahap usia balita sampai menjelang aqilbaligh. Nah, bisa digoogling dan disesuaikan dgn pendidikan fitrah.

Saya :

anak smp kami pernah engatakan kalo mereka sdh diajari istilah ‘vagina’, ‘sperma’, kawin’ (pelajaran reproduksi) di sd.. kalo dari ane sendiri, ane bisa menjelaskannya dgn mengambil contoh aktivitas seks binatang.. saya pernah ketika mengajar mengatakan kata ‘ngocok’, ternyata ada respon yg menarik dr siswa. mereka tertawa, krn ngocok adalah istilah umum utk kata ‘onani’.. nah, dari situ ane menganggap bahwa mereka sangat butuh utk diluruskan soal itu, sekaligus memberikan mereka wawasan lain soal seksologi yg dihubungankan dgn syariat dlm islam spt perintah menundukkan pandangan, tidak memandangi wajah akhwat, dsb.

Beliau :

Anak2 menjelang baligh secara fitrah pasti sudah punya gairah dan rangsangan thd lawan jenis, apalagi anak sekarang, bahkan sejak SD sudah kenal pacaran, lihat foto2 bugil dll. Jadi sebaiknya jangan ragu2, misinya menyelamatkan anak2 dgn informasi yg berguna seputar hubungan pria dan wanita. Adakan seminar utk ortu dan guru, undang bu Elly Risman utk memaparkan.

Saya :

iya ustadz, ane gak ragu. krn ane sdh lakukan, terlaksana dgn baik alhamdulillah alhamdulillah mereka paham. terkhusus utk siswa yg laki-laki, ane kan biasa maen futsal / beraktivitas dgn mereka di luar sekolah, jadi selagi ngumpul ane biasa berdiskusi dgn mereka. bbrp dr mereka ada yg betul-betul tak tahu misalnya istilah ‘berhubungan intim’, ada jg yg tahu krn tanpa sengaja melihat anak yg nonton video porno di warnet (alhamdulillah dia yg melaporkannya ke penjaga warnet shg akhirnya di warnet itu youtube gak bisa dibuka, dan mmg anak ini bagus pengetahuan agama & akhlaknya)..

KESIMPULAN (SAYA)  

Pendidikan seks itu dilakukan bertahap sejak balita dengan cara dan maksud yg berbeda. 

Anak ABG sudah sepantasnya untuk dipahamkan soal seks yang dikaitkan dengan perintah dan larangan dalam agama seperti perintah menundukkan pandangan, perintah berhijab dan tidak bersolek/memakai wewangian berlebihan bagi wanita (bahkan tidak perlu memakai wewangian jika wanita tak memiliki malasah bau badan- saya pun laki tidak terlalu sering memakai wewangian ketika keluar rumah), larangan berkhalwat/berdua-duaan (pacaran), larangan ikhtilat (bercampur antara lelaki dan perempuan), dan lain-lain.

Jadi jangan merasa ragu dan tabu untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak/siswa kita. Kenapa harus malu dan merasa tabu untuk menyampaikan pendidikan seks. Malu yang dirasa tidak sebanding dengan “keluguan” mereka yang kita biarkan sehingga dengan “keluguan” mereka malah bisa membuat mereka terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak kita inginkan seperti mulai berani deket-deket lawan jenis (mesra-mesraan lewat obrolan atau pertemuan langsung), pacaran, dan parahnya berujung zina. Na’udzubillah..

Saya sering mengamati aktivitas-aktivitas anak ABG di facebook maupun di dunia nyata. Saya pernah menemukan di facebook ada seorang siswa SMP laki-laki yang bercanda dengan siswa SMP perempuan dengan mengatakan “alat kelamin” tanpa rasa malu. Kita mestinya lebih khawatir jika anak-anak kita tahu tentang seks dari teman-temannya atau dari media yang salah tanpa bimbingan orangtua/pendidik.

Saya sudah melakukannya. Alhamdulillah berjalan dengan baik dan mereka bisa memahaminya tanpa ada respon yang berlebihan. Sebaiknya lakukan masing-masing untuk ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan) secara terpisah. Karena biasanya akan membuat suasana tidak kondusif. Intinya, pandai-pandailah dalam mengomunikasikannya. Gunakan cara-cara kreatif. Tidak perlu khawatir bahwa dengan penyampaian itu akan berdampak buruk bagi mereka. Justru itu akan berdampak baik jika itu dikomunikasikan dengan baik dengan tujuan mengarahkan mereka pada sikap yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Ingat kata Ustadz Harry Santosa tentang “pembocahan” di atas. Anggap saja mereka mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang memang harus tahu hal itu. Saya sendiri menganggap siswa-siswa saya sebagai teman diskusi yang baik laiknya orang dewasa. Kita bisa mengambil contoh aktivitas seks binatang agar dalam penyampaian kesannya tidak terlalu vurgar dan kita pun tidak “canggung” dalam menyampaikannya.

Dari pengalaman saya, pengetahuan tentang seks yang mereka dapatkan benar-benar membantu mereka untuk menguatkan komitmen mereka dalam menjauhi larangan Allah dan melaksanakan perintah Allah. Mereka jadi tahu secara jelas kenapa Allah melarang berdua-duan/berpacaran (bahkan ngobrol-ngobrol mesra berduaan lewat obrolan di facebook dengan lawan jenis), tidak tabarruj atau menampilkan kecantikan di publik, dll. Itu semua bisa berujung zina.

Dan saat ini, dari banyak pengamatan dan penelusuran, komitmen mereka alhamdulillah sudah teruji. Jangankan pacaran, ngobrol dengan teman lelaki saja sudah mereka hindari. Namun tentunya saya tidak meminta mereka untuk tidak berinteraksi dengan ikhwan yang bukan muhrim kapanpun dan dimanapun. Mereka dipahamkan bahwa boleh berinteraksi dengan ikhwan seperlunya saja jika memang ada keperluan penting.

Hanya memang ada segelintir dari mereka (satu hingga tiga orang) yang masih belum begitu berkomitmen dalam menjalan syariat secara penuh, contohnya  menutup aurat secara sempurna ketika keluar rumah. Mereka masih biasa membuka aurat kaki (tidak memakai kaos kaki), misalnya ketika mereka harus melakukan kegiatan olahraga di luar yang mengharuskan mereka membuka kaos kaki. Mereka belum kuat menolak itu. Tapi jika dibandingkan dengan kebanyakan perempuan saat ini, mereka tentu lebih baik. Sangat jarang anak-anak semuda mereka yang sudah berkomitmen untuk berhijab meskipun masih suka membuka kaki (tidak menutup kaos kaki) ketika beraktivitas di luar rumah.

Perlahan-lahan, semoga mereka benar-benar berkomitmen secara penuh untuk menjadi muslim/ah yang kaffah. Istilah saya, kalo yang akhwat, memang bener-bener menjadi akhwat sejati, bukan cewek, dan juga bukan akhwat 3/4 mateng. 😀 Dan untuk mereka yang sudah berkomitmen penuh, semoga Allah meneguhkan hati mereka untuk selalu istiqomah hingga ajal menjemput. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Info tambahan: 

Dari penelitian Synovate Research yang dilakukan sejak September 2004 terungkap bahwa sekitar 65% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan dan juga 35% sisanya dari film porno.

Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja ini mendapatkan informasi tentang seks dari orang tuanya. ; Keluarga menjadi sumber yang paling terbatas dalam memberikan informasi mengenai seks kepada kaum muda.

Sementara 40 persen dari remaja melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya di rumah masing-masing atau di rumah pasangannya. ; Dalam kenyataannya, rata-rata orangtua ’buta’ di bidang pendidikan seks dan seksualitas dan membicarakan seksualitas adalah hal yang baru.

Sebagian besar orangtua merasa rikuh dan tidak mengerti kapan dan bagaimana harus memulai jawaban yang berkaitan dengan seksualitas. ; Masih banyak orangtua beranggapan bahwa membicarakan masalah seks, apalagi kepada anak-anak, adalah tabu, kotor, dan tidak pantas.

Orangtua cenderung mengabaikan pertanyaan anak-anak mereka tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan seks. Reaksi orangtua biasanya pura-pura tidak mendengar atau mengalihkan pembicaraan.

Bahkan, tidak jarang anak dimarahi karena mengajukan pertanyaan semacam itu. ; Keluarga dan sekolah yang seharusnya menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam pendidikan seks justru kurang berperan dalam pendidikan seks untuk anak ataupun untuk remaja.

Kita akan kesulitan mencari bahan-bahan pendidikan seks yang tersedia di sekolah. Demikian juga, kita akan kesulitan mencari bahan-bahan tentang pendidikan seks yang diterbitkan secara resmi oleh pemerintah.

***
Review dari adiarersti.com:

Hmmm, tarik nafas dulu yuk. Miris ya! Astaghfirullahalazim. Generasi kita sekarang sudah di ujung tanduk, yuk selamatkan sebelum terlambat. Jangan sungkan mengedukasi fitrah seksualitas kepada anak, anak usia dini sekalipun. Materi ringan ini saya temukan di internet karena hari ini libur tidak ada materi di kelas. Sangat mencerahkan dan membuat bulu kuduk merinding… 

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published.