My Dream Job: Being a Writer!

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT atas karunianya, saya dan suami bisa diberikan kesempatan untuk mewujudkan impian, yaitu berbagi dan menginspirasi lewat tulisan. 

Alkisah, tahun 2015, bulan Juni tanggal 14, kami menikah. Lalu, seketika, impian dia adalah impian saya, dan impian saya adalah impian dia. Ya, kami: suami-istri.

Atas izin Allah, impian kami berdua bisa terwujud. Kami menerbitkan buku dengan usaha sendiri. Ide tulisan sendiri, bikin sampul/cover sendiri, jual sendiri, nge-layout sendiri, ngedit sendiri, ngirim pake ekspedisi berangkat sendiri, kecuali nyetak lah ya, biar dicetakin sama abang-abang yang punya percetakan wkwkwk. Oh ya, nge-proofread sih saya percayakan sama orang lain. Ketika sudah kewalahan, seperti ketika kami tinggal di Jogja dan di Mesir beberapa waktu lalu, kami percayakan jasa per-admin-an dan pengiriman buku kepada orang lain. 

Nah, setahun setengah sudah berjalan. Saya dan suami tiba-tiba saja jadi penulis. Sehari-harinya memang ada penghasilan dari suami, tapi ada juga penghasilan tambahan dari jual buku karya kami. Walaupun sedikit, tapi kami sangat bersyukur. Kami tidak peduli berapa eksemplar yang sudah terjual. Yang penting, tulisan kami bisa mencerahkan banyak orang. Memang, tidak ada satu pun pihak yang memanggil kami untuk bedah buku, ngisi talkshow, jadi pemateri tamu di kuliah online, atau apalah. Kami tidak peduli. Ini serius. Yang penting buku kami dan segala pesan baik yang ingin kami sebarkan, benar-benar tersebar. 

Kemudian, di awal tahun 2017 kami lelah. Kami ingin rebranding semuanya. Semangatnya, tampilannya, logonya, dan lain-lain sebagainya. Lalu jadilah kami bikin Twin Path versi baru, yang masih…. misteri cover-nya. Kemudian buku kedua kami pun lahir. KATA AYAH. 

Masih ingat? #kataayahbookproject yang sempat saya dengungkan beberapa waktu lalu? Proyek yang sumber idenya dari suami saya. Ya, alhamdulillah proyek itu kini hampir terwujud. Setelah kami hampir menyerah. Tujuh bulan lamanya kami pendam naskah ini. Kami merasa belum siap menerbitkannya karena kami adalah orangtua baru kemarin sore. Hehehe. Akhirnya kami tebas rasa itu! Kami percaya, mau usia kami masih 20-an kek, 30-an, sudah 50-an, yang penting bukan itu ternyata. Yang penting adalah….. seberapa berbobot konten yang disampaikan. Kami mencari-cari materi parenting ke berbagai seminar, artikel, quote parenting salah satunya agar isi bukunya tidak abal-abal. Supaya benar-benar bermanfaat bagi target market kami: para anak, para calon ayah dan para ayah. Ya, 3 itu saja. 

Kami (lagi-lagi) edit sendiri, layout sendiri, desain sendiri, dan lain-lain sendiri, kecuali cetaknya. Hehehe. Yah, pokoknya harus super ngeluarin effort lah. Apalagi kami sudah ga pakai sosial media lagi, macam facebook, twitter, tumblr, instagram, snapchat, path, weleh-weleh lainnya. Jadi, jualannya juga harus mikir 100x lipat lebih nih strateginya.

Lalu, ke depannya ada 3 naskah yang masih saya pendam. Naskah yang masih belum ada, juga ada lho! Namanya proyek menulis Srikandi Gerigi. Itu terjadi tiba-tiba saja. Bermodalkan celetukan di whatsapp dan facebook (zaman masih facebook-an dulu) bersama mbak Dini Nuzulia Rahmah. Jadilah, proyek dadakan, tapi alhamdulillah cukup banyak yang daftar. Yang kedua, ada naskah Ruang Henti. Jadi itu ceritanya buku lanjutan Twin Path. Kemudian, From Egypt with Love. Buku kisah kami memaknai perjalanan ke negeri para nabi: Mesir. Wenaaakkk…

Ya sudahlah ya, emak rempong mau ngurus anak dulu.  Maturnuwun!

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: