Dunia Ini Penuh dengan Matematika

Dunia ini… Panggung sandiwara… 

Sepertinya lirik itu sudah ga zaman lagi. Ketika sudah menjadi mak-mak seperti ini, dunia rasanya penuh dengan perhitungan. Entah perhitungan uang belanja, perhitungan uang jualan, perhitungan proyeksi pendapatan, sampai perhitungan hutang. Wkwkw. Perhitungan amal juga jangan lupa ya, Moms. Nah, makanya matematika jadi baru terasa penting deh.

Nah, di pagi cerah ceria ini, saya menulis langsung dari kota Lumpia alias Semarang. Mumpung anak lagi tidur dan suami lagi ikut adik-adiknya fitness, saya ingin berbagi rasa tentang apa yang sudah terjadi di bulan Juli sampai Agustus kemarin.

Ya, jadinya saya pindah Jogjakarta untuk beberapa saat. Saya tinggal di sebuah kosan yang kamu tidak perlu tahu di mana. Di sanalah saya banyak mengenalkan matematika pada si kecil. Mulai yang ga tahu satu dua tiga, sampai sekarang akhirnya setiap lihat benda, diitung sendiri. Saa..tu. Kalau dua dan tiganya masih belum bisa ngomong sendiri, cuma ngelanjutin aja.

Alhamdulillah setelah mengerjakan tantangan ini, pikiran saya dan suami jadi terbuka banget buat ga “mengajari” matematika ke anak. Mulai dari mempelajari metode montessori, menggambar, main masak-masakan, dan mengubek situs LEGO semua bisa jadi sarana untuk belajar matematika ternyata.

Di awal saya takut banget begitu terima tantangan ini. “Aduuuh matematika.” Apa lagi saya ga terlalu suka lihat angka, statistik, dll. Lebih suka lihat kata-kata atau huruf. Beda sama suami yg suka bgt sama matematika.

Apalagi anak masih 13 bulan. Harusnya kita kenalkan dengan matematika di kehidupan ini secara nyata. Bukan malah diajari dan disuruh menghafal. Bukannya nanti umur 3 harus bisa hitung-hitungan dan disuruh bayar jajannya sendiri trus dianggap sudah pintar matematika. No nooo. Wkwkwk.

Ternyata matematika lebih luas dari itu semua. Matemathics is an art! Art of solving the problems, creativity, thinking in a logical way, dan patience. Yap, itulah kesimpulannya. Saya jadi pengen belajar lagi nih! Semangat matematikanya bahkan masih ada walaupun tantangan sudah selesai. Luar biasa.

Saya jadi sadar bahwa untuk membuat anak suka dengan sesuatu itu mudah, tinggal kita sebagai orangtua saja yang harus rajin mengulang-ulang dan mengajari dengan sabar.

Alhamdullilah puji syukur kami juga bisa membeli LEGO DUPLO seri mobil. Memang usianya untuk anak 1,5-3 tahun. Anak saya masih 14 bulan, tapi it’s ok lah… Toh mobil juga bisa dipakai untuk mengenalkan matematika, kok. Dianya juga saya bebaskan milih sendiri mau DUPLO seri apa. Kami beli di Toko Gunung Agung Mal Ciputra Semarang.

Terima kasih banyak atas materi dan tantangannya, tim IIP.

By the way, saya dapat badge di atas karena rutin ‘setor’ 10 tulisan tantangan Matematika selama 10 hari. Terima kasih atas pengumuman, badge dan reviewnya, mbak Chika (fasilitator IIP Kelas Bunda Sayang).

Matematika ga seseram yang kubayangkan, kok 🙂 Biar kita dan anak-anak kita nanti ga gampang ditipu orang juga ya.. 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: