Enam Langkah Menulis Novel by GagasMedia


Mau bikin novel tapi bingung harus mulai dari mana? Apa saja tahap yang harus dilalui hingga novel itu sampai di tangan kita? Yuk baca enam langkah menulis novel oleh GagasMedia berikut! 🙂
*dikutip dari brosur yang didapatkan saat workshop penulisan novel 

1. Rencanakan novelmu
  • Cari ide untuk novelmu. Ide atau gagasan cerita ada di mana-mana. Apa saja sumber ide? Unsur-unsur cerita, lingkungan, pengalaman pribadi/pengalaman orang lain, buku, media massa, film, quote, dan lain-lain. Kamu juga bisa melakukan hal di luar kebiasaan, misalnya jalan-jalan dan sengaja tersesat ala Charles Dickens.
  • Tentukan genre novelmu. Apa jenis, tipe, kategori tulisanmu? Genre dapat dilihat dari tema cerita, latar belakang atau era cerita, target pembaca.
  • Tentukan tema dan premis. Pastikan kamu tahu tentang apa yang kamu tulis. Tema merupakan pokok pikiran atau dasar cerita yang menjiwai ceritamu. Tentukan juga premis dari tema yang akan kamu angkat. Setiap cerita hanya mempunyai satu premis, yaitu gagasan yang mendasari cerita; fondasi yang mendukung kecerita. Premis akan membawa kita pada kesimpulan. Biasanya, premis bisa diungkapkan dalam satu kalimat. *) Pahami contoh premis yang pernah dibahas Rosihan Anwar berikut ini. Cerita Romeo and Juliet karya Shakespeare adalah tentang cinta dan kasih dua orang remaha. Namun, ini adalah cinta yang sangat besar karena Romeo dan Juliet tidak hanya menentang tradisi keluarga dan kebencian. Merekea juga bersedia bersatu dalam kematian. Jadi, premis kisah Romeo dan Juliet adalah cinta yang besar mampu menaklukkan berbagai hal, bahkan maut.
2. Buat outline/kerangka novelmu
Setelah tahu premis ceritamu, buatlah outline. Outline atau kerangka cerita adalah gambaran apa yang terjadi di dalam novel, apa yang dilakukan oleh tokoh. Melalui outline, kita tahu gambaran dan perkembangan cerita. Outline bukan keharusan, setiap orang punya gaya sendiri-sendiri dalam menulis. Namun, agar kamu punya panduan dasar dalam menulis, outline sangat membantu.
Di outline, kamu bisa membagi cerita jadi tiga bagian (Draf 1, Winna Efendi)
  • Bagian awal berisi pengenalan karakter dan konflik. Di sini, kamu menjerat perhatian pembaca, memberikan kesan karakter utama, memberi gambaran keseluruhan tema.
  • Bagian tengah yang berisi inti cerita, berisi konflik-konflik. Di bagian ini kamu bisa menekankan sisi dramatis, mengembangkan cerita dan membuka inti konflik sesungguhnya, menggugah emosi pembaca.
  • Bagian akhir, kesimpulan yang berisi penyelesaian konflik. Tujuan bagian ini adalah menyelesaikan cerita dan memberi kesimpulan.
3. Tulis novelmu
  • Lakukan riset. Sebelum menulis cerita pastikan kamu sudah paham apa yang akan ditulis. Dengan riset, kamu akan menampilkan cerita yang autentik dan masuk akal. Jika menulis tentang pengacara, kamu tidak harus menjadi seorang pengacara. Kamu bisa melakukan riset dengan berbagai cara yang sesuai untukmu.
  • Pahami unsur-unsur cerita dan proses menulis. Pastikan kamu sudah memahami format penulisan novel dan hal apa saja yang harus diperhatikan. Pahami unsur utama dalam novel tema, tokoh, plot/alur cerita, latar (suasana, tempat, waktu), sudut pandang cerita/PoV (apakah dengan menggunakan orang pertama/aku, orang kedua/kamu, orang ketiga/dia? Pastikan PoV sesuai dengan karakter, mendukung konflik)
  • Perhatikan gaya bercerita dan kebahasaan, dialog, deskripsi, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Sesuaikan gaya cerita dengan target pembaca. Pastikan struktur cerita sudah tepat untuk cerita yang kamu tulis. Pembagian bab dan subbab cerita harus jelas agar gagasan pokok cerita tersampaikan.
  • Pastikan kamu menulis awalan bab yang menarik serta mengakhiri cerita dengan memuaskan. Kembangkan unsur-unsur ceritamu dengan maksimal sehingga cerita menjadi utuh. Selesaikan novelmu.
4. Edit novelmu/Self Editing
All writing is a process of elimination, kata Martha Albrand. Setelah selesai menuliskan draf novelmu, cek kembali sebelum dikirim ke penerbit. Kamu bisa “memeran” drafmu selama beberapa hari/minggu. Baca kembali, tandai apa yang kurang, dan perbaiki hal tersebut agar ceritamu maksimal. “Buang/ganti” bagian yang tidak mendukung cerita.
Kamu juga bisa meminta orang yang kamu percaya untuk membaca drafmu dan minta masukan dari mereka. Tentu saja, kamu harus terbuka untuk kritik/saran. Pelajari kritik/saran tersebut dengan pikiran terbuka. Jika semua hal itu untuk kebaikan novelmu, kenapa tidak kamu terapkan, ya, kan?
5. Kirimkan novelmu
Setelah yakin novelmu maksimal, kirimkan ke penerbit yang kamu “incar”. Pastikan kamu sudah tahu proses pengiriman naskah, baik dari segi format penulisan (jumlah halaman, ukuran font, jenis font, sinopsis) maupun prosedur pengiriman (ke mana harus dikirim), apa yang harus dicantumkan di amplop.
6. Tunggu konfirmasi/”status” naskahmu dari penerbit
Biasanya, lama proses penilaian sebuah naskah di setiap penerbit berebda-beda. Saat mengirim naskah ke sebuah penerbit, sebaiknya kamu menunggu kepastian terlebih dahulu dari penerbit bersangkutan. Jangan mengirim satu naskah yang sama kepada beberapa penerbit dalam waktu bersamaan.
Proses naskah di sebuah penerbit, memerlukan waktu tertentu. Jika kamu ingin mengirim ke penerbit lain, sebaiknya kamu informasikan ke penerbit yang sebelumnya. Selama proses pengiriman ini, kamu juga bisa mengontak penerbit untuk menanyakan posisi naskahmu. Biasanya, penerbit terbuka untuk memberi tahu sampai di mana proses novelmu itu. Jika memang dalam proses menunggu, pastikan kamu tidak membuang-buang waktu. Tulis lagi novel/buku yang lain agar waktu “menunggumu” tidak sia-sia.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: