Fenomena Majalah Perempuan di Indonesia

Beberapa hari lalu kalender menunjukkan tanggal duapuluh satu bulan April. Lagi-lagi dan terus-menerus setiap tahunnya. Tanggal itu adalah Hari Kartini katanya. Hari kelahiran perempuan legendaris yang memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan dengan pria. Emansipasi. Benarkah?

Sebenarnya siapa beliau? Mengapa daya tariknya di Indonesia seakan tak lebih dari para perempuan-perempuan pendahulunya? Sebut saja Khadijah, Fatimah, Aisyah, Maryam, Asiah, Siti Hajar, dan lain sebagainya?

Silakan jawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu.

Perayaan Hari Kartini

Para anak perempuan kecil diarak di jalanan hingga siang menjelang, mengenakan kebaya dan penuh dengan riasan tebal hingga sekujur tubuh berkeringat. Apakah itu esensi dari memperingati sebuah hari lahir seorang pahlawan perempuan? Apakah itu yang diajarkan sekolah-sekolah masa kini untuk menghargai perjuangan perempuan?

Perempuan dan Pesonanya

Perempuan memang diciptakan penuh daya tarik, penuh pesona. Setiap inci dari anggota tubuhnya, setiap gerakan dari anggota tubuhnya, semua memesona.

Perempuan adalah perhiasan dunia. Ia begitu berharga. Oleh karenanya, ia perlu dijaga. Kalau Anda memiliki emas dan berlian, sudah pasti Anda jaga, kan? Kalau Anda memiliki harta berharga, mungkin Anda akan membeli brankas untuk menjaganya, bukan? Tetapi mengapa perempuan malah ‘terjual’ bebas di mana-mana? Di baliho iklan deodoran, di kemasan mie instan, dan juga di surat kabar harian. Tanpa perempuan, bagai sayur tanpa garam. Mungkin.

Majalah Perempuan di Indonesia

Menarik rasanya jika kita melihat atau meng-googling dengan kata kunci “majalah perempuan” atau lebih khusus lagi “majalah perempuan Indonesia”. dan “majalah muslimah”. Tahan napas. Apa yang Anda temukan? Gambar-gambar belahan dada? Atau perempuan cantik dengan make-up menarik nan menggoda? Simpulkan saja sendiri. Kami tak mau menghakimi dan menampilkan sekedar screenshot-nya di laman ini.

Apa yang Anda temukan? Apakah Anda masih merasa biasa saja? Tidak menemukan keanehan? Mana majalah perempuan yang benar-benar menjaga keelokan parasnya, kemolekan tubuhnya? Mana?

Mungkin ada, tapi satu dari seribu. Mungkin ada, tapi itu hanya membahas tentang muslimah. Belum ada yang membahas perempuan dari sisi general.

Inilah Kami, Alana Magazine

Di sini, kami redaksi Alana Magazine, berusaha membuat para perempuan lebih berharga. Berharga karena pemikirannya. Berharga karena keindahannya yang tersimpan hanya untuk suaminya. Berharga karena dirinya adalah perhiasan dunia. Berharga bukan karena tas berjenama ternama yang dibawa di tangannya.

Dari sudut kecil di Indonesia, inilah majalah perempuan pertama yang tak akan memublikasikan wajah dan anggota tubuh perempuan, tak akan membicarakan keburukan perempuan lain, tak akan membahas hal-hal penuh dengan hedonisme, dan hanya fokus pada perempuan dan sumbangsihnya untuk peradaban dunia yang lebih baik.

Mau bekerjasama membangun peradaban dunia? Dear perempuan, mari bersama satukan langkah dengan Alana.

Salam,

Editor Alana Magazine



Juga saya tulis di Alana Magazine.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: