Gadis Pembohong Perindu Pantai (2)

[…]

Ireng suka sekali bermain pasir.
Karena hobi yang ditekuninya sejak kecil itu, kulit Ireng menjadi ireng.
Suatu hari, Ireng bertanya ke Ibunya,
“Bu, bapak meninggal kenapa?”
Satirah hanya menjawab, “Ditabrak truk gandeng.”
Jawaban yang tak benar sama sekali. Ireng percaya. Dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Ireng pun tumbuh bersama ibunya yang setengah gila. Namun masih bisa memasak dan mencuci baju.

Ireng hidup sebatang kara, walaupun bersama ibunya.
Daur hidup Ireng adalah bangun – salat Subuh – mandi (kadang tidak) – makan – berangkat sekolah – pulang – salat Dhuhur – bermain pasir – salat Ashar – bermain pasir – salat Maghrib – mengerjakan PR – makan – salat Isya – tidur.
Tak ada menonton televisi dan radio.
Tak ada teman.
Tak ada yang mau bermain dengannya.

Lambat laun, Ireng pun tumbuh menjadi gadis pembohong…


***

Adisti, ya, nama indah si gadis yang masih mengenyam pendidikan SMP tersebut.
Adisti yang namanya dengan seenak jidat diganti menjadi Ireng.
Bukan apa-apa, memang karena kulitnya yang ireng (hitam, red).
Adisti, buah hati Raditya dan Satirah itu kini telah tumbuh menjadi gadis remaja.
Ia tetap saja hidup sebatang kara, walaupun bersama ibunya. Ibunya yang kini menjadi sedikit tidak waras. 

Kasihan Adisti, sebenarnya IQnya di atas rata-rata, walaupun hitam, tapi ia manis. Seperti gula jawa. 

Adalah seorang kawan Adisti di sekolah, bernama Fathir, yang menjadi lelaki idaman semua wanita di sekolah itu. Termasuk ibu-ibu guru dan ibu-ibu cleaning service.
Fathir telah lama memperhatikan Adisti. Mereka sekelas. Bangku mereka hanya berjarak tak kurang dari dua meter, setiap harinya, kecuali Sabtu dan Minggu. Namun, sekalipun mereka tak pernah bertegur sapa. Fathir yang ganteng, kaya, gaul, pemain basket, seperti artis sinetron pun malu bila harus mulai menegur gadis hitam-gula-jawa tersebut. Fathir sendiri takut apabila teman-teman se-geng gaulnya itu memergoki Fathir mencuri pandang ke arah Adisti di setiap pelajaran berlangsung.

Adisti pendiam namun sangat pintar. Tak ada yang mau menjadi teman Adisti karena dia aneh. Terlalu introvert. Fathir yang semakin hari semakin penasaran tersebut pun tak sengaja mulai menaruh nama Adisti di dalam hatinya. 

Adisti jalan kaki dari SMPnya ke rumah. Jarak antara sekolah dan rumahnya cukup jauh. 4 kilometer. Fathir yang pada hari itu resmi melawan rasa malunya sendiri pun berkata, “Hai Fathir! Sekali ini saja, ajaklah gadis itu pulang dengan mobilmu!”

“A-a-ad-diss-dis-ti.”
“Eh..”
“Hai..”
“Ya?”
“Jalan kaki?”
“Seperti biasa.”
“M-m-mau pulang ber-ber-berss-samaku?”
“Tidak. Jalan saja.”
“O–okk-oke. Hati-hati.”

Fathir, lelaki setampan itu, DITOLAK mentah-mentah oleh Adisti.
Fathir pun lalu menjedotkan dahinya ke setir mobilnya.
“Auhh! Bodoh kamu Fathir! Mengapa kau harus melakukan itu tadi?”

***

Adisti pun sampai di depan rumah. Ia mendengar sesuatu.
Oh, ibu sedang bersenandung. Pelan-pelan ia dengarkan lagu yang didendangkan ibu.
“Nothing’s gonna change my love for you…”
Oh, ibu sedang rindu bapak.

“Bu, kangen bapak ya?”
“HAHAHAHAHAHAHA…”
Terdengar suara tawa menggelegar tiba-tiba.
Dendangan lagu yang cukup merdu tersebut seakan lenyap ditelan angin.
“Kenapa tertawa bu?”
“Bapakmu…. Hahahaha… Itu…. di koran!”

“Hah? Kata ibu sudah ditabrak truk gandeng? Ibu bohong?”
“HAHAHAHA… Itu.. Itu. Gandengan sama cewek artis. HAHAHAHA….”

Adisti pun menelan ludah. Glek.
“Mirip aku..”
Adisti merasa pria tampan di koran itu mirip sekali dengan dia. Tidak hitam tentunya.
“Benar itu Bapak, Bu?”
“Ibu ga bohong. Lihat saja, mata kalian mirip, hidung kalian, bibir…. Coba lihat!”

Adisti pun mencoba percaya. Namun dia tidak bisa mempercayai kalau bapaknya ternyata adalah seorang artis. Artis yang ia kagumi selama ini. Raditya. Pasangan selebriti yang sangat terkenal di ibukota. Raditya dan Tata. Tata, yang ternyata istri kedua dari bapaknya sendiri. Bapak yang telah membuat ibunya tidak waras lagi.

“Brakkkk.”
Adisti telah menghabiskan segulung tisu. Ia menangisi kebodohannya. Ia menangisi ibunya. Ia menangisi bapaknya. Tega nian, artis idolanya yang ternyata adalah bapaknya sendiri itu, meninggalkan ibunya dan pergi bersama wanita lain, yang juga artis idola Adisti.

Dalam hati, Adisti pun memaki bapaknya.
“Kalau ibu jadi gila seperti ini benar karena kelakuan bapak….. aku tidak akan pernah menyerah untuk mencarimu ke ibukota!”

Rindu akan sosok bapak, namun bapak yang ia harapkan selama ini adalah artis yang selalu ia puja…

(to be continued)



Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: