Gaya Belajar Kinestetik dan Auditori – Day 6

Hari ini agak beda dari hari biasanya. Saya ga punya rencana khusus mau melakukan stimulasi apa hari ini. Ada buku apa, langsung diambil. Saya juga fokus melihat apa sih yang dilakukan baby K dengan benda-benda yang dia pegang.

Saya lebih cenderung browsing tentang cara belajar Kinestetik lebih dalam lagi. Dugaan saya dan suami, baby K ini memang cenderung ingin melakukan segala sesuatu sendiri, mencoba sendiri, dan harus terlibat langsung.

Apakah anak anda langsung melakukan sesuatu yang baru tanpa berpikir dua kali tentang bagaimana melakukannya? Apakah dia sangat lincah untuk anak seusianya? Jika demikian, mungkin dia seorang pembelajar kinestetik.

Seperti diketahui, sebagian para ahli mengelompokkan ada tiga tipe pembelajar, yaitu tipe auditory, tipe visual, dan tipe kinestetik. Tipe pembelajar kinestetik secara singkat dapat digambarkan sebagai: “Orang yang harus terlibat langsung untuk dapat mengerti”

Jadi bagaimana anda tahu apakah anak anda adalah seorang pembelajar kinestetik atau hanya seorang anak yang aktif?

Para ahli mengatakan bahwa setengah dari semua siswa memiliki sifat kinestetik pada tingkat tertentu. Namun, jika anda mengamati ciri-ciri berikut pada anak anda dari waktu ke waktu, itu bisa menjadi indikasi dari gaya belajar kinestetik.

Pembelajar kinestetik umumnya perlu :

  • Menyentuh, merasakan, dan menangani sesuatu.
  • Mereka ingin mencobanya langsung. Mereka tidak akan ingin melihat demonstrasi.
  • Menggerakkan tubuh mereka untuk belajar sesuatu yang baru. Sebagai contoh, anak dapat membaca buku dengan tangan kiri sementara memantul bola basket dengan tangan kanan.
  • Menunjukkan dengan perbuatan daripada memberitahu.

Sayangnya, beberapa anak dengan tipe kinestetik sering disalahartikan sebagai ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Padahal yang mereka butuhkan hanyalah menyelesaikan aktivitas mereka untuk mendapatkan kembali fokus mereka. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak dengan tipe belar kinestetik dalam hal belajar:

  • Apabila ada, ikutkanlah dia dalam kegiatan drama di sekolah. Seni drama dapat menjadi hal yang menyenangkan bagi pembelajar kinestetik.
  • Doronglah dia untuk belajar di alam terbuka. Ketika melakukan suatu aktivitas, kaitkanlah dengan pelajarannya di sekolah.
  • Dorong dia untuk membuat catatan, menggambar diagram, dan membuat model.
  • Tanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan pelajaran sewaktu dia melakukan aktivitas, contohnya sambil bermain badminton.
  • Masukkan dia ke sekolah yang memiliki banyak aktivitas ekstra kulikuler yang bersifat fisik.

Sebagai orang tua, sangat penting anda bermitra dengan guru anak anda dan menjadi aktif dalam dalam kegiatan di sekolah. Semakin banyak anda mempelajari cara unik anak anda dalam belajar, semakin baik anda dapat membantu guru-gurunya dalam memberikan dia metode yang dia butuhkan untuk berhasil.

Sumber: http://www.anakcerdas.net/mengembangkan-potensi-pembelajar-kinestetik/

Ketika tadi saya ambilkan buku yang banyak foto bayi luar negerinya, dia membuka halaman demi halaman sambil terlihat seperti “menyapa” bayi-bayi tersebut. Menunjuk-nunjuk, serta memperhatikan satu per satu foto.

Apakah anak suka menceritakan lelucon-lelucon baru? Apakah anda sering  mendengarnya bersenandung biarpun tak ada musik ? Apakah anda suka kesal dibuatnya ketika anda sedang berbicara langsung kepadanya dan dia bahkan tidak melirik cara Anda? Jika anda menjawab ya untuk semua, atau bahkan dua dari tiga pertanyaan ini, kemungkinan bahwa anak anda adalah pembelajar auditori.

Seperti diketahui, sebagian para ahli mengelompokkan ada tiga tipe pembelajar, yaitu tipe auditory, tipe visual, dan tipe kinestetik. Tipe pembelajar auditory secara singkat dapat digambarkan sebagai: “Orang yang harus mendengarnya langsung untuk dapat mengerti”

Anak anda kemungkinan besar merupakan pembelajar pendengaran jika ia :

  • Suka cerita dan lelucon
  • Sering berbicara pada dirinya sendiri ketika mengerjakan sesuatu
  • Memiliki kesulitan mengikuti petunjuk tertulis
  • Memiliki masalah dengan menulis
  • Tidak bisa membaca bahasa tubuh atau ekspresi wajah dengan baik
  • Belajar lebih baik ketika berada dalam kelompok dengan siswa lain
  • Memiliki perilaku sosial yang tinggi
  • Menanyakan banyak pertanyaan
  • Lebih ribut atau berisik dari kebanyakan anak-anak lain
  • Suka menceritakan tindakannya sendiri

 

Jika anak anda adalah seorang pembelajar auditori, dia mungkin akan mendapatkan keuntungan dari teknik pembelajaran tradisional, karena sebagian besar ruang kelas berputar di sekitar seorang guru memberikan pelajaran secara lisan kepada sekelompok siswa. Ada banyak cara untuk bekerja dengan kekuatan pembelajar pendengaran, diantaranya sebagai berikut:

  • Ketika anak masih kecil, bacakanlah cerita kepadanya. Ketika dia mampu membaca sendiri, mintalah dia untuk membaca keras-keras – baik untuk orang lain atau diam-diam pada dirinya sendiri. Dorong dia untuk mengikuti teks dengan jari telunjuk saat dia sedang membaca.
  • Anak anda mungkin perlu mendapatkan petunjuk lisan untuk mengerti suatu perintah. Ceritakanlah dengan jelas konsep-konsep baru dan pelajaran kepada anak anda.
  • Bantu anak anda membentuk kelompok belajar dengan anak-anak dari kelasnya. Mendengar ide teman-temannya akan membuat pikirannya terangsang untuk memiliki ide sendiri.
  • Memiliki orang tua atau teman membaca soal keras juga akan membantu. Rekamlah pertanyaan dalam alat perekam atau hand phone dan minta dia untuk menjawab soal tersebut.

Sebagai orang tua, kita perlu memahami cara-cara mereka belajar, bahwa tidak ada satu tipe yang lebih baik daripada yang lain. Yang penting adalah bagaimana memberdayakan pengetahuan tentang tipe belajar si anak untuk memaksimalkan hasil belajarnya.

Sumber: http://www.anakcerdas.net/mengembangkan-potensi-pembelajar-auditori/

Hari ini baby K juga mulai aktif terlihat seperti memberitahu saya atau bertanya akan benda-benda. Saya tidak bisa membedakan. Tapi feeling saya sih, dia sedang bertanya “Apa itu?” Lalu saya jawab saja, “Itu wajan merah. Wa-jan me-rah.” Entahlah cara yang saya lakukan betul atau tidak. Ketika dia menunjuk ke arah pintu putih dan seperti bertanya, saya jawab lagi, “Pintu putih. Pin-tu pu-tih.”

Siang tadi baby K juga makan apel dan nasi. Malam ini dia makan kentang. Dia terlihat suka sekali main “masak-masakan” dengan piringnya yang penuh kentang. Garpu stainless steel itu ia bunyi-bunyikan dan goyang-goyangkan di piring seperti pak penjual nasi goreng. Hehehe.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: