IAAW Studio dan Publikasi Arsitektur

IAAW STUDIO DAN PUBLIKASI ARSITEKTUR
Imelda Akmal Architectural Writer (IAAW) Studio merupakan sebuah studio yang bergerak di bidang jasa penulisan buku arsitektur, mulai dari proses pra penulisan hingga pasca penulisan. Studio ini menangani proses penentuan ide, penulisan, styling, fotografi, desain buku, hingga proses cetak dengan pihak penerbit. Jadi, studio ini tidak hanya bergerak di bidang penulisan, namun sudah merambah ranah book production di bidang arsitektur dan interior. Hingga saat ini, sudah banyak judul buku dan majalah yang diterbitkan. Di antaranya serial menata rumah, coffeetable book, hingga monograf.
Latar Belakang Berdirinya IAAW Studio
Setelah lulus S1, Imelda Akmal, lulusan Teknik Arsiktektur Universitas Trisakti, mencoba melamar kerja di perusahan konsultan dan kontraktor. Namun, pada suatu hari, ia melihat lowongan pekerjaan di Majalah Femina pada tahun 1993. Majalah tersebut mencari seorang stylist dan penulis arsitektur dan interior. Menurut Imelda, kualifikasi yang tertera tersebut cukup mudah. Di antaranya: bisa berbahasa Indonesia dengan baik, minimal lulusan D3, memiliki minat di bidang interior, serta melampirkan tulisan tentang apa saja. Imelda pun melalui satu demi satu tes, mulai dari wawancara, debat, psikotes, serta tes kesehatan. Akhirnya ia lah satu-satunya yang terpilih dari sekian banyak pelamar.
Alhasil, setelah itu ia mulai bekerja di Majalah Femina. Di sana rupanya tidak ada mentor yang dapat membimbingnya. Ia harus belajar sendiri (otodidak). Hal itulah yang membuatnya selalu terpacu untuk belajar. Dari situ pun ia mengaku bahwa ia tidak pernah tahu bagaimana cara mengajar orang dengan baik. “Saya mengajarkan orang hanya dari pengalaman yang saya dapat,” ujarnya.
Pada suatu hari, ia pun sempat diminta untuk mewawancarai tukang kebun. Namun, karena malas mewawancarai, ia lalu membuat reportase dengan hasil karangannya sendiri. Ia pun bercerita tentang hal itu kepada temannya. Temannya pun berkata, “Jurnalis itu tidak boleh ambil data ngarang.” Dari situlah Imelda pun sadar, bahwa jurnalis tidak boleh mengambil data fiktif.
Setelah 3 tahun bekerja di Majalah Femina, Imelda pun studi lanjut ke AA School of Architecture di Inggris. Ia mengambil jurusan Teori dan Kritik Arsitektur. Rupanya, studinya di sana merupakan titik tolak dalam hidupnya. Namun jelas, yang dipelajari di AA Schoolbukanlah bagaimana menulis, membuat buku, dan menjadi penerbit. Di AA School ia diajarkan bagaimana berpikir kritis dalam berarsitektur dengan berdasarkan teori. Bekal pembelajaran dari AA School itulah yang membuatnya berpikir kritis terhadap arsitektur. Namun, mengapa ia tidak membuat buku bernada kritik arsitektur? “Karena masyarakat Indonesia tidak siap menerima kritik,” tutur Imelda.
Ia merasa bahwa industri penulisan buku arsitektur memiliki demand yang sangat tinggi. Selama belasan tahun berdiri, IAAW berfokus pada arsitektur dan interior kontemporer. Jadi, agak susah jika harus menulis tentang arsitektur tradisional, karena memang tidak fokus di bidang itu.
Imelda memulai aksi menulis arsitektur sejak generasi Arsitek Muda Indonesia (AMI) muncul. Ia mencoba mendekati orang-orang di dalam AMI dan menjalin koneksi dengan para anggotanya. Ia mengatakan bahwa ia adalah penulis interior yang ingin menjadi penulis di bidang arsitektur. Segala usaha ia lakukan untuk mengerti pembicaraan mereka di AMI. Akibatnya, karena sudah terlanjur mengenal seluk beluk mereka, Imelda akhirnya membuat buku tentang AMI.
Tujuan Menulis Arsitektur
Mengapa arsitek harus menulis? Mengapa publikasi itu penting untuk arsitek? Imelda mengungkapkan beberapa tujuan berikut ini:
  • Dokumentasi. Menurut Prof. Josef Prijotomo, orang Indonesia masih malas mendokumentasikan karya-karya arsitektur. Padahal dokumentasi itu penting, sebagai arsip agar karya-karya dapat ditelusuri perkembangannya.
  •  Penyampaian ide/gagasan arsitek ke orang awam
  • Penyebaran ideologi
  • Bahan pembelajaran
  • Pengetahuan publik
  • Tanggungjawab arsitek kepada publik. Karya arsitektur yang terbangun otomatis memiliki dampak terhadap sekitar. Oleh karena itu sudah menjadi tanggungjawab arsitek untuk mengomunikasikan karyanya kepada publik
  • Mengembangkan teori, menyampaikan kritik
  • Kegalauan arsitek dalam menghadapi kondisi sekitar

Agaknya, alasan terakhirlah yang paling cocok disematkan untuk Imelda. Alasannya membuat buku ‘Menata Rumah Mungil’ juga karena galau terhadap kondisi sekitar. Ia memulai karir di bidang ini yaitu berawal dari kegelisahannya dalam melihat ketidaksesuaian pada rumah mungil. Ia melihat tatanan furniture tidak fit dengan kondisi rumah yang kavlingnya kecil. Oleh karena itu, ia menulis buku ‘Menata Rumah Mungil’. Buku itulah yang menjadi cikal bakalnya mendirikan IAAW Studio. Dari situ terbukti bahwa orang bisa menulis karena gelisah, tergelitik, ingin tahu, atau galau akan suatu hal/permasalahan!
 Tujuan IAAW Studio
Saat itu, Indonesia belum mempunyai studio penulisan buku arsitektur. Setelah melalui berbagai pengalaman, Imelda pun mendirikan IAAW Studio. Namun, karena merasa tidak mempunyai model biro serupa untuk dijadikan contoh, ia pun otodidak dalam menjalankan usaha studio tersebut. Ia hanya mengaplikasikan apa yang pernah ia dapat untuk kemudian dibagi dengan stafnya. Ia sempat merasa ‘tugasnya’ cukup berat untuk memulai sebuah usaha di bidang penulisan buku arsitektur. Namun, hingga saat ini ia dan tim malah menerima banyak pesanan untuk membuat buku.
Ada beberapa tujuan dari IAAW Studio:
1. Mengedukasi orang awam
IAAW Studio telah menghasilkan bermacam-macam buku dan majalah yang sifatnya mengedukasi. Seri Rumah Ide, Seri Gambar Ruang, serta Seri Makeover, merupakan usaha IAAW Studio untuk mengedukasi para pembaca yang awam di bidang arsitektur.
Imelda juga menambahkan, penulisan buku di masa kini menjadi sangat murah karena ada 2 proses yang hilang. Yaitu proses membeli dan cetak film, serta proses separasi warna. Hal inilah yang membuat pembuatan buku di masa kini mudah, murah, dan cepat.  Dulu, Imelda bahkan menjual mobilnya untuk membuat buku ‘Menata Rumah Mungil’ tersebut.
2.Sharing ide
Ide harus dikomunikasikan. Oleh karena itu, dalam penulisan buku, foto adalah elemen penting. Sebab foto membuktikan bahwa proyek tersebut sudah berhasil terbangun. Kita harus bekerja karena passionagar tidak mudah patah semangat. Kita bisa menjadi bermakna salah satunya dengan membuat buku.
3. Mencoba mengenalkan arsitektur dan interior Indonesia ke dunia luar, terutama negara-negara di wilayah ASEAN. Beberapa usahanya ialah menerbitkan buku-buku melalui Penerbit Imaji dan meluncurkan Archinesia bookgazine. Ada beberapa buku yang terbit dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris), begitu pula dengan Archinesia.
Step-by-step Penyusunan Buku
Penyusunan buku di IAAW Studio dimulai dari pencarian ide dan tema, serta target pembaca. Dua hal itu merupakan langkah awal yang paling penting dalam penulisan buku. Target pembaca adalah siapa pembaca yang diinginkan untuk membaca karya kita. Target ini harus realistis, karena target pembaca ini akan berpengaruh banyak terhadap proses penulisan. Mulai dari cara mengambil gambar pada saat pemotretan, gaya bahasa, layouting, hingga memilih font. Jika tidak target pembaca buku tidak ditentukan, maka dapat dipastikan usaha tersebut akan gagal. Beberapa buku IAAW dapat dibedakan jenis untuk orang awam dan untuk kalangan berbackground pendidikan arsitek.
Istilah-istilah arsitektural yang tercantum di buku harus dijelaskan secara rinci kepada orang awam. Karena tentu berbeda antara orang yang telah menempuh pendidikan arsitektur bertahun-tahun dengan orang awam yang sama sekali tidak mengerti.
Selain Imaji, terdapat pula penerbit Imajinesia yang menerbitkan buku-buku untuk orang awam. Biasanya buku-buku tersebut berbentuk tips/guideyang berkaitan dengan keseharian mereka (contoh: bagaimana membuat dapur yang rapi, efisien, bagus, disertai contoh-contoh dapur). (ers)

Jakarta, 17 Juli 2013

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

1 Comment

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: