Ibu, Yuk Jadi Pembelajar Lagi [by: Gadget Muslimah]

“Nak.. belajar yang rajin, ya.. biar pinter”
“Kak, kita baca buku yuk.. Mama punya buku baru lho..!”

Nasihat-nasihat semacam ini sering terlontar dari lisan para ibu. Ibu mana sih yang tak ingin anaknya pintar, rajin membaca, dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Sekolah favorit, tempat kursus yang bagus, hingga buku-buku berkualitas pun disediakan sebagai fasilitas belajar untuk anak-anak tercinta.

Dulunya pun ketika di zaman masih muda (baca : sekolah dan kuliah), sang ibu bukanlah mahasiswi sembarangan, bahkan bisa dibilang termasuk jajaran mahasiswi papan atas. Hobinya nongkrong di toko buku dan perpustakaan. Satu buku bisa habis dilahap hanya dalam beberapa malam saja. Siangnya dilewatkan dalam forum-forum diskusi ilmiah dengan analisis yang tajam didasari textbook dan jurnal teranyar. Sore hari masih ada kelas Tahsin, Tahfizh, atau Bahasa Arab. Malam harinya sibuk membuat tugas, laporan dan jurnal praktikum. Pokoknya kegiatan sehari semalam isinya belajar, belajar, dan belajar.

Waktu pun terus berjalan. Saat ini tiga orang jagoan kecil tengah bermain lincah di halaman. Tak jarang laku mereka membuat sang ibu kewalahan. Belum lagi tugas-tugas menumpuk di tempat pekerjaan. Ffyuuhh.. setumpuk setrikaan dan cucian pun menanti belaian tangan. Semuanya bagaikan tak berkesudahan.

Kini.. perpustakaan pribadi mulai jarang disambangi. Buku-buku pun mulai berdebu, menanti sentuhan dari sang ibu. “Belajar? Masuk kelas? Kursus? Duh sampai sudah lupa bagaimana rasanya,”gumam hati sang ibu. Bahkan kuliah online lewat berbagai media elektronik, yang bisa diikuti kapan saja pun, tak terkejar untuk dilakukan.

Banyaknya tanggung jawab dan rutinitas harian sebagai ibu, membuatnya serasa kehilangan waktu dan semangat untuk terus menuntut ilmu. “Sekarang mah zamannya anak-anak yang belajar. Kalau ibu-ibu, belajarnya satu lupanya dua,” itu dalilnya.
Sayang..sayang beribu kali sayang. Sang ibu dengan segudang potensi yang dimilikinya kehilangan kesempatan untuk terus menambah kapasitas keilmuannya, dengan alasan kesibukan sehari-hari. “Ah.. saya kan tidak bekerja, capek-capek belajar juga ga kepake ilmunya,” itu katanya.

Sebenarnya, jika ditelisik lagi, belajar tak melulu di bidang profesi kita. Belajar agama, Dienul Islam, adalah contohnya. Begitu banyak kitab-kitab berjajar yang menanti untuk dikaji. Tapi apalah daya bahasanya pun belum dipahami. Edisi terjemahannya juga tersimpan rapi di lemari. Ingin berguru ke ustadz, entar, besok, entar, besok, tertunda lagi. Padahal usia, tiap hari makin berlari. Ketika si kecil bertanya tentang agama, jawabannya “Nanti ya, ibu cari lagi.”

Belajar adalah proses sepanjang hayat yang bisa dilakukan oleh siapapun dan kapanpun. Sungguh indah tawaran kemuliaan dari Allah untuk orang-orang berilmu. Allah SWT berfirman (yang artinya): “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

“Katakanlah : adakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar: 9)

Duhai Ibu.. segala kesibukan dan keterbatasanmu sungguh dapat dimengerti. Namun, ketika semangat dan gairah belajar itu terpatri kuat di dalam hati, InsyaAllah ada jalan-jalan kemudahan. Ada trik-trik yang bisa disiasati di sela-sela padatnya pekerjaan rumah. Yang terpenting adalah tekad yang kuat dan kesabaran yang tak berbatas. Yuk mari kita lihat trik-triknya.

1. Memutar Kembali Radio

Mungkin ibu masih ingat asyiknya mendengarkan serial ‘Sanggar Cerita’, ‘Misteri Gunung Merapi’, ‘Saur Sepuh’, dan sejenisnya tempo dulu?. Iya, radio adalah salah satu media informasi yang murah meriah, dari dulu hingga sekarang. Bahkan saat ini radio juga dapat didengarkan melalui internet. Beberapa chanel radio menyiarkan kajian-kajian agama yang diampu oleh para asatidz yang ahli di bidangnya. Bahkan ada juga stasiun radio yang menyajikan siaran kajian Islam seharian penuh.

Nah, uniknya belajar melalui radio, dapat dilakukan di mana saja dan sambil mengerjakan hal yang lain. Misalnya, ibu-ibu dapat mendengarkan kajian Islam sambil menjemur pakaian, menyetrika, mengepel rumah, bahkan sambil memasak. Buat yang sering kena macet berjam-jam di jalan pergi dan pulang kantor, juga bisa sambil mendengarkan kajian fiqh, tafsir dan sebagainya. Daripada bengong dan kesal karena macet, mendingan belajar sambil mendengarkan radio.

2. Nonton dan streaming

Sama halnya dengan radio, melalui televisi dan internet para ibu juga dapat mengakses kajian-kajian bermutu. Bedanya, TV membutuhkan fokus yang lebih daripada radio, karena selain mendengarkan suara, pemirsa juga butuh melihat gambarnya. Walaupun demikian, menonton TV masih bisa dilakukan sambil menyetrika, memasak, bahkan menyusui.

Streaming video melalui internet memberikan variasi pilihan yang lebih banyak. Mulai dari kajian Islam di Indonesia hingga ceramah dari ulama di ujung benua lain dengan bahasa Inggris maupun Arab dapat disimak dengan mudah. Beberapa chanel Youtube yang dapat dijadikan sumber belajar antara lain channel: Ustadz Nouman Ali Khan, Ustadz Yasir Qadhi, Ustadz Doktor Zakir Naik, Ustadz Prof.Tariq Ramadhan, Ustadz Umar Muhammad Noor, Ustadz Doktor MAZA, Kajian Hadist Ustadz Doktor Luthfi Ahmad Fathullah, Ustadzah Yasmin Mogahed, dan masih banyak lagi.

Nah, banyak sekali kan pintu-pintu ilmu pengetahuan yang bisa kita buka dari dalam rumah. Tinggal dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat untuk menjemput cahaya ilmu itu.

3. Membaca Buku

Buku adalah salah satu jendela dunia. Disanalah ilmu-ilmu diikat maknanya dalam bentuk tulisan. Saat ini banyak informasi bisa didapatkan dari berbagai media. Tapi, membaca secara langsung dari kitab atau buku akan memberikan nuansa dan pemahaman yang berbeda.

Mungkin sudah saatnya kita para ibu menjenguk kembali perpustakaan pribadi di rumah. Mulai dari menyingkirkan debu-debu yang hinggap di antara jajaran buku yang sebagian telah menguning. Lalu bermunculanlah nostalgia yang tersimpan dalam setiap buku itu, saat dulu kita membelinya, membacanya, atau mendiskusikannya. Ternyata oh ternyata, ada juga buku yang masih terbungkus rapi dalam plastiknya, sebagai pertanda belum sehelai pun pernah dibuka lembarannya. Wow.. tanpa disadari ada beberapa sumber ilmu yang nganggur begitu saja di perpustakaan kita.

“ah.. saya bosan dengan buku yang itu-itu saja!” protes hati sang Ibu. Jika demikian, tak ada salahnya Ibu menambah koleksi buku baru. Sesekali tak apalah, mengganti budget baju dan sepatu dengan buku. Buku Tafsir Al quran, kumpulan dan syarah hadits, sejarah nabi, fiqh sunnah, termasuk buku-buku yang layak mendapat prioritas. Siapa tau perpustakaan pribadi yang lebih lengkap menambah semangat untuk membaca buku.

Ada lagi cara mendapatkan buku yang murah meriah. Salah satunya dengan meminjam ke perpustakaan atau pun teman. Selain gratis, meminjam buku di perpustakaan dapat memotivasi kita untuk segera menamatkan buku tersebut sebelum masa pinjamnya habis. Buku bekas dan E-book juga dapat menjadi alternative sumber buku murah.

Nah.. banyak cara bisa ditempuh untuk mendapatkan buku. Tinggal kemauan kita para ibu meluangkan waktu dan melawan kantuk saat membacanya smile emoticon

4. Ikut Kelas Online

Saat ini sebagian besar ibu-ibu dapat mengakses internet dengan mudah. Kelas belajar online juga mulai banyak yang menyediakan. Mulai dari kelas bahasa Arab, kajian tematik, hingga kuliah Ilmiah. Belum lagi tersedia kelas-kelas belajar online gratis melalui video yang bersifat interaktif, dengan narasumber dari berbagai universitas ternama di dunia. Sarananya pun bermacam-macam, bisa lewat email, wassap, telegram, skype, atau pun website khusus.

Apabila ibu-ibu juga bisa memahami percakapan atau teks berbahasa Inggris, tidak harus mahir sekali, maka dapat mengikuti kuliah-kuliah online yang diselenggarakan berbagai massive open online course (MOOC) diantaranya yang diselenggarakan EdX, Khan Academy, Coursera, MIT, Harvard, Stanford, FutureLearn, Canvas, Miriada X, Saylor, dan masih banyak lagi.

Syarat utama mengikuti kelas online ini adalah komitmen yang baik. Komitmen dalam kehadiran (hadir jiwa dan pikiran), dan juga komitmen dalam mengerjakan tugas dan ujian. Hanya orang-orang seriuslah yang akan menuai hasil baik dalam kelas online tersebut.

5. Ikut kursus atau sekolah informal

Tak semua orang cocok belajar secara online. Jika ibu ada waktu luang, terutama ketika waktu anak-anak berada di sekolah, mungkin kursus atau sekolah informal dapat menjadi pilihan. Contohnya adalah kursus bahasa, tahsin, sekolah perempuan, menjahit, fashion design, membuat kue, financial planning, dan lain-lain. Kursus-kursus juga ada yang menyediakan kelas khusus di akhir pekan.

Mengikuti kursus merupakan pilihan yang memberikan konsekuensi yang tidak sederhana. Mulai dari meluangkan waktu secara khusus, biaya yang tidak sedikit, dan juga sinergisasi dengan jadwal keluarga. Namun, jika ibu memang serius ingin mencari ilmu atau menambah skill, tentu saja butuh pengorbanan. Mengikuti kajian rutin dalam majelis ta’lim atau pengajian mingguan juga dapat dijadikan sarana menuntut ilmu bagi para ibu.

6. Menghadiri seminar dan pelatihan

Seminar, pelatihan, workshop, dan bedah buku yang dapat diikuti oleh para ibu, ratusan jumlahnya. Mulai dari seminar yang gratisan sampai yang berbayar jutaan rupiah. Temanya pun beraneka ragam, kesehatan, parenting, pendidikan, kajian keIslaman, ekonomi, sosial, politik, merupakan tema yang sering dibahas. Salah satu keuntungan mengikuti seminar adalah para ibu dapat menyimak pengetahuan baru langsung dari pakar dan ahlinya. Atmosfer akademik dalam seminar pun memberikan motivasi kepada para peserta untuk terus belajar, lagi dan lagi.

7. Bergabung dalam komunitas

Komunitas, baik di dunia maya mau pun nyata biasanya memotivasi anggotanya untuk meraih peningkatan kemampuan di bidangnya. Dalam komunitas ini tergabung orang-orang dengan minat belajar dan hobby yang sama. Contohnya, komunitas menulis, club bahasa Inggris atau Arab, club membaca, kelompok pengajian, sanggar seni, group fotografi, origami, dan masih banyak komunitas lainnya yang akan mendukung para ibu untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas dirinya. Dalam komunitas tersebut para anggotanya akan saling belajar, berbagi ilmu dan pengalaman, berbagi informasi terbaru, hinggabekerjasama menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Jika di kota tempat tinggal belum ada komunitas yang dapat memfasilitasi minat belajar kita, tak ada salahnya kitalah yang memulai untuk membangun komunitas tersebut. Dapat dimulai dengan mengumpulkan dan mengadakan pertemuan bersama teman-teman atau kenalan yang mempunyai minat yang sama. Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam mengikuti sebuah komunitas, jadikan komunitas itu sebagai sumber motivasi dan inspirasi untuk belajar. Bukan sebaliknya, komunitas menjadi sumber tekananan (stress) dan masalah baru bagi para ibu.

8. Follow Akun Keren dan Bermakna

Ibu-ibu zaman sekarang umumnya sudah tak asing lagi dengan media sosial. Media sosial tak hanya berguna untuk menjalin silaturrahim dan membangun jaringan pertemanan. Para tokoh, ulama, dan cendikiawan pun banyak yang memiliki akun media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Akun tersebut dibuat sebagai media komunikasi dan juga sarana untuk menyebarkan ilmu dan pemikiran.

Status Facebook maupun kicauan di Twitter, ataupun tulisan di blog, di website resmi pribadi dari para ulama dan pemikir banyak yang sarat dengan ilmu dan hikmah. Membacanya saja kadang dapat mengingatkan kita kepada Allah, memperluas wawasan serta menambah pemahaman baru bagi kita. Tak jarang pula akun tersebut mengunggah video rekaman kajian-kajian keislaman. Jika Ibu-ibu berteman atau mem-follow akun-akun tersebut, terbukalah peluang untuk mendapatkan ilmu melalui sosial media serta pandangan dan analisis terhadap isu kekinian.

Beberapa ustadz yang aktif di sosial media antara lain Ustadz Nouman Ali Khan, Ustadz Yasir Qadhi, Ustadz Doktor Zakir Naik, Ustadz Mufti Ismail Menk, Ustadz Zulfi Akmal, Ustadz Budi Ashari, Ustadz Prof.Tariq Ramadhan, Ustadz Umar Muhammad Noor, Ustadz Doktor MAZA, Kajian Hadist Ustadz Doktor Luthfi Ahmad Fathullah, Ustadzah Yasmin Mogahed, dan masih banyak lagi.

Ternyata materi, pemateri, media, fasilitas untuk belajar lagi semakin banyak pilihan ya ibu-ibu. Sekarang dengan mempertimbangkan situasi kondisi dan ketersediaan fasilitas, bagaimana menghidupkan tekad, niat, dan aksi, bahwa ketika menjadi ibu tetap semangat menjadi pembelajar, semangat dengan pengetahuan baru, semangat menjalani rencana belajar, agar adaptif dan solutif dalam menghadapi perubahan.

Penulis: Sri Aktaviyani
Editor: Nurul Masyriq
Cover: Dewis

_
Join Gadget Muslimah Channel Telegram disini https://telegram.me/GadgetMuslimah

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: