Ikut Kelas Online Belajar Bahagia Happymorphosa bersama Adjie Santosoputro

Siang itu saya membaca newsletter Adjie Santosoputro. Tiba-tiba ada tawaran buat ikut kelas online-nya yang berjudul Happymorphosa. Waaah kayaknya menarik, nih. Langsung saja saya izin suami untuk ikut kelas online ini. Toh cuma kayak baca broadcast WhatsApp biasa. Tapi bayar :))

 

Nah, di materi pertama ini kami diberi ilmu tentang ketenangan pikiran. Seperti apa materinya? Coba diresapi perlahan:

 

KUNCI BAHAGIA ADALAH PIKIRAN TENANG
1 – Happymorphosa Juni – Catatan Meditasi

Setelah sekian lama belajar banyak ilmu terkait Psikologi dan pemberdayaan diri, saya merasa tidak ada hasil yang berarti. Saban petang saya suka duduk merenung, terdiam beberapa waktu, untuk kemudian mengenang pengalaman masa lalu, di mana dulu saya biasa belajar ilmu ini dan itu. Dulu, di ruang tempat saya mengikuti pelatihan, baik di hotel berbintang lima maupun di rumah sederhana, saya senantiasa bersemangat memetik hikmah dan pelajaran yang disajikan. Tak ada masalah karena pada waktu pelatihan berlangsung dan beberapa hari setelahnya entah kenapa, saya selalu menjadi manusia yang baru.

Namun, saya yang seolah terlahir kembali itu, setelah seiring berjalannya waktu menjalani rutinitas sehari-hari, saya kembali lagi menjadi manusia seperti yang semula sebelum ikut pelatihan. Kejadian ini terus berulang, hingga saya memilih untuk berlatih perihal keheningan.

Kalau ingin memperbaiki diri dan berbahagia, kuncinya adalah pikiran yang tenang. Itu salah satu nasihat yang sering saya dengar dari guru-guru keheningan. Sifat alami pikiran adalah lari ke masa lalu, juga ke masa depan. Jarang berada di masa kini. Tubuh di sini, tapi pikiran entah mengembara ke mana.
Oleh karena itu, latihan yang dibutuhkan adalah meditasi. Karena melalui meditasi, pikiran dilatih untuk tenang berada di saat ini, di sini kini.

Dimulai dengan latihan sederhana yang dilakukan setiap pagi hari. Duduk di manapun yang dirasa nyaman. Pikiran menyadari setiap tarikan dan embusan napas. Ketika menarik napas, dalam hati katakan, “Saya sadar saya sedang menarik napas.” Ketika menghembuskan napas, dalam hati katakan, “Saya sadar saya sedang menghembuskan napas.” Ketika pikiran mengembara, tidak perlu risau berlebihan. Hanya sadari saja, lalu perlahan ajak pikiran kembali menyadari napas. Terus lakukan ini berulang kali. Memang latihan ini butuh kesabaran. Di awal, durasi latihan tidak harus lama, 2 menit saja sudah cukup. Tapi sebisa mungkin lakukan setiap hari.

Memperbaiki diri dan berbahagia itu terkait dengan membentuk kebiasaan. Bukan seketika secara instan langsung berubah. Dan membentuk kebiasaan butuh ketekunan setiap hari.

MEMBENTUK KEBIASAAN BAHAGIA

2 – Happymorphosa Juni – Catatan Membentuk Kebiasaan

 

Belajar bahagia … aku rasa ada sesuatu yang selama ini tidak disadari banyak orang terkait belajar bahagia”, kata saya dalam hati, sesaat setelah berlatih hening, bermeditasi.
Saya lalu menyadari, penuh sekali pikiran ini terjejali dengan pengetahuan dan teori. Mulai dari tentang menjalani hidup ini butuh keikhlasan, menghadapi masalah perlu ketenangan pikiran, ketika ada yang berbuat salah maka sebaiknya dimaafkan, sampai perihal hari akan menjadi lebih indah kalau bersyukur, bukan berkeluh kesah. Bahkan konsep-konsep itu sudah hafal di luar kepala. Tetapi, tatkala bertemu dengan kenyataan, dan harus melakukannya, satu per satu semua hafalan itu melempem. Seolah tidak ada daya untuk menerapkannya. Salah satunya, ketika ada yang berbuat salah, dibalasnya malah dengan marah-marah. Seandainya diketahui mengapa yang terjadi bisa seperti itu.
Latihan dan kebiasaan. Iya, itu yang dibutuhkan. Supaya tidak sekadar tahu ajaran-ajaran indah itu, tapi juga bisa menerapkannya dalam kenyataan sehari-hari. Lebih bersyukur lagi kalau bisa menjadikannya kebiasaan.

Belajar bahagia yang begitu mendalam itu berarti belajar untuk mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti kebiasaan bermeditasi, mengikhlaskan, menenangkan pikiran, memaafkan, bersyukur, dan lain sebagainya. Jadi, belajar tentang bagaimana membentuk kebiasaan adalah sesuatu yang sangat penting.

Mengapa ini sangat penting?
Karena seringkali, kita tidak tahu mengapa kita bisa gagal mempunyai kebiasaan-kebiasaan baik itu. Malah yang terjadi sebaliknya, lebih rajin melakukan kebiasaan buruk, lalu menyalahkan diri sendiri karenanya. Kenyataannya, kita ini jarang, atau bahkan tidak pernah, belajar bagaimana sebenarnya cara untuk membentuk kebiasaan. Selama ini, kita tidak pernah tahu apa saja yang sebetulnya kita butuhkan untuk membentuk kebiasaan. Alhasil, ketika gagal membentuk kebiasaan baik, kita artikan sebatas karena kita tidak disiplin melakukannya.
Padahal sebenarnya, lebih dikarenakan kita tidak punya bekal kemampuan yang memadai mengenai bagaimana membentuk kebiasaan. Jadi, kita butuh mempelajarinya, dan tentu saja melatihnya. Semakin tekun berlatih, semakin mendapatkan hasil yang lebih baik.

Langkah awal yang saya lakukan adalah, dengan membiasakan diri membentuk kebiasaan baru. Yaitu dengan memilih satu kegiatan yang selama ini bukanlah kebiasaan saya, tapi kegiatan itu sederhana dan mudah untuk saya lakukan setiap hari. Misal terkait latihan meditasi, yaitu berlatih meditasi selama 2 menit. Atau menuliskan 1 hal yang membuat saya bersyukur, menyedekahkan 1 barang yang saya punya, makan 1 buah, jalan kaki di luar ruangan selama 10 menit, dan kegiatan lainnya yang serupa, asalkan sederhana dan mudah untuk dilakukan. Lalu, saya berkomitmen melakukan 1 kegiatan itu setiap hari selama 30 hari. Memang butuh niat untuk melakukannya.

Ketika sudah terbiasa membentuk kebiasaan baru, maka akan lebih mudah membentuk kebiasaan. Tentunya terkait kebiasaan-kebiasaan baik yang menjadi bekal dalam belajar bahagia. Meski terbuka kemungkinan juga untuk menerapkan cara ini dalam ranah yang lain, misal diet, mengelola keuangan, olahraga, dan sebagainya.

Ini adalah latihan pertama untuk membentuk kebiasaan baru, dan menjadi pondasi untuk belajar bahagia.

 

Latihan-latihan lainnya akan saya sampaikan di materi selanjutnya.
SENI MENJALANI HIDUP

3 – Happymorphosa Juni – Catatan Ikhlas


Sebagai manusia yang hidup di masa kecepatan dan kepastian disanjung berlebihan. saya berusaha melakukan segala sesuatunya secepat mungkin dan merencanakan masa depan supaya sesuai keinginan saya. Mengayunkan langkah menapaki perjalanan kehidupan dengan laju hidup yang tidak terlalu pelan dan memilih arah yang dituju memang masih diperlukan. Ketika itu sudah berlebihan, keindahan hidup menjadi lenyap. Setiap pergerakan terasa membosankan. Mengapa saya melakukan ini kalah cepat daripada dia? Di mana kenyataan yang sesuai dengan harapan saya? Bagaimana bisa rencana yang sudah matang sekejap jadi berantakan sedemikian rupa?

Suatu hari, karena saya suka seni, saya meluangkan waktu untuk melihat pertunjukan seni. Dan waktu itu pertunjukan yang saya tonton adalah pertunjukan seni tari. Seni yang menggunakan gerakan tubuh secara berirama itu untuk keperluan mengungkapkan perasaan pasrah antara kedua orang yang saling jatuh cinta. Tarian itu begitu terasa merupakan perpaduan dari beberapa unsur yaitu raga, irama, dan emosi.
Ketika menikmati pertunjukan tersebut, dalam keheningan pikiran, saya perlahan menyadari. Penari yang begitu indah gemulainya bukanlah penari yang menampilkan gerakannya paling cepat. *Melainkan penari yang begitu menghayati setiap gerakan anggota tubuhnya.*

 

Penari yang dianggap mahir itu juga bukanlah penari yang sebelum menari, ia sudah mampu menentukan di bagian panggung sebelah mana posisi kakinya terakhir akan dijejakkan. *Penari tidak diwajibkan memiliki kemampuan untuk memastikan “tujuan terakhir” posisi kakinya ada di mana. Ia menari hanya untuk menari saja.*

Di ranah seni tarik suara ternyata juga begitu. Penyanyi yang bagus itu bukanlah penyanyi yang asal menyanyikan lagunya paling cepat. Juga bukan penyanyi yang pada saat dia menyuarakan nada pertama, ia sudah memikirkan nada terakhir. Tapi penyanyi yang mampu menghayati setiap nada yang dilantunkan semerdu mungkin.

Karenanya, saya diingatkan kembali bahwa hidup ini bukanlah pertandingan adu kecepatan. Meski sekarang ini banyak orang bergerak kesetanan. Namun, untuk menjaga kewarasan sebagai manusia, hidup ini sepantasnya dipahami sebagai seni. Iya, hidup ini adalah seni. Serupa dengan ungkapan, “Earth without art is just “eh””
Semenjak itu, kalau saya diminta untuk memilih yang saya pelajari dalam hidup ini, dua di antaranya yang akan saya pilih adalah belajar bersabar, tidak tergesa-gesa, dan belajar mengikhlaskan tujuan.

Mahatma Gandhi yang jadi salah satu orang yang paling berpengaruh dalam proses pergerakan kemerdekaan India pernah berkata, “Ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam hidup ini, selain hanya menjalaninya dengan tergesa-gesa.” Sejujurnya, nasihat ini begitu menampar manusia-manusia modern yang akrab dengan ungkapan, “lebih cepat lebih baik”. Seperti orang yang berlari sangat kencang. Ia akan lebih mudah jatuh terjungkal. Kalau tidak pun ia akan mudah melewatkan keindahan pemandangan di sepanjang perjalanan.

Sekarang ini memang pilihan di tangan masing-masing. Demikian juga saat bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Apakah ingin menikmati waktu bersamanya dengan tergesa-gesa, bersama tapi sebenarnya pikirannya ke mana-mana, atau dengan perlahan bersabar, sepenuh hati menghayati kebersamaan yang terjalin, seutuhnya bersama? Dengan kata lain, pelajaran yang didapatkan adalah:

 Di dalam kesabaran, tersimpan cinta yang begitu penuh dengan keindahan.

Untuk itu, kalau pada suatu hari saya dianggap sebagai orang yang tidak suka tergesa-gesa, maka saya akan langsung bersyukur.

 

Kalau pada suatu hari saya melihat masa lalu saya sendiri dan ternyata saya jarang menentukan tujuan-tujuan yang pasti, tentu saya juga akan bersyukur.

 

Sudah sewajarnya jika hidup ini dirayakan tidak dengan tergesa, juga tidak terikat pada tujuan.

 

Rasanya, hanya dengan cara itulah hidup ini indah untuk dijalani. Salah satu kewajiban manusia setelah diberi berkah kehidupan ini adalah belajar untuk tidak tergesa dan mengikhlaskan keinginan. Sekali lagi saya mengingatkan sebuah pesan indah, yaitu hidup ini adalah seni, butuh kesabaran dan kebebasan.
Dulu, saya sempat menduga, kesabaran dan tidak punya tujuan pasti tak akan membawa saya ke mana-mana. Dan sebagai makhluk sosial, saya akan merasa bersalah ketika bersikap berbeda dibandingkan sikap kebanyakan orang.

 

Rupa-rupanya kesabaran dan mengikhlaskan tujuan itu terus dibutuhkan. Bahkan seperti pelajaran yang terus berulang dengan sengaja karena si murid belum berhasil-berhasil memahaminya sepenuh hati.

Perlahan dan menikmati setiap langkah, bukan bergelisah akan tujuan, adalah cara indah untuk menjalani hidup. Perlahan yang dimaksud di sini bukan karena malas, tapi lebih karena menyadari bahwa selalu ada yang layak disyukuri di setiap waktu yang berdetak.

Supaya mampu bergerak lebih terarah, mari kurangi laju hidup masing-masing, karena kita sudah melewati batas kecepatan.
Latihan yang saya lakukan selama ini adalah, setiap mau mulai suatu kegiatan, saya berhenti sejenak dulu, menyadari napas.

 

Mau menulis, berhenti sejenak. Mau buka puasa, berhenti sejenak. Mau balas komentar di social media, berhenti sejenak. Dan berlaku juga untuk kegiatan-kegiatan yang lainnya.

Ketika mulai muncul keinginan untuk segera melakukan ini dan itu, saya belajar untuk perlahan mengikhlaskan keinginan itu. Ini adalah langkah sederhana untuk berlatih ikhlas. Sebelum bertemu dengan situasi yang cukup tidak mudah untuk diikhlaskan 🙏

 

***

Bagaimana? Menarik bukan? Nantikan update materi selanjutnya, ya. Tenang, materi ini copyleft kok, jadi bisa disebarkan tanpa perlu izin. Selamat menemukan kebahagiaan!

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: