Jangan Banyak Membicarakan Tentang Dirimu Sendiri

Sebel ga sih kalau lagi baca artikel atau melihat akun media sosial milik seseorang yang banyak membicarakan tentang dirinya?

Sama, saya juga sebel. Apalagi pernah merasa melakukannya. Dulu saya pernah terlalu kagum terhadap diri sendiri, terhadap pencapaian diri sendiri, sampai tak henti-hentinya membicarakan tentang diri sendiri. Dipikir-pikir, saya kok mau muntah ya, lihat diri sendiri yang menulis tentang diri sendiri. Saya banyak bicara tentang “aku” atau “kami”. Padahal lebih baik kita membicarakan apa yang bisa kita lakukan untuk dunia, bukan? 

Padahal… kagum pada diri sendiri alias ‘ujub‘ dalam bahasa Arab itu ga boleh, lho. Fenomena membicarakan diri sendiri juga semakin marak setelah istilah selfie atau foto diri sendiri booming. Didukung teknologi kamera handphone yang sudah menyediakan kamera depan, tingkat pamer manusia semakin meningkat. Baik yang pamer melalui gambar maupun melalui tulisan. 

Ujub? Narsis sih kalau bahasa kerennya.

Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda) adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam dan akhirnya tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.[1]– – Wikipedia, 2017

Coba deh, tengok artikel-artikel berikut ini:

Inilah Penyebab Mengapa Manusia Suka Membicarakan Diri Sendiri

Suka Membicarakan Diri Sendiri? Itu Tanda Anda Depresi

Membicarakan Diri Sendiri Membuat Otak Merasa Nyaman

Seram, bukan? 

Ini yang paling seram:

Tim peneliti dari University of Kassel, Jerman menemukan bahwa orang yang paling sering menggunakan kata ganti orang pertama tunggal seperti ‘saya’ atau ‘aku’ lebih cenderung mengalami depresi ketimbang orang yang lebih suka memakai kata ganti orang pertama jamak seperti ‘kita’ atau ‘kami’. – detik.com (2013)

Ayo bertekad mulai detik ini, jangan terlalu banyak membicarakan diri sendiri. Mungkin Anda bisa membaca Cara Berhenti Membicarakan tentang Diri Sendiri yang ditulis .

Semoga kita tidak termasuk orang yang suka riya’, sum’ah, dan ujub lagi, ya, Moms. Pokoknya apapun itu yang terkait dengan menyanjung atau membanggakan diri sendiri secara berlebihan. Aamiin.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: