Jepang, Aku Benar-Benar Jatuh Cinta (part 1)

Akhirnya, tiket itu benar-benar ada di tangan. Ya, sebuah tiket penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta menuju negeri yang sudah lama kuimpikan, Jepang. Kurang lebih 10 jam sejak memegang tiket, aku akan menghirup udara negeri Matahari Terbit itu.


Tiket gratis bermodalkan bismillah.
Tiket gratis bermodalkan bismillah.


Pagi itu, 10 Maret 2014, aku sedang menggulung laman Facebook-ku dan melihat seorang temanku, Hani Ramadhan, memberitahukan pengumuman mengenai Jenesys 2.0. Kubuka pengumuman di situs Kemenristek itu dan rasanya ingin berteriak. Persyaratannya cukup mudah, hanya mengisi formulir, melampirkan fotokopi ijazah, paspor, KTP, serta foto dan aplikasi visa. “Tuhan, apakah memang ini jalanku untuk menuju Jepang? Jika ya, maka mudahkanlah.” Begitu pintaku padaNya saat itu. Aku pun menyampaikan niat untuk mengikuti program ini pada papaku yang saat itu masih di rumah, belum berangkat kerja. Papaku ternyata mendukungku, terlebih karena materinya seputar Urban Planning.

Setelah puas membaca pengumuman dari awal hingga akhir, sontak aku terperanjat di beberapa paragraf terakhir. Di sana disebutkan bahwa batas pengumpulan berkas adalah tanggal 12 Maret 2014. Ya, hanya berjarak 2 hari setelahnya! Akhirnya, bismillah, bermodal nekat, aku segera mengunduh formulir dan aplikasi visa, membaca guideline program, serta mengumpulkan dokumen pendukung. Aku sempat bingung, bagaimana ya, cara agar dokumen sampai di Jakarta tepat waktu. Tiba-tiba aku teringat tanteku yang tinggal di Jakarta. Namun tak lama segera kuurungkan niatku, aku memutuskan untuk mengirimkan sendiri dokumen itu.

Hari itu seharusnya aku asistensi kepada dosen pembimbing di kampus. Namun, aku membatalkannya karena mengalokasikan waktu untuk mengisi formulir. Pukul empat sore, aku berangkat ke tempat pengiriman dokumen dekat rumah, namun ternyata, mas pegawai berkata bahwa dia tidak menjamin akan sampai tepat waktu di Jakarta sebelum pukul 3 sore. Hmmm… aku pun menghela nafas. Segera aku cari tempat pengiriman dokumen yang lainnya. Untung jaraknya tak jauh dari tempat pertama. Di tempat kedua ini,  rupanya mbak pegawai berkata bahwa komputernya sedang rusak. Walhasil, aku makin cemas saja. Segera aku pergi ke tempat ketiga, dan antrinya cukup lama. Hampir maghrib, dokumenku baru selesai diurus oleh pegawai tersebut. Aku pun pulang sambil berdoa agar map coklatku itu sampai di Kantor Kemenristek sebelum pukul 3 sore pada 12 Maret 2014.

***

Suatu hari setelah shalat maghrib, aku berangkat menuju rumah murid lesku. Namun sebelumnya, aku memutuskan untuk ke ATM terlebih dahulu. Sebelumnya aku pun mengecek facebook dan menemukan message dari Riyan, dia memanggil namaku. Namun aku tidak membalasnya karena terburu-buru berangkat. Sesampainya di ATM, aku yang sedang bertransaksi terkejut, mahasiswa di sebelahku berteriak, “…. Riyan keterima Jenesys!” hanya itu yang sempat aku dengar jelas. Aku pun terkejut. “Jenesys? Riyan?” gumamku. Aku pun hanya menoleh ke arah orang itu dan segera meninggalkan ATM. 

Saat sedang mengajar muridku, aku dikejutkan oleh sebuah SMS dari temanku, Fery, yang isinya mengatakan bahwa aku tidak akan bisa pergi ke Jakarta untuk mengikuti lomba pada tanggal 25 April 2014. Aku pun terkejut. “Hah? Kenapa?” tanyaku. Mengapa dia bisa begitu pedenya berkata aku tidak bisa ke Jakarta? Fery pun tak kunjung membalas, hingga akhirnya di tengah jalan saat pulang dari les kubuka handphoneku dan kubaca SMS balasannya, “karena kamu ada di Jepang hari itu…”

Deg. Aku pun tersenyum, mengucap syukur, dan bingung harus melakukan apa lagi sebab aku sedang menyetir. Segera kumasukkan handphoneku ke dalam tas dan melanjutkan menyetir.

Di jalan, aku tiba-tiba teringat, seminggu sebelum hari itu aku bermimpi berjalan-jalan di Jepang. Ah, ternyata, itu firasat…

Alhamdulillah…. Terima kasih ya Allah.

Setelah mengirimkan lagi dokumen berisi paspor asli, aplikasi visa, foto, surat izin, dan surat keterangan sehat, aku dan 4 orang teman sekelasku pun berdoa supaya dokumen sampai di kantor Kemenristek dengan selamat.

Aku menjalani hari seperti biasa sambil memantau grup peserta Jenesys 2.0 8th Batch Urban Engineering and City Planning. Rasanya deg-degan sekaligus tak percaya bahwa kaki ini akan melangkah lagi…. mimpi yang telah dituliskan di kamar sejak SMA, akhirnya tercoret… 

Biaya pengiriman yang totalnya sekitar 30000 rupiah itu diganti oleh Allah dengan biaya penerbangan gratis Surabaya-Jakarta-Tokyo serta biaya hidup 9 hari di Jepang. Lagi-lagi, Alhamdulillah…

Tiga hari sebelum keberangkatan, aku, Rizky (Beye), dan Irfan belajar Bahasa Jepang dengan seniorku yang sudah pernah ke Jepang, mas Setyo namanya. Walaupun hanya beberapa jam, namun sedikit banyak aku mulai ingat bahasa Jepang yang sudah lama aku tinggalkan. Setelah itu, kami, para peserta dari ITS memutuskan untuk berkenalan terlebih dahulu di plasa Jurusan Arsitektur. Semua peserta dari ITS hadir kecuali Deasy. Ditambah peserta dari Akuntansi Unesa, Putri. Kami bersebelas akan berangkat bersama pada Senin, 21 April 2014 dari Surabaya ke Jakarta. Oleh karena itu alangkah baiknya jika berkenalan dan berkoordinasi dulu.


Nihongo o benkyoshimasu!
Nihongo o benkyoshimasu!



Dua hari sebelum keberangkatan, aku baru menyiapkan segala sesuatunya.  Tak lupa kubawa buku keramat, berjudul Japan, yang dulu pernah dibeli mama saat ke Jepang. Buku itu berisikan segala hal tentang Jepang, disajikan berwarna dan menarik, sehingga menurutku, wajib sekali untuk dibawa. Dan siapa tahu…. berguna saat di homestay nanti. 

***

Penerbangan dari Surabaya ke Jakarta cukup lancar dan kami pun menunggu cukup lama sampai jam 5 sore untuk briefing. Sejak siang kami sudah bertemu dengan para peserta lain dari berbagai daerah. Seru sekali! Aku berkenalan dengan teman-teman dari Aceh, Kalimantan, Purwokerto, Pekanbaru, Makassar, Tegal. 

Kontingen Surabaya (paling kiri: William dari UK Petra, paling kanan: Putri dari Unesa) *foto diambil dari album Irfan Irwanuddin*
Kontingen Surabaya (paling kiri: William dari UK Petra, paling kanan: Putri dari Unesa) *foto diambil dari album Irfan Irwanuddin*



Setelah tepat pukul 5 sore, pihak tour membagikan map dan membriefing kami. Barulah sekitar saat maghrib, kami masuk ke terminal keberangkatan internasional.

Briefing dari Pihak Tour
Briefing dari Pihak Tour

***

Japan Airlines alias JAL, ialah pesawat yang akan membawa kami, 100 orang pemuda-pemudi Indonesia untuk menimba ilmu Urban Engineering and City Planning di Jepang.

Jantung ini masih berdegup. Rasanya baru kemarin aku mendaftar beasiswa Monbukagakusho dan memutuskan mengundurkan diri di step akhir. Rasanya baru kemarin aku mendaftar beasiswa short-term exchange program Kumamoto University dan gagal. Rasanya baru kemarin Ya Tuhan…
***

Pesawat Japan Airlines pun tinggal landas dari bandar udara Soekarno Hatta, malam itu. Aku mencari bangku 57A. Dan rupanya bangku itu terletak di belakang sendiri. Aku menunggu, siapa yang duduk di sebelahku. Orangnya tak kunjung datang. Tiba-tiba datanglah Adit, orang yang tadi berkenalan denganku di bandara. Rupanya dia duduk di bangku 57C. Aku dan dia baru sadar kalau tidak ada 57B. Kami pun seperti orang udik, lalu memotret petunjuk bangku 57A dan C yang lucu itu (menurut kami).

Adit orangnya ramai sekali, dia kuliah di Jurusan Teknik Sipil Universitas Soedirman Purwokerto. Walaupun dia orang Teknik Sipil, namun pengetahuannya tentang pesawat patut diacungi jempol. Akupun mendengarkan penjelasannya tentang pesawat, mulai dari jenisnya, runwaynya, dan lain-lain. Sampai pada saat ia berkata bahwa jenis pesawat ini sama dengan pesawat MH370 yang lenyap beberapa waktu lalu. Deg. “Oh ya, aku belum berdoa. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan pesawat ini,” gumamku saat itu. Setelah itu, di pesawat, sambil menunggu makan malam, aku pun membaca buku, mendengarkan musik dan menonton film dengan earphone, sambil mengobrol saja dengan Adit. 

***

Hari mulai berganti. Sayangnya aku sepertinya duduk di sebelah Barat, sehingga tidak dapat menyaksikan indahnya prosesi sakral terbitnya matahari yang indah di Jepang. Tapi tak apa. Duduk manis di bangku paling belakang Japan Airlines saja sudah sangat kusyukuri. Apalagi melihat langit yang indah di penerbangan malam dan pagi hari itu.

Langit Biru dari Jendela Pesawat
Langit Biru dari Jendela Pesawat


Adit Bermain Game
Adit Bermain Game


Memang, Tuhan menakdirkan semua indah pada waktunya. Bagaimana tidak indah, aku harus berangkat ke Jepang di saat mengerjakan tugas akhir. Tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku.

Pesawat kami berada di ketinggian berpuluh ribu meter dan menempuh jarak sekian mil yang akhirnya sampai juga di Narita International Airport. Sejak roda pesawat menyentuhkan dirinya di bandara itu, aku mulai jatuh cinta dengan Jepang…

Entertainment Center :))
Entertainment Center :))


Narita International Airport
Narita International Airport


Akhirnya, Narita...
Akhirnya, Narita…


Bismillah...
Bismillah…


Suasana di Narita International Airport. Kami siap mengikuti program Jenesys 2.0...
Suasana di Narita International Airport. Kami siap mengikuti program Jenesys 2.0…

(bersambung)

Surabaya, 7 Mei 2014
Adiar Ersti Mardisiwi (Ecci)

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

1 Comment

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: