Jepang, Aku Benar-Benar Jatuh Cinta (part 2-end)

Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini.

Petualangan kami di negeri asal makhluk lucu bernama Doraemon pun dimulai. 

Welcome to Japan. Itulah tulisan pertama yang aku baca di sebuah papan reklame di Narita Airport. Hanya tiga kata, namun tetap saja aku tak percaya. Aku sudah berada di Jepang!

Kulihat teman-temanku langsung mengeluarkan kamera masing-masing, berfoto sendiri, berdua, bertiga, bahkan sekampung. Wajar saja, kami terlalu excited setelah sepuluh jam berada di pesawat yang cukup membuat mati gaya.

Setelah berproses dengan hal-hal seperti imigrasi dan bagasi, kami segera dibagi menjadi 4 grup. Grup A, B, C, dan D. Namaku yang tak kunjung dipanggil membuatku jelas berada di grup terbuncit. Kami pun dibagikan name tag dan luggage tag. Setelah itu, kami naik bis menuju hotel East21 Tokyo.

Aku segera memasuki bis grup D. Di sana ada seorang pria bernama Pak Ochiai Toshihide. Beliau selama 9 hari didapuk menjadi koordinator grup D bersama Ibu Hanada Keiko. Di perjalanan menuju hotel, kami sudah disuguhi warna-warni bunga nan indah. Entah mengapa, rasa jatuh cinta pada Jepang meningkat drastis setelah melihat bunga-bunga cantik tersebut. Kami datang di waktu yang tepat, musim semi! It’s spring time, man! Di jalan juga kami berulang kali terbelalak dengan tatanan lansekap kota yang apik, struktur jembatan yang spektakuler, dan juga…. Tokyo Skytree. Menara yang belakangan aku baru tahu, tertinggi di dunia. Di hari ke delapan, kami akan mengunjungi menara itu. Kesempatan yang belum pernah didapatkan peserta Jenesys batch lainnya. Aku pun sibuk sendiri dengan kameraku, tak mau melewatkan detil-detil menarik di sana. Melihat orang-orang antri dengan teratur, berangkat kerja dan sekolah dengan berjalan kaki, membeli minuman di vending machine, bersepeda, merupakan pemandangan yang mulai hari itu harus kubiasakan. Oh ya, ada yang janggal. Jarang sekali kudengar klakson juga kendaraan yang ugal-ugalan. Ah ya, aku sedang di Jepang.

Suasana jalan di Tokyo. Negeri seribu Vending Machine! Ga perlu takut kehausan, deh.
Melihat Jepang dari sudutpandang seorang mahasiswa arsitektur tentu menentramkan hati. Tata kota yang menakjubkan, lansekap yang apik, jalan yang bersih, street furniture yang beragam namun tetap informatif, cukup menyesakkan jiwa. Ingin rasanya ‘membetulkan’ milik negeri sendiri. Suatu hari nanti, aku pasti bisa. Lagipula, tujuan kami berpetualang kemari juga untuk belajar tentang hal ini, bukan? 😉

View dari kamar Hotel East 21 Tokyo

Bis yang mengantarkan kami dari bandara telah tiba di Hotel East 21 Tokyo. Pak Ochi, sapaan akrab koordinator kami, memberi tahu apa yang harus kami lakukan selama 9 hari ke depan, terutama untuk hari pertama. Banyak sekali peraturan yang harus kami patuhi, terutama terkait ketepatan waktu. Aturan yang cukup sulit dipatuhi menurutku. Peraturan yang kedua adalah, pemberlakuan jam malam, yaitu tidak boleh pulang lebih dari jam 10 malam dan pergi ke luar harus bersama dua orang atau lebih. Hehehe. 

Di hotel kami yang pertama ini, aku sekamar dengan Karina Ananta, gadis asal Universitas Lampung, Karin panggilannya. Kami diberi kunci masing-masing dan kami masukkan ke dalam name tag. Satu orang mendapatkan satu kunci.
Kamarku dan Karin

Di dalam kamar hotel, seperti yang sudah aku baca di buku Panduan Program Jenesys 2.0, terdapat sebuah kloset otomatis. Kloset tersebut memiliki satu set tombol-tombol. Kemudian suara televisi dari ruang utama juga dapat didengarkan di dalam kamar mandi. Asyik sekali… Walaupun agak seperti orang udik, namun hari itu aku sangat gembira sekali! I’m a first-timer!

Oh ya, di perjalanan menuju kamar ternyata dihiasi view menakjubkan ini. Sejenak nafasku terhenti. Tak percaya, di depan mataku telah berdiri sosok menara pencakar langit, tertinggi di dunia, Tokyo Skytree.

View dari sisi lain hotel



Setelah puas mendekam di dalam kamar, kami berangkat ke East21 Hall untuk mendengarkan penjelasan mengenai program yang akan kami ikuti selama 9 hari ke depan.
Menuju ke East 21 Hall

Penjelasan Mengenai Program Jenesys 2.0. Karena kelelahan, aku mengantuk di ruangan ini.
Malam harinya, beberapa teman-teman dan aku tak lupa mengunjungi Shibuya yang legendaris itu! Oh Tuhan, apakah ini kenyataan?
Gemerlap Shibuya di malam hari… yang dulunya hanya bisa kulihat di tivi-tivi.

Apakah kamu pernah mendengar Hachiko? Ya, ialah sang anjing yang sangat mencintai tuannya, sampai-sampai ia meninggal saat menunggu tuannya pulang. Akhirnya ia diabadikan menjadi patung ini, di Shibuya. Di depan patung ini ada replika kereta sang majikan.


Keesokan paginya…. Segar! Kami akan berangkat ke Sendai! Perjalanan kami hari itu penuh dengan semangat. Bagaimana tidak, kami akan duduk di kereta cepat Shinkansen itu.
Lihat! Nun jauh di sana ada Tokyo Skytree! Ini kufoto dari dalam bis, lho.
Di perjalanan menuju stasiun kereta Tokyo Station, aku menemukan bunga cantik ini. Belakangan aku baru tahu, namanya bunga Azalea. Ah, aku ingin memetikmu dan membawa pulang ke negeriku! Kirei desu ne!
Selamat pagi Bunga Azalea!
Kami telah sampai di Tokyo Station. Jantungku berdebar. Orang-orang berlalu lalang. Begini sibuknya stasiun kereta di  Jepang. Angka-angka yang tercatat di sana selalu tepat…. katanya, tak pernah meleset.
Jadwal keberangkatan kereta cepat Shinkansen.
Dan, hap! Tuhan, benarkah ini Shinkansen? Warnanya, bentuknya, sungguh membuatku terharu. 
Mak! Akhirnya aku bisa melihat Shinkansen dari jarak dekat!
Begitu pula sambungannya.

Siapakah gadis-gadis ini? Bisakah kamu menebaknya?

Sesampainya di Sendai, kami berkunjung ke Tohoku Institute of Technology atau yang biasa disingkat TohTech. Di sinilah kami menimba ilmu, terutama tentang desain bangunan antigempa, tur keliling kampus, selain itu tak lupa berkenalan dengan mahasiswa di sana. Aku jadi ingat, dulu pernah ingin kuliah S1 di Jepang :”) Tapi Tuhan berkehendak lain. 

Kami tiba di Tohoku Institut of Technology (TIT). Coba lihat desain fasade bangunan gedung ini…

Bracingnya menguatkan sekaligus menambah estetika fasadnya. 

Desain bracing di gedung yang lain.

Malamnya, kami berkelana ke sepanjang jalan di Sendai. Menelusuri gang-gang kecil, berhenti di taman-taman kota, dan menikmati Sendai yang dingin. Brrr. Eh, waktu di perjalanan, kami menemukan parkir hidrolik ini.
Saat menikmati perjalanan di sebuah gang di Sendai, kami menemukan parkir hidrolik ini!

Hari-hari berikutnya kami habiskan di Kitakata, di prefektur Fukushima. Kitakata adalah sebuah kota kecil, penduduknya sedikit, namun sangat indah dan damai.
Program Handbook dan Kitakata Tourism Guidebook yang sangat membantu kami selama di Jepang.

Penyambutan rombongan kami di Kota Kitakata

Salah satu paket makan siang terenak selama program ini :p

Di sela-sela perkuliahan di Kitakata, kami malah menghitung uang sisa di dompet, eh terkumpul setara Rp 200.000,00 lho!

Sembari perkuliahan berlangsung, aku mencatat beberapa poin penting. Kitakata terkenal dengan….. silakan dibaca sendiri 🙂

Aku lupa namanya, yang jelas ia mengerjakan proyek perbaikan jalan di Kitakata. 

Suasana jalan sebelum diperbaiki.

Fasade Kura di Kitakata (before-after).
Kami pun melanjutkan dengan observasi keliling kota Kitakata. Kami melihat langsung koridor jalan yang diperbaiki tadi. Tak lupa kami amati dan catat temuan-temuan penting untuk dituliskan di buku program yang berwarna pink tadi. Itulah pekerjaan kami setiap hari, mencatat hal-hal penting dan temuan menarik!
Dari dalam bis, aku tak sengaja mendapatkan gambar anak-anak yang baru pulang sekolah ini. 

Dapat sapaan dari seorang ibu di pinggir jalan di Kitakata.

Sebuah jalan di Kitakata yang telah diperbaiki. Hening sekali, bukan?

Kamu tahu apa arti marka itu?

Kamu tahu apa itu Kura? Kura adalah sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan hasil panen para petani, semacam lumbung. Namun sekarang sudah banyak beralih fungsi. Salah satunya seperti ini, menjadi toko.
Sebuah papan penunjuk arah di Kitakata. Rapi dan informatif, ya! 

Kitakata City Hall/Balai Kota. Senang rasanya melihat jajaran sepeda yang rapi di sebuah gedung pemerintahan.


Salah satu bangunan Kura di pinggir jalan. Banyak sekali Kura yang dikonservasi/dilestarikan di Kitakata ini. 

Kura dengan sebuah simbol di gewelnya. 

Perjalanan pun dilanjutkan ke sebuah jalan yang dipenuhi bunga Sakura dan Tulip. Kami pun langsung menyebar dan mencari spot-spot menarik. Berfoto bersama bunga!
Melanjutkan perjalanan ke Jalan Sakura! Eh ada Tulip lho!

Jenis Sakura yang ‘jatuh’ 🙂 Cantik!

Ibu-ibu muda berpiknik bersama di bawah pohon bunga Sakura.
Setelah puas berjalan-jalan, kami kembali lagi ke tempat penyambutan untuk dipertemukan dengan…….. jodoh. Ups, bukan. Dengan orangtua angkat kami! Lihatlah yang di sebelah kanan, barisan orangtua-orangtua angkat telah membawa sejumlah kertas berisikan biodata peserta.
Kami deg-degan menunggu pembagian orangtua asuh, eh salah, orangtua angkat di homestay.
Ini nama Ibu angkatku. Kami memanggilnya Okasan. Okasan tinggal di rumah bersama Yoko-San, anaknya yang berusia 33 tahun dan Obasan (nenek) berusia 93 tahun. Super sekali.
Ini nama orangtua angkatku! Keiko Muto! Yay, our Okasan!~
Oh iya, aku belum memberitahu, ini homestay kami, namanya Shitanoi. Keren ya rumahnya 🙂 Depannya ada rel kereta api lho.
Sesampainya di rumah, kami disambut dengan hidangan khas Jepang! Slurrpy!

Tak lupa kuabadikan sudut-sudut rumahnya. Begitu damai tinggal di sini. Rasanya aku ingin memiliki rumah bergaya Jepang saat besar nanti.

Suasana ruang tamu homestay. Nyaman bukan? Apalagi ada sekat pembatas yang Jepang banget!

Si Karina berfoto di depan tempat ibadah keluarga angkat kami. Yang di atas itu milik kepercayaan Shinto, yang di bawah milik agama Budha, kata Okasan.

Selama 2 hari tinggal di Homestay, kami dibawakan handphone rental ini. Psst tidak boleh telepon untuk bertanya arti bahasa Jepang dari sebuah kata. Hanya boleh untuk panggilan darurat saja. Hiks hiks.

Inilah kloset otomatis yang keren itu. Hampir semua tempat di Jepang sudah menggunakan kloset ini. Betah di kamar mandi jadinya, mainan tombol. Ups!
Bosan di rumah, bersama Okasan, kami naik mobil menuju toko pakaian, toko souvenir, dan yang paling penting, Daiso, toko serba 100 Yen alias 11.000-an rupiah 🙂 Setelah itu kami berfoto di pinggir jalan di Kitakata saat pulang ke rumah.

Selesai belanja, di kamar homestay, kami pun membongkar barang belanjaan. Tadaa~ Ini barang belanjaanku. Mana barang belanjaanmu?

Lelah belanja, kami pun disuguhi makan buatan Yoko-San. Makanan sehat, perbaikan gizi. 
Sushi langsung dari tangan orang Jepang. Dijamin seger!! 

Sashimi! Aku paling suka yang Salmon.

Kalap time! Okasan membuka buku panduan yang kubawa, lalu menjelaskan “Ini adalah….”
Ke Jepang memang tak lengkap rasanya jika belum berfoto dengan pakaian tradisionalnya. Kimono. Hayo, kamu tahu tidak, apa bedanya Kimono dan Yukata? 🙂

Niatnya mau pose nunduk, eh tapi ga seragam nih tinggi nunduknya.
Dua malam tinggal di homestay, kami harus meninggalkannya. Kami diantarkan ke tempat penyambutan untuk melakukan diskusi. Arigatou, Okasan… Sayonara. Hiks. Terlalu banyak kenangan indah bersama Okasan dan keluarganya.

Focused Group Discussion kelompok D. Satu grup dibagi jadi dua, untuk mempresentasikan hasil temuan masing-masing. Setelah itu, digabung jadi satu untuk dipresentasikan keesokan harinya.
Selesai berdiskusi, kami pulang ke Tokyo!

Shiiiinkaaaanseeeeen! Jepret dulu!!

Ini lho yang paling favorit di Shinkansen. Supaya ga mati gaya, Shinkansen menyediakan katalog yang menjual barang-barang inovatif, unik, dan lucu. Contohnya seperti pembersih telinga berikut ini. 

Tokyo Sky Tree dilihat langsung dari kamar hotel. Oh!
Malamnya kami ke Akihabara. Tempat belanja paling hits. Aku tak lupa membeli souvenir-souvenir lucu dan kamera Polaroid Instax. Hehehehe. Sebenarnya juga mau membeli Nano Block, namun apa daya, uang menipis.
Mau beli Nanoblock Tokyo Tower tapi tak punya uang….
Esoknya, kami pergi ke Asakusa dan Kuil Sensoji. Di sana, kami berbelanja dan berfoto di kuil-kuil tradisional.

Eh ini pertandingan Sumo bohongan antara peserta grup D dan supervisor :p Foto ini diambil sebelum makan di Restoran Sumo.

Hiyaaaak! 

Lihat! Di depan minimarket/konbini/convenient store terdapat bak sampah yang dipilah-pilah. Di pinggir jalan juga udah gini semua. Huhuhu di Indonesia yuk bikin yuk!


Welcome to Tokyo Skytree

Menara-menara tertinggi di dunia. 
Melihat kota Tokyo dari Tokyo Skytree. Ketinggian 400-an meter.

Menjejakkan kaki di Glass Floor
Mendongak ke langit, untuk melihat kebesarannya dan kebesaranNya.

“Jepang…” Izinkan aku mengulanginya lagi, “Aku benar -benar jatuh cinta, padamu.” Semoga suatu hari nanti, aku bisa menapaki indahnya negeri matahari terbit itu lagi. Bersama yang lain, mungkin 🙂 Selamat tinggal Negeri Doraemon! Sayonara!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: