Jurus Pengasuhan Anti Stress a la Kiki Barkiah

Pagi ini saya, suami, dan si kecil pergi ke asrama haji Sukolilo naik Uber. Kami berangkat jam 8 lebih. Seminar pun dimulai saat kami baru saja masuk ruangan.

Ya, hari ini adalah hari yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Saya mengikuti seminarnya bu Kiki Barkiah. Siapa beliau? Penulis buku 5 Guru Kecilku 1 & 2.


Baca juga: Menang Giveaway Buku ‘5 Guru Kecilku’


Eh, ternyata seminar ini dimoderatori oleh mbak Euis Kurniawati. Salah satu teman di Institut Ibu Profesional Surabaya, trainer, dan founder komunitas To be Wonderful Wife. Beliau mengajak kami untuk latihan konsentrasi dulu, sebelum seminar dimulai. Biar materinya masuk ke otak dengan baik.

Oke lah, langsung saja tanpa perlu bertele-tele, saya jelaskan isi seminarnya. Apa sih materinya? JURUS PENGASUHAN ANTI STRESS dan minim marah-marah. Nah, menarik, bukan?

Mengapa kita mudah emosi dengan anak?

Terkadang kita lupa jika anak adalah amanah. Kita lupa perintah Allah terkait keluarga. Di surat at-tahrim ayat 6 yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Kita juga seringkali menganggap anak sebagai beban. Siapa yang merasakannya, ngacung dong 😀

Pasangan suami istri yang hubungannya tidak harmonis pun rentan mengalami emosi. Apalagi yang banyak beban pekerjaan, atau memiliki cobaan misalnya kemiskinan, dan lain-lain.

Selain itu, mudah emosi pada anak, kata bu Kiki Barkiah juga bisa disebabkan minimnya ilmu pengasuhan yang dimiliki orangtua. Visi kita yang berbeda dengan lingkungan misalnya keluarga besar, juga bisa mempenaruhi.

Faktor lain yang mungkin menyebabkan kita mudah emosi ialah kelelahan, kegiatan anak yang tidak teratur, mengejar target pekerjaan, serta lingkungan yang tidak nyaman.

Hmm… banyak sekali ya, faktor penyebab emosi terhadap anak. Apakah kita salah satunya? Segeralah beristighfar, Moms. 

Sering pula kita temui anak usia sekitar 8 bulan yang sedang hobi bereksplorasi. Ia akan memegang dan memain-mainkan semua benda yang ia lihat. Tapi apa respon kita? “Eh… nakal ya kamu!” atau “Jangan!”. Nah, itulah pembunuhan karakter anak sejak dini. Kasihan kan, kalau si anak tidak mau mencoba lagi. Padahal ia sedang dalam tahapan eksplorasi.

Yang perlu kita ingat adalah, anak kita bukan milik kita. Sering kita merasa anak kita adalah milik kita. Kalau ada anak tetangga yang memecahkan kaca jendela? Tegakah kita memarahinya? Tega mana memarahi anak sendiri atau tetangga? Hmm.. renungkan. Itu karena kita merasa anak tetangga bukan milik kita, sedangkan anak kita adalah milik kita. Namun di dunia ini tidak ada yang benar-benar milik kita, kan ya… Anak adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga dengan baik.

Komunikasi Mati Gaya

Apa sih, komunikasi mati gaya? Sebut saja memerintah, mengkritik, meremehkan, mengecap, meramal, menasehati, menyindir, dan masih banyak lagi. Siapa di antara kita yang pernah melakukannya pada anak sendiri atau pada anak orang? Tolong hentikan. Cukup. Sampai di sini.

Ketika kita melakukan salah satu atau semua dari yang saya sebut di atas, anak akan kehilangan rasa percaya dirinya. Anak akan melihat kekurangannya, merasa tidak punya harga diri, dan tertekan. Hiks… Saya pernah mengalaminya dan ini terbawa sampai besar, lho. Makanya, pola asuh orangtua kita yang buruk zaman dahulu itu harus diputus. Jangan sampai itu menjadi hantu di pikiran kita, menjadi ghost of our parenting… I i i i ikkk *suara kuntilanak*. Hal itu membayangi kehidupan kita dan pada akhirnya menjadi satu dengan diri kita, sehingga kita terbiasa melakukan hal-hal negatif dalam gaya komunikasi kita pada anak. Naudzubillaahimindzaalik.

Fenomena ini memang umum. Banyak orangtua yang mati gaya dalam mengurus dan mendisiplinkan anak. 

Parahnya, efek dari rasa tertekan yang di alami anak akan menurunkan kemampuannya dalam:

  • berpikir logis
  • mencari solusi
  • menganalisis
  • mengambil keputusan

Satu hal yang perlu kita tanamkan di otak kita adalah: kesabaran kita menemani anak-anak sekarang adalah investasi untuk masa depan.

Disiplin dan Hukuman

Disiplin itu menggabungkan pendidikan dan pelatihan. Disiplin itu berarti menggabungkan perintah dan larangan. Kita mengajari bagaimana anak seharusnya bersikap. Kita sebagai orangtua memberi instruksi pada anak. Orangtua juga seharusnya menjadi role model bagi anak. Anak juga diharapkan dapat mengerti harapan orangtua. Disiplin juga harus berulang kali disampaikan, agar menancap di otak.

Bagaimana Cara Rasul Mendidik Anak?

  • Ajarilah dulu. Permudahlah, jangan dipersulit. Berilah kabar gembira, bukan ancaman. Jika marah, diamlah. HR Ahmad dan Bukhari.
  • Tenang dan tidak terburu-buru
  • Lembut dan tidak kasar
  • Tahan amarah. Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Rasulullah juga manusia. Beliau pernah marah. Namun, marah yang seperti apa? Bagaimana cara mengatasinya? Kita harus menahan amarah kita. Selengkapnya baca QS Ali Imran: 134.
  • Memaafkan dan tidak memarahi. Selengkapnya baca At Tagabun 14-15.
  • Menguasai diri ketika marah
  • Hati yang penyayang
  • Toleransi
  • Seimbang dunia-akhirat
  • Bersikap adil
  • Menunaikan hak anak
  • Tidak mencela
  • Membantu anak taat
  • Menceritakan kisah-kisah
  • Melatih lifeskill
  • Mengarahkan meneladani Rasul
  • Latihan shalat 3 tahun
  • Bertahap dalam mendidik
  • Mengoreksi kesalahan. Rasulullah mencontohkan untuk memanggil anak, “Wahai anakku…” baru ditanya dan didoakan. Ceritakanlah sirah nabawiyah sejak kecil.
  • Memperlihatkan cambuk
  • Menjewer daun telinga
  • Memukul (kalau tidak mau shalat) di usia 10 tahun, tidak lebih dari 10 pukulan, dan sedang.

Kapan waktu yang tepat memberi nasehat?

Beri ruangan anak untuk menangis. Bu Kiki Barkiah mempersilakan anaknya untuk menangis dulu, masuk ruangan, kalau sudah tenang, baru diajak bicara.

  • Saat perjalanan. Karena anak-anak lebih fokus. Bawa buku untuk lesson plan dan agar tidak mati gaya.
  • Waktu makan
  • Waktu anak sakit


So…

    Jadilah suri tauladan yang sudah Nabi ajarkan. Inilah cara mendidik tanpa komunikasi verbal.

    Oh iya, anak usia 1,5-2 tahun sudah bisa diajak membereskan mainannya. Tentunya dengan instruksi yang jelas dan dicontohkan. 

    Biasakan juga anak dengan peraturan di rumah, misal standar pagi, siang, sore, malam. Selengkapnya baca di buku 5 Guru Kecilku saja, ya 🙂

    Bagaimana cara membuat anak meneladani Rasulullah?

    Keluarga saya menggunakan buku Muhammad Teladanku sebagai teman sehari-hari. Saya dan suami bergantian membacakan sirah nabawiyah. Apa sih sirah nabawiyah? Apa pentingnya buat keluarga kita?

    Sirah nabawiyah adalah kisah sejarah nabi Muhammad dan para sahabat di zamannya. Kisah-kisah ini sarat hikmah dan sebaiknya diketahui oleh setiap manusia sejak anak-anak. Jadikan Rasulullah yang akhlaknya luhur, sebagai idola. Bukan Spiderman, Superman, Ben10, bahkan tokoh boyband yang makin aneh-aneh gayanya.

    mute
    Muhammad Teladanku via rumahraisha.com
    230464_2d6a3a2f-821b-4fe2-8570-1fc8b44b9865
    via Tokopedia.com

    Yang paling penting, keluarga bu Kiki juga pakai buku ini untuk mengisahkan sirah nabawiyah, lho.

    Eiiit, ngiklan dulu: Buku Muhammad Teladanku bisa dibeli via saya, lho! Silakan pesan via email atau kolom komentar, ya.

    Kesimpulannya, gaya parenting yang wajib kita tiru hanyalah a la Rasulullah. Gaya pengasuhan yang anti stress dan minim marah-marah. 

    Love your family, keep them stay away from hellfire and follow Sunnah, Moms!

     

    Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

    Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

    Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

    Tinggalkan Pesan

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    %d bloggers like this: