Kafe Baca Ceria: Sedikit Cerita tentang Ingin dan Angan

Banyak orang berkata, sukses adalah “jika sudah memiliki A, B, C”, dan seterusnya. Tak sedikit pula yang menambahkannya dengan “jika sudah membahagiakan kedua orangtua”. Lain waktu, saya menemukan orang-orang yang mengatakan bahwa sukses ialah “jika sudah menghasilkan A, B, C”.
Selama hidup, definisi sukses telah saya revisi berkali-kali seperti skripsi. Sukses, dari kacamata saya, ialah jika kita bermanfaat dan membuat mereka yang kita mudahkan urusannya itu tersenyum. Mohammad Nuh dalam buku Menyemai Kreator Peradaban menyebutkan, “Tidakkah sejati-jatinya kebahagiaan adalah membahagiakan orang lain?”. Memang, sesuatu yang kita nikmati sendiri menimbulkan kesenangan, bukan kebahagiaan.
Saat SD, terbesit di benak saya untuk mendirikan sebuah perpustakaan dari koleksi buku-buku di rumah, yang notabene koleksi saya dan Ibu saya. Seiring waktu berjalan, saya sadar, jika kita hanya bermimpi tanpa beraksi, itu tak akan terwujud. Jadilah saya pinjamkan gratis buku-buku yang saya punyai kepada beberapa teman, kala itu. Buku-buku itu saya daftar secara tulis tangan. Saat itu, saya belum pandai berpromosi, jadilah perpustakaan itu lenyap seketika.
Ketika duduk di bangku kuliah, saya dan seorang teman membuat sebuah program penyewaan buku berbasis sosial media. Kami melaksanakannya dengan bantuan teman-teman seangkatan. Mereka tak segan menyumbangkan judul dan foto buku yang dipunyai untuk dipajang di situs amatir kami. Dana yang kami dapatkan kami gunakan untuk membantu Studi Ekskusi (SE) angkatan kami. Memang tidak seberapa hasilnya jika dibandingkan dengan total biaya SE yang selangit itu. Tetapi, apakah yang lebih membahagiakan dari renjana yang dapat menghasilkan kebermanfaatan? Sampai saat ini, ketika membuka situs amatir itu saya masih tersenyum, ulosewabuku.tumblr.com dan twitter @ulosewabuku.
Itulah beberapa batu loncatan saya, hingga pada akhirnya Tuhan menganugerahi keberanian untuk mendirikan perpustakaan sendiri. Pada akhir tahun 2013 lalu, saya tidak sengaja membaca status tante saya di Facebook tentang rendahnya minat baca di Indonesia. Saya yang sedang bermain laptop di kamar kerja, lalu mengomentari status tante dan akhirnya terbesit ide untuk berkolaborasi mendirikan taman baca.
Gayung bersambut. Saya pun segera membuat draf ide tentang taman baca tersebut, plus membuat status di dua sosial media andalan saya: Facebook dan Twitter. Seketika berduyun-duyun orang mengomentari namun juga ada yang hanya memberikan jempolnya di status itu. Mereka adalah orang-orang dari berbagai usia, asal sekolah dan kampus, serta latar belakang pendidikan.
Saya lalu mengumpulkan mereka dan mengirim e-mail blast tentang ide ini. Selanjutnya kami mendiskusikan konsep, logo, lokasi, dan nama taman baca itu. Tak lupa menyertakan tante saya sebagai Co-Founder. Aksi iseng-iseng berhadiah itu pun berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Namun, sempat hiatus selama beberapa minggu karena saya dilanda kebingungan akibat berpuluh-puluh aspirasi dari banyak kepala.
Setelah itu, kami berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatunya sampai akhirnya terpikirkan untuk membuat opening ceremony kecil pada 1 Maret 2014. Akhirnya taman baca yang diberi nama Kafe Baca Ceria (Kabaca) itu lahir ke dunia. Tepatnya, berlokasi di teras rumah tante saya.
‘Bayi kecil’ kami saat ini telah berusia hampir 8 bulan. Buku-buku yang ada di sana juga makin beragam genrenya. Pengunjungnya mulai bervariasi usianya, tidak hanya anak-anak yang bersekolah di depan Kabaca saja. Beberapa individu dan organisasi tertarik untuk mengadakan kerjasama di sana. Kami pun jadi termotivasi untuk mengadakan acara-acara yang menyenangkan.
Memang sejauh ini konsepnya beda sekali dengan yang saya angankan dan inginkan. Kafe itu sebenarnya saya rencanakan bagi remaja, yang mempekerjakan pegawai dan para remaja bisa nongkrong 24 jam, dengan WiFi. Namun, sampai hari ini Kabaca malah lekatimagenya dengan anak-anak.
Saya yakin, semua ini adalah rencana Tuhan. Saya seperti diarahkan untuk mengejar impian yang sempat dormansi selama beberapa tahun. Saya yang seorang pemimpi, dipaksa belajar menjadi pemimpin. Dua hal yang sangat bertolakbelakang, namun saling mendukung, karena menjadi pemimpin sejatinya juga harus visioner.

Pada akhirnya, saya masih sah untuk menyebut itu kesuksesan terbesar selama hidup. Saya telah berusaha memenangkan diri sendiri dan memenangkan hati orang banyak, membantu mewujudkan impian dan memudahkan urusan mereka. Walaupun dalam pelaksanaannya banyak cacat di sana-sini, saya tidak peduli. Semua adalah proses trial and error. Banyakerror pun tidak berdosa, asalkan dapat dijadikan pembelajaran untuk ke depannya.
Sukses bukan berarti tidak pernah gagal. Sukses tak melulu mencapai keterpenuhan materi dan hal-hal fisik lainnya. Sukses menurut saya adalah kebahagiaan yang dibagi bersama orang lain, yang membuat diri kita terpacu untuk terus melahirkan kesuksesan berikutnya.
“Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)


Melalui tulisan ini izinkan saya berterima kasih kepada Sang Pencipta, kedua orangtua saya, leluhur, teman-teman, guru dan dosen, serta keluarga besar, yang tak pernah lelah membantu, mendoakan, serta menjadi perantara ketercapaian ingin dan angan saya yang bermacam-macam. Terima kasih. *PS: Sesungguhnya saya membuat tulisan ini bukan hanya untuk bercerita kepada Anda apa makna kesuksesan menurut saya, tetapi juga untuk esai LPDP tentang sukses terbesar dalam hidup.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: