Kafe Baca Ceria

Kafe Baca Ceria digagas oleh Adiar Ersti Mardisiwi, seorang mahasiswi Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Perempuan kelahiran Darmstadt, Jerman 29 November 1992 ini sedang mengerjakan tugas akhir di kampusnya dan terlibat aktif dalam sebuah sosial media untuk pinjam-meminjam buku yaitu Lendabook (www.lendabook.co).

Eci, panggilan akrabnya, adalah seorang dengan passion yang besar di bidang membaca dan menulis. Berangkat dari kecintaannya terhadap buku dan impiannya membuat perpustakaan sedari kecil, setelah beranjak dewasa ia mulai berani mewujudkan impiannya. Satu persatu kegiatan tentang buku ia ikuti, mulai dari menjadi anggota sosial media dan komunitas tentang buku, seperti Goodreads (www.goodreads.com) dan Lendabook (www.lendabook.co), hingga membuat sebuah persewaan buku online untuk menggalang dana Studi Ekskursi bersama partnernya, Rahma Sakinah, yang mereka beri nama www.ulosewabuku.tumblr.com. Setelah Studi Ekskursi berakhir dan dana diperoleh, sangat disayangkan proyek persewaan buku tersebut harus berakhir. Berbagai kegiatan tersebut merupakan batu loncatannya sebelum mendirikan Kafe Baca Ceria.

Eci melihat sudah cukup banyak tempat membaca yang digabungkan dengan kafe di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. Namun, tempat tersebut rata-rata memang dikhususkan bagi kaum remaja dan dewasa. Ia pun memiliki keprihatinan untuk kota Surabaya. Mungkin akan menyenangkan bila ada suatu tempat yang menyenangkan untuk membaca sambil makan, dan dapat digunakan pula oleh anak-anak, mengingat anak-anaklah beberapa tahun dari sekarang, yang menjadi generasi penerus bangsa ini kelak. 

Setelah mengikuti mata kuliah Teknopreneurship di semester 6, pemikirannya terhadap dunia enterpreneur pelan-pelan mulai terbuka. Walaupun tidak ada darah berdagang dari keluarganya, Eci memberanikan diri untuk berbisnis dan merealisasikan mimpinya yang sudah lama terpendam. Akhirnya, di semester terakhirnya itu, ia mulai teringat mimpinya di masa kecil yaitu membuat sebuah perpustakaan. Gayung bersambut, ternyata bibinya pun memiliki mimpi yang sama, yaitu membuat perpustakaan. Setelah berpikir dan mencari massa lewat status di Facebook dan Twitter, ia pun berani merealisasikan ide tersebut. Tak kurang dari 45 orang berminat berkolaborasi merealisasikan ide yang sama. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, akhirnya diputuskan memilih nama Kafe Baca Ceria yang disingkat Kabaca. Selain pelafalannya mudah bagi anak-anak, nama Kafe Baca Ceria terdengar jelas peruntukannya. Awalnya, mereka sempat bingung tentang lokasi yang strategis untuk Kafe Baca Ceria. Namun rumah bibinya di kawasan Rungkut Surabaya tersebut ternyata bisa digunakan. Akhirnya ia dan tim menyulap teras rumah bibinya di Wisma Penjaringan Sari E-7 menjadi sebuah kafe baca yang merakyat dan tentunya menyenangkan. Terlebih, anak-anak di lingkungan sekitar sepertinya memang membutuhkan tempat untuk membaca. Selama bulan Februari 2014, Eci dan tim berdiskusi via internet dan mengadakan pertemuan sebanyak 4 kali untuk menyiapkan berbagai keperluan Kabaca. Mulai dari pengadaan barang, dekorasi lokasi, serta menarik massa. Pada 1 Maret 2014, Kabaca resmi dibuka. Acara saat opening ialah makan dan minum gratis, dongeng, serta nonton film bersama. Para pengunjung dipersilakan membaca gratis di tempat dan jika membawa pulang dikenakan biaya sewa. Antusiasme pengunjung sangat besar, terutama dari anak-anak. 

Ke depannya inovasi di ranah sosial dan enterpreneurship ini diharapkan dapat membuka cabang di tempat lain, berkolaborasi dengan berbagai pihak, serta dapat menjadi sebuah Kafe Baca yang benar-benar nyaman untuk digunakan. Rencananya, setelah stabil berdiri nanti, saat weekend, Kabaca akan dibuka hingga pukul 22.00 WIB agar dapat menampung pelajar dan mahasiswa yang memang sering nongkrong.

Kabaca juga tidak menyediakan layanan WiFi dikarenakan agar pengunjung dapat berkonsentrasi dengan aktivitas membaca dan makan, bukan malah asyik bermain dengan gadgetnya.

Usia Kabaca memang belum mencapai 1 bulan sejak berdirinya pada 1 Maret 2014 lalu. Namun, respon masyarakat sekitar sangat tinggi. Setiap harinya, rata-rata 20 anak Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak beserta orangtuanya datang ke Kabaca. Pendapatan diperoleh dari sewa buku dan kafe. Tidak ada iuran keanggotaan per bulan atau per tahun. Sampai saat ini (26 Maret 2014) member yang terdata sudah lebih dari 100 orang. Harga buku yang disewakan berkisar antara Rp500,- s.d Rp3000,- disesuaikan dengan kantong pelajar dan mahasiswa. Buku-buku yang ada di Kabaca merupakan donasi dari para volunteer serta orang-orang saat opening dan pra-opening. Beragam jenis buku mulai dari buku anak hingga buku remaja dan dewasa, majalah, tabloid, serta ensiklopedia ada di Kabaca. Tentunya ada koleksi yang boleh disewa dan ada yang tidak boleh disewa. Makanan yang dijual di sana juga berjenis makanan dan minuman ringan.

Dunia sosial media juga dimanfaatkan oleh Kabaca untuk menjaring massa. Undangan opening serta ‘kampanye’ untuk membaca, rajin disebarkan di sosial media. Melalui Kabaca, Eci ingin menyebarkan virus cinta membaca kepada anak-anak sejak usia dini. Eci juga ingin menyampaikan bahwa membaca itu menyenangkan. Membaca itu membuka wawasan dan juga menjadikan kita keren! Di sana ternyata anak-anak juga sering bermain, bahkan sudah terdapat pihak yang ingin mengajar di Kabaca setiap dua minggu sekali, yaitu tim dari Forum for Indonesia chapter Surabaya. Orang tua murid pun tak ragu untuk menitipkan anaknya sepulang sekolah atau sepulang mengaji di Kabaca. Orang tua murid pun sering berinteraksi dengan para volunteer Kabaca. Para volunteer juga secara bergilir menjaga shift yang dibagi menjadi tiga, yaitu pukul 09.00-12.00, 12.00-15.00, 15.00-18.00, dan ber’tugas’ mendongengi anak-anak yang minta dibacakan cerita serta mengelola transaksi di Kabaca. 

Uang yang didapatkan dari hasil persewaan buku dan penjualan makanan, minuman, dan barang-barang dikelola untuk kebutuhan Kabaca. Sementara para tim yang disebut volunteer tidak digaji hingga keuangan Kabaca benar-benar stabil di beberapa bulan berikutnya.

Awalnya Eci sempat ragu karena terdapat kompetitor yang nyata di sekitar Kabaca yaitu sebuah warung kopi tempat nongkrong remaja dan dewasa, serta sebuah persewaan Komik dan Novel yang sudah lama berdiri. Namun, ternyata bahkan saat Kabaca belum resmi dibuka, ia dapat menjaring banyak pengunjung sehingga dapat mengungguli jumlah pengunjung dua kompetitornya setiap hari.

Buku juga dapat menjadi ide bisnis. Berbisnislah dengan apa saja yang kamu punya. Rajin membaca, perluas networking, punyailah rasa ingin tahu yang besar, serta jangan takut untuk bermimpi dan mewujudkannya. “Tidak ada kata ‘Tidak Punya Modal’ untuk berbisnis!,” ujarnya. Eci meyakini, semua manusia sudah diberi modal yang cukup oleh Yang Di Atas, yaitu kemampuan dan keyakinan.

***

Minat baca bangsa Indonesia masih terdampar di tingkat yang mengenaskan. Dalam catatan UNESCO tahun 2012, indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, hanya satu di antara 1000 orang yang memiliki minat membaca (Hazliansyah, 2013). Dan berdasarkan survei PISA 2012, Indonesia menempati posisi kelima terbawah dalam kompetensi membaca rentang umur 15-16 tahun, dengan skor 396 dan skor rata-rata 65 negara yang disurvei adalah 496 (OECD, 2013). Ditambah lagi, menurut Taufiq Ismail (budayawan dan sastrawan), jika dibandingkan dengan Rusia, konsumsi baca Indonesia masih kalah jauh. Paling sedikit, siswa di Rusia membaca 14 buku setahun. Sedangkan di Indonesia, hanya membaca satu buku setahun (Pikiran Rakyat, 2013)

Maka dari itu, permasalahan utama yang akan diselesaikan dalam ide ini adalah meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, di kota besar. Sesuai dengan berbagai paparan di atas, minat baca masyarakat Indonesia cenderung memprihatinkan bersama dengan menggeliatnya penggunaan gadget (Nakita, 2012). Kasus kota besar dipilih karena semakin sempitnya lahan dengan tingkat aktivitas yang tinggi mempengaruhi keleluasaan membaca. MEMBACA DAN MAKAN: MENYENANGKAN! “Eating and reading are two pleasures that combine admirably”, sebuah kutipan oleh CS Lewis yang menginspirasi konsep Kafe Baca Ceria atau Kabaca. Kabaca merupakan sebuah konsep integrasi ruang publik yang mengakomodasi fasilitas kafe dan taman baca. Diharapkan, membaca dan makan dapat menjadi kombinasi aktivitas yang menyenangkan seperti kutipan di atas.

Dalam fokusnya dalam menyerukan semangat “Cinta Membaca”, Kabaca bertujuan untuk menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan menyebarkan virus gemar membaca kepada masyarakat. Konsep menyenangkan menjadi koridor utama Kabaca dalam menjalankan aktivitasnya. Hal tersebut dikarenakan adanya asumsi bahwa kegiatan membaca adalah kegiatan yang membosankan. Namun, dengan adanya Kabaca, diharapkan asumsi tersebut perlahan-lahan tereduksi.

Terobosan yang dibawa Kabaca adalah konsep merakyat dan menyenangkan ketika membaca. Hal ini terkandung dalam kombinasi aktivitas makan dan membaca. Meskipun mengusung kata “kafe” yang cenderung eksklusif dan tidak merakyat, konsep kafe dalam Kabaca adalah tempat untuk membaca dengan konsep lesehan dan leluasa mengatur posisi membaca senyaman mungkin. Kabaca juga menyediakan fasilitas peminjaman buku yang bisa dibaca di rumah dan harus dikembalikan tepat waktu.

Selain itu, dalam perencanaan ke depannya, Kabaca akan memiliki suatu sistem Teknologi Informasi yang menunjang operasional Kabaca. Teknologi tersebut memanfaatkan kemudahan penggunaan telepon genggam dengan sistem operasi terkini (Android, Windows Phone) untuk melakukan transaksi peminjaman maupun pembelian makanan di Kabaca. Tetapi, hal ini dikhususkan untuk tim pengurus, agar tidak mengkhianati konsep tempat membaca yang tradisional (tanpa internet). Secara umum, ilustrasi dan strategi penerapan Teknologi Informasi di Kabaca dapat ditinjau di Gambar 1.

Lalu, untuk mempertahankan keberlangsungan program ini, Kabaca tidak bergerak sendiri. Inovasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait sangat diperlukan untuk mengakomodasi kelangsungan program ini. Maka dibentuk suatu tim konsultan yang dibentuk untuk senantiasa memberikan masukan dan mengevaluasi keadaan Kabaca dari waktu ke waktu. Setelah itu, Kabaca akan mengadakan kolaborasi dengan gerakan pendidikan lainnya, yang saat ini muncul dari berbagai pihak dan kalangan, seperti: Penyala Surabaya, Kelas Inspirasi, Indonesia Mengajar, dan lain sebagainya. Hal tersebut dimaksudkan untuk bergerak bersama dengan visi memajukan pendidikan Indonesia. Untuk sisi kafe sendiri, Kabaca akan membuka peluang seluas-luasnya untuk para produsen makanan kreatif untuk mendukung kemajuan kewirausahaan oleh masyarakat sekitar. Tidak menutup kemungkinan untuk pihak lain yang ingin bekerjasama menitipkan barang untuk dijual di Kabaca, seperti Wallsticker, alat tulis, dan lain-lain.

Kabaca mengusung beragam konsep inovatif seperti:

· Kafe baca yang merakyat dan menyenangkan

· Dekorasi kafe baca yang membangkitkan minat baca dengan memasang kalimat-kalimat kutipan tentang membaca dan makan

· Kolaborasi berbagai pihak: wirausaha, gerakan pendidikan, sekolah, masyarakat sekitar

· Teknologi informasi sebagai penunjang operasional dan pendukung strategi kebijakan Kabaca

· Program-program unik yang dikemas secara menarik dan akan terus diperbaharui setiap waktu:

o Membership dengan voucher senilai Rp 5000,00 ; Rp 10000,00, dan Rp 15000,00

o Kabaca Minggu Ceria: Sunday morning movie, menonton film-film sarat akan makna dan mendidik. Sunday afternoon story-telling, kegiatan dongeng setiap hari Minggu setelah pemutaran film. Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan agar semakin ditunggu oleh para anggota

o Dinding Kabaca: Info update kegiatan Kabaca dan menu baru di Kabaca

o Lomba review buku: Mendokumentasikan anggota yang mau bercerita tentang buku yang telah dibaca, mendapatkan voucher menyewa buku gratis

o Book drop, bagi yang menyumbangkan buku akan mendapatkan berhadiah pembatas buku Kabaca

o Ayo Sinau, Rek! bersama Forum For Indonesia

o Book Drop di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya

Kelas Kebangsaan 

Kabaca dapat diimplementasikan oleh orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan sukarela untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Orang-orang tersebut adalah inti dari aktor Kabaca. Selain itu, masyarakat umum dan segmentasi anak-anak usia sekolah (TK, SD) merupakan kategori yang didapuk sebagai target. Orangtua siswa juga dapat memanfaatkan Kabaca sembari menunggu anak pulang sekolah. Ditambah lagi, ide ini akan semakin baik dengan para kolaborator di luar para pelaksana operasional Kabaca, baik sekolah dasar, wirausaha, dan komunitas gerakan pendidikan.

Ingin tahu lebih banyak tentang Kabaca? Follow instagram.com/kafe_baca_ceria, @kafe_baca_ceria, dan facebook.com/KafeBacaCeria 🙂

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: