Kehamilan Anak Kedua yang Mendebarkan Jiwa

Pagi ini aku menikmati memulai hari dengan sebotol air putih, sebungkus snack multigrain, dan sebatang coklat. Rasanya tak ada lagi yang bisa kuungkapkan selain syukur tak terkira pada Allah Yang Maha Kuasa.

Keinginanku dan suami begitu cepat dikabulkan olehnya. Kami diberi amanah satu lagi walau masih merasa belum siap dan bisa mengurus yang pertama dengan maksimal.

Anak kedua kami tiba-tiba berusia 5 minggu di perutku. Bukan main herannya aku. Mengapa Allah sebegitunya percaya padaku, pada kami? Padahal kami masih sering lalai menjaga amanahnya. Pertanyaan-pertanyaan terus muncul dan beranak pinak di otak. Kami seakan men-deny banyak pertanda sebelum ini. Mencoba mengerti apa mau sang Ilahi. Tapi semakin kami bertanya, semakin tak berguna. Ternyata yang harus kami lakukan sederhana saja: menerima.

Kini aku selalu mengingat tanggal 6 November 2017, pukul 5 sore, setelah beberapa kali mengalami mood swing layaknya orang menstruasi, mual dan pusing di pesawat ketika kami terbang beberapa hari lalu, firasat menyebut-nyebut “adek” atau “anak kedua” dan lain sebagainya… Hari itu semua jelas. Dua garis sejajar itu kembali muncul setelah dua tahun lalu.

Rasanya masih sama walaupun sudah pernah merasakannya. Terkejut, terharu, deg-degan, tidak percaya, semangat, dan lain sebagainya. Satu modalnya hanyalah: percaya. Percaya bahwa rizki keluarga kami sudah ditentukan oleh-Nya. Percaya bahwa si kecil yang masih sebesar biji beras ini sudah ditakdirkan kehadirannya di waktu yang tepat menurut-Nya.

Akhir kata, rabbii hablii minashshaalihiin. Semoga kamu menjadi anak yang shalih ya, Nak. Ibu, Ayah, Kakak, menunggu perjumpaan denganmu di waktu yang tepat. Ibu mencintaimu walau belum tahu siapa kamu, jenis kelaminmu, seperti apa kelak rupamu. Ibu sayang padamu… apapun yang terjadi dengan kita saat ini. Semoga kita diberi kekuatan dalam menghadapi perang ya, Nak.

Kehamilan kedua yang mendebarkan jiwa ini, semoga bisa membuat kami makin mempercayai kebesaran-Nya. Semoga di tengah situasi apapun, kami tetap bertakwa pada-Nya dan berpegang teguh pada agama-Nya.

Anakku, Ali atau Alana. Entah siapa namamu kelak, Ibu berharap kehamilan ini lancar, berkah, dan mudah. Semoga gizimu di sana tercukupi, pertumbuhanmu selalu baik, dan Allah senantiasa melindungi.

Cium sayang, Ibu yang menanti perjumpaan denganmu dalam kesabaran.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: