Kemampuanmu Seluas Samudra, Anakku

Cemilan Rabu Materi 7

Kemampuan Anak Kita Seluas Samudra

🎀Dengan meyakini anak kita adalah bintang, maka kita pun yakin kemampuan anak itu seluas samudra. Sayangnya, orangtua, guru sekolah,atau sistem pendidikan lah yang mereduksi atau menyempitkan kemampuan anak hingga samudra itu berubah menjadi selokan-selokan kecil.
🎀Menurut psikologi perkembangan, kemampuan anak yang sangat luas terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu psikoafektif, psikomotorik, dan psikokognitif.
Prof. Dr. Nasution, M.A menjelaskan bahwa kemampuan belajar anak atau peserta didik dikatakan sempurna jika memenuhi tiga aspek kemampuan berikut ini:
1. Aspek kemampuan afektif

Aspek kemampuan yang berkaitan dengan nilai dan sikap. Penilaian pada aspek ini dapat terlihat antara lain pada kedisiplinan atau sikap hormat terhadap guru. Aspek afektif ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) anak.
2. Aspek kemampuan psikomotorik

Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental. Aspek ini menunjukan kemampuan atau keterampilan (skill) anak setelah menerima sebuah pengetahuan.

3. Aspek kemampuan kognitif

Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan dengan intelegensia (IQ) atau kemampuan berpikir anak. Sejak dahulu, aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal. Ini dapat dilihat dari metode penilaian pada sekolah-sekolah di negeri kita dewasa ini yang sangat mengedepankan kesempurnaan aspek kognitif.
Mestinya, orang tua memandang kemampuan anak dengan landasan paradigma bahwa kemampuan anak kita seluas samudra. Artinya, anak memiliki tiga aspek kemampuan, yaitu afektif, psikomotorik, dan kognitif.

💛Jika anak memiliki kekuatan pada salah satu aspek  kemampuan tersebut, sudah cukup untuk dikatakan sebagai anak yang MAMPU, PANDAI, PINTAR, atau CERDAS.
Salam Ibu Profesional 
/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/
🔸Sumber Bacaan:

Munif Chatib, Orangtuanya Manusia: Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak
***

Saya ga pernah memandang sebelah kemampuan anak saya. Bagi saya, ketiga aspek di atas tidak harus seimbang. Pasti ada salah satu yang timpang pada diri anak. Tidak perlu kita kecewa jika anak tidak terlihat mencolok, apalagi membandingkannya dengan teman-temannya atau anak lainnya. Bandingkan diri anak kita dengan dirinya sendiri setiap harinya. Apakah lebih baik dari kemarin atau tidak.

Cemilan rabu ini sangat menampar saya yang dulu pernah mengotak-kotakkan seseorang berdasarkan kemampuannya. 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: