Kepada Seseorang

Kepada seseorang nun jauh di sana, izinkan aku menulis surat ini kepadamu. Kubiarkan yang lain tahu, betapa bersyukurnya diriku menemukanmu.

Aku bersyukur karena Tuhan telah memberikan kemampuan untuk menemukan dirimu dari sekian banyak orang di kerumunan. Aku bersyukur karena Tuhan yang Maha Baik telah membukakan mataku dan menyadarkanku, bahwa kamulah yang mungkin menjadi akhir dari segala pencarianku selama ini.

Namun anehnya, kamu datang ketika aku tidak sedang mencari. Aku yang tidak tahu siapa dirimu sebelumnya, tiba-tiba diharuskan bertemu denganmu dengan cara yang tidak diduga. Ah, betapa tak dinyana semua rencanaNya.

Kenyataannya, sejak hari itu, aku tak pernah percaya dengan kata ‘kebetulan’ lagi. Tuhan telah menggariskan semuanya dengan rapi dan terperinci.

Sedikitpun tak pernah terbesit di benakku tentang dirimu sebelum datangnya hari itu. Siapa kamu, apa kesukaanmu, buku apa yang sedang kamu baca, aku benar-benar tidak tahu. Namun sejak itu dan hingga kini, bahkan mungkin seterusnya, aku tidak mungkin lagi tidak mau tahu tentang itu semua.

Tuhan memang memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Kini aku juga sangat mempercayai kalimat itu.

Pertemuan denganmu telah mengubah sejarah hidupku. Mengubah berbagai cara pandangku terhadap hidup, membuatku mengenali diriku sendiri, menjadikanku berusaha menjadi lebih baik lagi, dan sejujurnya meningkatkan rasa percaya diri.

Pada akhirnya, tidak mengapa jika kamu tidak membaca tulisanku ini. Biarlah Tuhan dan yang lain saja yang membacanya. Dan suatu hari nanti aku akan memberitahukanmu secara langsung, perihal betapa bersyukurnya aku menemukanmu.

Adalah benar jika kata-kata adalah media perantara rasa. Maka, izinkan aku menuliskannya di sini karena kata-kata juga dapat bertindak sebagai penawar rindu yang menggebu.

Jika pada suatu hari nanti Tuhan mengizinkan kita bertemu lagi di sebuah episode yang baru, kuharap akan tercipta hari-hari penuh kesyukuran yang kita lalui bersama.

Semoga kau di sana baik-baik saja.

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, kawan.

Sambil menyesap segelas coklat hangat di malam yang pekat.

Surabaya, 28 Desember 2014.

Tertanda,

Aku, yang bersyukur karena dipertemukan denganmu.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: