Lepas

Akan tiba suatu masa di mana seorang anak harus ‘dilepas’. Dilepas dari ketergantungannya pada orangtuanya. Sejak masih di kandungan, anak selalu ‘ikut’ orangtua. Lalu kapan waktu yang tepat untuk ‘melepas’nya? Menurut saya, waktunya berbeda-beda. Mungkin, saat anak itu sudah baligh, saat sudah berpenghasilan, saat sudah dianggap mandiri, atau yang paling jelas saat sudah menikah, dan mungkin saja di saat selain yang empat tadi.

Seorang anak memang bukanlah milik orangtua. Anak hanyalah titipan Allah. Anak adalah milikNya. Sebagaimana diri kita sendiri, yang ternyata tidak benar-benar memiliki diri kita sendiri. Kita tidak pernah benar-benar punya apa-apa.

Anak memang bukanlah milik orangtua. Tetapi jika anak telah ‘dilepas’, anak tidak juga akan pernah benar-benar bisa lepas dari mereka. Anak tetap tergantung pada doa-doa orangtua mereka.

Jiwa antara anak dan orangtua tetap terpaut. Dalam doa-doalah mereka dipertemukan, sejauh apapun mereka terpisahkan.

Seharusnya, seorang anak memang harus ‘dilepas’ dan dijauhkan dari kedua orangtuanya. Agar anak sadar, betapa berharganya kedua orangtua mereka. Agar orangtua juga sadar, betapa berharganya anak mereka.

Jeda akan memberi makna. Jarak akan memberi ruang gerak. Lepaskanlah anakmu dengan ikhlas, wahai orangtua. Lepaslah dari orangtua, wahai anak. Walaupun kau sebenarnya tahu, kan, anak dan orangtua tidak akan pernah benar-benar lepas? 🙂

Kairo, Mesir, 14 September 2015.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: