Mari Bahas Fitrah Seksualitas Sampai Tuntas – Tantangan IIP Day 2

Akhirnya, alhamdulillah, setelah begadang semalaman, tugas ini jadi juga. Tibalah giliran kelompok saya presentasi mengenai tantangan IIP Bunda Sayang kali ini!

Deg-degan seperti saat sekolah dan kuliah dulu mau maju ke depan kelasnya juga sama, lho. Saya walaupun hanya menjawab pertanyaan dari balik layar, tapi takut juga kalau kelas tidak berjalan dengan hidup dan lancar.

Alhamdulillah kelompok 2 solid dan guyub. Kerja timnya sangat bagus, materi sudah dikumpulkan start sejak hari saat tugas diberikan. Mbak Aprilia sebagai koordinatornya, dan saya sebagai desainernya. Yang lain mencari materi. Pada akhirnya saya pun mencari materi, merangkum, dan memvisualisasikan.

Sebenarnya kelompok kami ingin membuat animasi, tapi tidak jadi. Qadarullaah program buat bikin animasinya error. Saya juga sudah bingung karena waktu presentasi tinggal 12 jam-an lagi. Jadilah saya begadang semalam membuatnya di website desain sejuta umat, canva.com. Tapi tak apalah, dengan bantuan canva.com, kami jadi membuat infografis-infografis seputar fitrah seksualitas. Penasaran dengan hasilnya? Yuk pantengin hasilnya. Feel free to download the images!

Nih slogan kelompok kami yang membuat semangat:

Kelompok 2……wusssshh….wusssshhh….wusssshhh…..dahsyaatt

Kelompok 2 IIP - cover - FITRAH SEKSUALITAS12

45


Berikut kami sertakan tips untuk orangtua dalam membersamai anak membangkitkan fitrah seksualitasnya. Coba diaplikasikan yaaa bu ibu:1234

 

Coba kita lihat, di dalam framework operasional pendidikan berbasis fitrah dan akhlaq versi 7.0, FITRAH SEKSUALITAS dan cinta memiliki fasenya sendiri. Silakan dibaca yaa:FBE FrameworkTERIMA KASIH - Kelompok 2

 

Akhir kata, sekian dulu presentasi dari kelompok kami. Alhamdulillah diskusi berlangsung lancar dan banyak peserta yang tidak menyangka kalau hasil presentasi hari kedua seperti ini. Bismillah semoga menginspirasi ya, bu ibu! Bagi yang ingin tanya tutorial/cara membuat presentasi, bisa japri saya.

Selanjutnya, saya masih belum paham teknis mengenalkan aurat pada anak, khususnya yang usia dini, bagaimana ya.

Artikel

Berikut saya sertakan dua artikel inti dari materi hari ini, tulisan Ust. Harry Santosa dan Elly Risman:

 

Fitrah Seksualitas

Apa itu fitrah seksualitas? Seberapa pentingkah untuk kita bangkitkan?

Tulisan Ust Harry Santosa

 

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

 

Sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna. Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

 

Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, boarding school dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing, perasaan kehilangan attachment, depresi, dan kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan dsbnya.

 

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas walau sosok ayah ibu senantiasa harus hadir, namun dalam proses pendidikan berbasis fitrah, perihal fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

 

Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui.

Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun. Menyusui, bukan memberi asi. Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.

 

Usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. Perbanyak aktivitas bersama.

 

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga dengan tegas berkata, “saya perempuan” atau “saya lelaki”

Bila masih tidak jelas identitas di usia ini karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai. Hati hati memasukkan anak kita ke PAUD yang gurunya tidak sepasang.

 

Ketika usia 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.

 

Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, bermain dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya. Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb.

 

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.

Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya. Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb.

 

Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

 

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 – 14 (pre aqil baligh)?

Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.

Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

 

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

 

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki dewasa atau suami yang kasar, egois dsbnya.

 

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.

 

Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?

Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan. Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs menjadi sosok ayah pengganti. Bisa kakek, atau paman.

Sama dengan rasulullah.

Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu. Ada nenek, bibi dan ibu susunya.

 

Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh.

Artinya anak kita sudah “bukan” anak kita lagi. Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita. Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak2, karna kita hanya punya waktu 15thn saja.

 

Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

Agar para propaganda homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

 

Peterpan Syndrome vs Cinderella Complex

Saat ini, banyak sekali pasangan muda yang belum lama menikah akhirnya bercerai.
Fenomena seperti itu kian meningkat. Padahal waktu mereka berpacaran, sepertinya tidak ada masalah. Namun setelah memasuki dunia pernikahan banyak hal yang mereka temui, bahkan mungkin hal-hal sepele, yang menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga. Ternyata pada saat ”penjajakan”, masing-masing dari mereka tidak sempat mengenali pasangannya dari sudut pandang pengasuhan. Mereka tidak menyadari bahwa di dalam diri pasangan atau diri mereka sendiri, terdapat jiwa-jiwa peter pan dan cinderella.
Apa itu Sindrom Peter Pan?
Peter Pan adalah seorang tokoh dalam cerita anak-anak yang ditulis JM Barrie (1860-1937), seorang sastrawan dari Skotlandia. Peter Pan digambarkan sebagai karakter bocah lelaki nakal yang bisa terbang dan secara magis menolak menjadi dewasa.
Watak Peter Pan yang serba kekanak-kanakan ini oleh Dan Kiley (1983) dijadikan sebuah “penyakit” psikologis, yang disebut sindrom Peter Pan. Sindrom Peter Pan ditujukan untuk orang dewasa yang secara sosial tidak menunjukkan kematangan. Sindrom ini lazim diderita kaum lelaki yang secara psikologis, seksual, dan sosial menunjukkan perilaku yang keluar dari pengasuhan.

Sindrom tersebut memakai nama Peter Pan, karena memang Peter Pan ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Karena itu sangat sesuai untuk menggambarkan laki-laki dewasa yang masih bersifat kekanak-kanakkan.

Apa ciri-ciri orang yang mengalami sindrom Peter Pan?
● tidak sudi / cenderung tidak bertanggung jawab
● suka melawan
● sulit berkomitmen
● manja
● tidak suka bekerja keras
● pemarah (mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi), suka mengamuk
● cinta diri sendiri secara berlebihan (narsis)
● mengalami ketergantungan pada orang lain / dependency (bahkan hingga hal-hal yang
kecil)
● senang memanipulasi (manipulativeness), jago ‘bicara’ untuk membuktikan bahwa dia
yang benar
● memiliki keyakinan yang melampaui hukum-hukum dan norma masyarakat.
● enggan untuk hidup sendiri dan selalu merasa sendiri (??)
● tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko
● mudah sakit hati
● tidak bisa menerima kritikan
● kurang percaya diri
● menolak berhubungan dengan lawan jenis
● pemberontak

Salah satu penyebab munculnya sindrom ini adalah akibat pola asuh yang tidak sengaja salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu
membelanya. Orang tua terlalu melindungi anaknya, selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak. Akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak. Hal ini bisa difahami, karena kepribadian seorang anak, 80% dipengaruhi oleh lingkungannya (lingkungan terdekat seorang anak adalah kedua orang tuanya), dan hanya 20% dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik).

Seorang laki-laki yang mengalami sindrom Peter Pan, sangat membutuhkan seorang istri yang bersifat seperti ibunya. Layaknya seorang ibu yang akan menyayangi, melindungi dan melayani anaknya. Jika ia tidak mendapatkan sosok istri yang seperti itu, ia akan sangat mudah untuk membanding-bandingkan istrinya, dan merasa istrinya tidak bisa mengurusinya sebagai suami, dan ia akan sering kali ‘pulang’ dan bermanja-manja kepada ibunya.

Apa itu Cinderella Compleks?
Seperti yang telah kita ketahui, Cinderella mengambarkan tokoh dalam film kartun anak-anak, yang semasa kecilnya hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Namun menjelang remaja, kehidupannya berubah karena, ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah dengan wanita lain. Setelah ayahnya menikah, kehidupan Cinderella menjadi sangat tidak bahagia.

Karena ibu dan 2 saudara tirinya itu sangat membenci Cinderella. Kehidupan cinderella menjadi sangat pahit, menyebabkan ia merindukan sosok lelaki seperti ayahnya yang akan melindungi dan menyayangi dirinya.

Istilah sindrom Cinderella Complex menggambarkan sebuah ketakutan tersembunyi pada perempuan untuk mandiri. Karena yang ada dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk selalu diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”.

Dalam keseharian, “penyakit psikologis” ini biasa disebut dengan Syndrom Umur 20, Syndrom Umur 21, Syndrom Umur 22, Syndrom Umur 23, dan seterusnya sepanjang si perempuan itu addicted dengan khayalan akan bertemu dengan pangeran impiannya sebagaimana yang terjadi di dalam dongeng Cinderella.

Seorang wanita yang mengalami Cinderalla compleks, sangat membutuhkan seorang suami yang bersifat seperti ayahnya, yang dewasa, mengayomi, dan selalu melindungi.
Anda-kah orang tua yang menumbuhkan jiwa peter pan & cinderella pada jiwa anak?

Seperti apa pola pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa peter pan & Cinderella?
● Ortu yang selalu melindungi
● Ortu yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
● Ortu yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)
Mengapa bisa demikian?
● Ortu tidak siap menjadi ortu
● Ortu yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ’dendam positif’
ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
● Ayah – Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah
kompak, sehingga anak menjadi bingung.
● Ortu yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.
Jika sudah terlanjur, harus bagaimana?
● Laki-laki yang mengalami sindrom peter pan tidak akan mengalami kesulitan dalam
pernikahannya, jika mendapatkan istri dengan karakter keibuan.
● Begitu pula sebaliknya, bagi sang ’cinderella’ yang mendapatkan suami dengan karakter
ke’ayah’an yang kuat.
● Untuk istri-istri yang jadi ibu bagi peter pan harus memahami mengapa suaminya
bersifat kekanak-kanakan, harus mau berkorban dan ‘tega’ untuk membentuk kembali
jiwa kemandiriannya.
● Untuk suami-suami yang jadi ayah bagi Cinderella juga harus memahami mengapa ia
bersikap seperti itu dan ajak bicara secara baik-baik.

Bagaimana menghilangkan ‘penyakit psikologis’ tersebut?
● Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
● Lingkungan harus mendukung
● Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
● Minta pertolongan kepada Allah

Pesan
Anak-anak kita….kelak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang akan memasuki dunia
pernikahan dan memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Pengasuhan kita kepada mereka sangat berpengaruh bagi perkembangan jiwa-jiwa mereka. Apakah anak lelaki kita akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan jiwa yang kekanak-kanakan? Apakah anak perempuan kita akan tumbuh menjadi orang yang merindukan ‘pangeran’? ​Semuanya tergantung pada pengasuhan kita. Jika kita merindukan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi orang yang dewasa sesungguhnya, maka marilah kita buat pengasuhan dalam rumah-rumah kita menjadi lebih baik…
-Elly Risman-

[Dearparents[at]yahoogroups.com]

 

Solusi

Berikut solusi dari kelompok kami terkait membangkitkan fitrah seksualitas anak:

SADARI: SAYANGI – DAMPINGI – TENANGKAN DIRI

 

  • SAYANGI: Ibu dan ayah sadar penuh serta hadir utuh akan perannya dalam pengasuhan anak
  • DAMPINGI: Aplikasikan pendidikan seks sesuai jenjang usia anak
  • TENANGKAN DIRI: Tetap tenang atas segala gejolak, pertanyaan, tingkah laku anak tapi tetap waspada. Jawab pertanyaan anak dengan benar.

 

Media Edukasi

Alhamdulillah diskusi termasuk seru di hari Sabtu sore ini.

 

Tanya-Jawab

1. mb annisa

Bagaimana solusinya jika setelah menikah baru menyadari bahwa kita telah cinderela syndrome ?

Dan cara Didik yg seperti apa utk menghindarkan anak anak ku kelak dari Peterpan/cinderela syndrome?

Jawab:

● Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
● Lingkungan harus mendukung
● Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
● Minta pertolongan kepada Allah

❓Dan cara Didik yg seperti apa utk menghindarkan anak anak ku kelak dari Peterpan/cinderela syndrome?

✔pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa peter pan &
Cinderella?
● Ortu yang selalu melindungi
● Ortu yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
● Ortu yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)

Mengapa bisa demikian?
● Ortu tidak siap menjadi ortu
● Ortu yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ’dendam positif’
ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
● Ayah – Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah
kompak, sehingga anak menjadi bingung.
● Ortu yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.

 

2. mb Miftah hida

Assalamualaikum

Mbak mau tanya

Untuk sindrome Cinderella ini, apakah seorang perempuan yang perhitungan dengan resiko ( pertimbangan, setiap mau melangkah dipikir dulu resikonya, cenderung takut ) ini jg terjangkit Cinderella syndrome

Jawab:

Bunda Miftah yg baik, ciri-ciri yang disebutkan di atas cenderung je peter pan syndrome

Solusinya sesuai yang tertulis di atas😍

 

3. mb annisa

Itu dalam video sentuhan boleh dan tidak boleh..
Ini ada anak tetangga yg tiap sore kalo anak saya Safeea (2,5y) hbs mandi selalu dicium pipi bahkan pernah kena bibir..
Nah gmn sikap saya seharusnya?
Apa hal seperti itu harus di cegah atau dimaklumi Krn masih anak anak ? Seringnya nyium bibir anak saya. Mereka sebaya sekitar 2,5tahunan

Jawab:

Klo ini antar ortu dan anak gpp y, klo cium bibir bkn anggota keluarga sepertinya juga, nanti kebablasan dengan teman, apalagi dg jenis kelamin yang lain.bibir/mulut termasuk bagian tubuh yang tidak boleh dipegang orang lain (Ada di slide 9). Sehingga anak perlu dibekali keberanian untuk menolak Dan diberi alasan menolak.seperti misalnya mulut merupakan tempat menyalurkan kuman, kalau Mau sayang cium pipi (jika sama2 perempuan)

4. pipit

bagaimana dengan pola pikir anak laki2 yang seperti perempuan misalnya lebih mengedepankan perasaan…halus…lembut hatinya…apakah masih wajar?apakah anak laki2 ini memang termasuk anak yg sensitif saja?bagaimana batasannya?

Jawab:

Prinsip 2 : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%. – Ust. Harry Santosa

 

Semoga tetap semangat membangkitkan fitrah anak-anak kita, Moms!