Melatih Cerdas Finansial Sejak Dini, Mendidiknya Anti Korupsi

Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal yang Berharga di Masa Depannya.
Di tengah arus kompleksitas perubahan zaman dan gemuruh publikasi korupsi negeri ini, orang tua dituntut lebih cerdas mendidik anaknya. Tentunya kita tidak sudi melihat anak tumbuh sebagai koruptor yang menyengsarakan. 

Dari situ, selain membesarkan anak yang sehat secara fisik dan emosional, orang tua juga wajib mendidik anak secara benar. 
Karena, mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana orang tua mampu memberi teladan dan mengenalkan anak segala akhlak terpuji, terutama pengajaran kecerdasan finansial.

Maraknya lalu lintas rayuan iklan di segala media bisa mendikte anak menjadi pribadi yang konsumtif dan hedonis. 

Namun, orang tua tak perlu khawatir, ketika anak sejak dini sudah dilatih kecerdasan finansialnya. Maka hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan cermat dalam mengelola uang. 
Di sinilah, peran orang tua sangat vital, mengingat “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, sehingga teladan orang tua menjadi pelajaran pertama bagi anak.

Hal ini terbukti efektif menciptakan perubahan perilaku anak-anak agar tak terlena dengan uang. Karena, mengajarkan anak tentang uang secara benar dapat membentuknya menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Mulai dari cara mengenalkan uang, menabung, berhemat, dan mengajarkan bertanggung jawab dengan uang saku, dengan menggunakan panduan akan konsep spesifik (specific), terukur (measurable), dapat dicapai (atainable), realistis (realistic) dan jangka waktu (time bound).



Perpaduan konsep itu akan meninggikan mentalitas dan spirit anak dalam mengelola uang demi hasilnya bagi masa depan.
Selain itu, Kak Seto dan Kak Lutfi memberi gambaran metode:

10/10/10/70 (pay yours first).”
Arti angka tersebut menggambarkan besaran persentase pembagian dari total uang saku yang diperoleh anak. 

Semisal, 10 % untuk beramal (pay your soul first), 

10 % menabung (pay your safe first), 

10 % investasi (pay your self first), 

dan 70 % untuk pengeluaran kebutuhan mendasar.

Lewat pelaksanaan konsep ini akan mendorong penguatan akhlak anak menyadari bahwa uang bukanlah alat tukar untuk membeli barang semata. Lebih dari itu, uang bisa dimanfaatkan sebagai relasi penguatan penentram jiwa dan nilai spiritual ketika disedekahkan secara ikhlas.

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Nasional/

📚Sumber bacaan: 

Financial Parenting” penerbit Nourabooks, Jakarta. Penulis: Kak Seto Mulyadi dan Kak Lutfi Trizki.
***
Keluarga kami mulai mengaplikasikan konsep ini begitu mendapatkan teori ini. Alhamdulillah seberapa kecilnya penghasilan yang kita dapat, jika berusaha diplot sesuai prinsip ini, InsyaaAllah akan cukup. 

Pertama, mengalokasikan untuk pos sedekah. Kedua, untuk pos menabung. Ketiga, untuk pos investasi. Keempat, untuk pos kebutuhan dasar (konsumsi, rumahtangga, ayah, ibu, anak, transportasi). 

Pembagiannya juga cukup mudah diingat, yaitu 10/10/10/70. Pencatatan struk juga kami lakukan dengan aplikasi mobile seperti Spendee dan Money Lover. In syaa Allah akan dibahas di postingan berikutnya.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: