Memangnya Kenapa Kalau Aku Cuma Ibu Rumah Tangga?

Inilah senandung kalbuku.

Maukah kau mendengarnya?

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan karena terpaksa.

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan karena malas melanjutkan studi yang sudah pernah kutempuh di strata dua, di negeri nan jauh di sana.

Aku menjadi ibu rumah tangga, karena sadar penuh akan amanah yang diberikan-Nya.

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan karena dia, bukan karena siapa-siapa.

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan untuk anakku, bukan untuk suamiku juga.

Aku menjadi ibu rumah tangga, karena aku tahu, kunci surga salah satunya ada di sana.

Hanya karena-Nya dan untuk-Nya.

Aku tahu pasti akan konsekuensinya.

Aku tahu pasti akan perkataan orang.

Aku tahu pasti akan apa yang aku pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Aku tidak melanjutkan pendidikanku bukan karena aku tak mampu, tapi saat ini memang aku memilih untuk tak mau.

Universitas kehidupanlah tempatku sekarang menuntut ilmu.

Aku tak mau mengorbankan amanah-Nya untuk keegoisanku mengejar impian duniawi semata.

Aku tak mau menggadaikan kesenangan pribadi, mengejar karier setinggi mungkin, mengejar harta benda yang menggoda, mengorbankan tugas utamaku sebagai istri dan ibu.

Satu hal yang perlu kau tahu, aku ingin menjadi ibu karena sadar, bukan karena tiba-tiba, bukan karena tak sengaja, bukan karena coba-coba.

Jadi, memangnya kenapa kalau aku cuma ibu rumah tangga?

 

When you loose some you will get some. In my case, I get much more than what I loose. I don’t mind giving up everything for my child. After all, I can say proudly, “Hey. . . I’m a mother!” – M. H.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: