Membaca dan Membacakan Cerita untuk Anak

Nama Anak:
Kindi, 7 bulan
(Usia saat di foto: 3 bulan, Agustus 2016)

Nama Fasilitator:
Ibu dan Ayah

Lokasi:
Griya Keluarga Surga

Deskripsi Kegiatan:
Membaca buku apapun (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), Al-Qur’an, sirah nabawiyah, baik yang berbentuk boardbook maupun pillowbook dan buku yang bisa bersuara (soundbook). Bahkan, buku bacaan ayah ibunya juga ikut dibacakan. Kegiatan membaca ini dilakukan bersama ayah dan ibu. Saat bercerita, suara dikeraskan, kecepatan bercerita lambat, sambil menunjuk gambar, memainkan suara tokoh (jika ada), serta berekspresi.

Tujuan kegiatan:
– Menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan
– Menceritakan buku-buku yang berpesan moral baik dan tidak melanggar aturan agama
– Melatih motorik halus dengan memegang buku, membalik halaman buku
– Mengajarkan cinta buku sejak dini
– Mengajarkan bahasa dan memperkaya kosakata
– Mengasah visual taste lewat melihat buku bergambar
– Membangun attachment dengan ayah dan ibu sebagai pencerita
– Mengajarkan keteladanan dari kisah kepahlawanan

Aspek Fitrah:
– Fitrah keimanan: Menjalankan perintah Allah untuk membaca di surat Al Alaq ayat 1, “Iqro’ bismirabbikalladzi khalaq”. Mengenalkan pada anak bahwa bercerita, bertutur dan bernarasi adalah pekerjaan para nabi.
– Fitrah perkembangan: Bahasa ibu dan belajar dengan ayah ibu
– Fitrah estetika dan bahasa: Memperkaya kosakata dan pengucapan
– Fitrah individualitas dan sosialitas: Kisah kepahlawanan

Refleksi:
Di usianya yang masih sangat kecil, 3 bulan, Kindi sangat berbinar-binar, antusias, memperhatikan, kadang bercerita atau berceloteh sendiri, menggoyang-goyangkan tangan dan kaki.
Kindi sudah dibacakan buku apa saja sejak di dalam kandungan, serta ikut ibunya kuliah saat usia 0-5 bulan kandungan.
Kami melakukannya karena sebagai orangtua ingin menanamkan kecintaan terhadap ilmu dan sumber ilmu sejak dini.
Semoga Kindi dapat tumbuh dan menjalankan peran dan menemukan misi spesifiknya di muka bumi. Sesuai nama indah yang kami berikan kepadanya yang berkaca pada 2 orang sholeh: Al Kindi dan Nabi Adam as. Semoga ia bisa menjadi manusia pembelajar dan pendakwah di jalan Allah. Aamiin.

Surabaya, 14 Januari 2017

© Keluarga Surga


Berikut saya sisipkan artikel tentang Read Aloud.

Mengapa Perlu Berkisah?

Bahasa kerennya, read aloud.
Read Aloud merupakan salah satu metode membacakan buku untuk anak.
Metode ini diperkenalkan oleh Jim Trelese dalam bukunya The Read Aloud Handbook. Read Aloud adalah metode mengajarkan membaca yang paling efektif untuk anak-anak karena dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Juga menciptakan pengetahuan yang menjadi dasar bagi si anak, membangun koleksi kata/kosakata (vocabulary), dan memberikan cara membaca yang baik (reading role model).

Saat usia emas (golden age), yaitu 0-5 tahun, anak akan dapat menyerap dengan sangat cepat. Dengan potensi yang sedemikian hebat itu, maka mengenalkan anak untuk membaca di usia dini tentunya tidak menjadi masalah, asalkan caranya tidak membuat anak stress bahkan terbebani harus bisa membaca. Yang dilakukan bukan membuat anak bisa membaca, tapi membuat anak suka membaca.

Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak semester ke-3 kehamilan. Karena itu semakin dini buku diperkenalkan, maka hasilnya akan semakin optimal dalam upaya menumbuhkan kecintaan anak pada buku dengan bonusnya anak akan bisa membaca dengan sendirinya.

Read Aloud juga dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bisa di rumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, menunggu pesawat atau kereta api, atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutinitas adalah kunci utama keberhasilannya.
Manfaat read aloud antara lain dapat membangun keterampilan literasi melalui pengenalan bunyi, intonasi, kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Read Aloud juga membantu anak menambah kosa kata, terutama kosa kata bahasa buku yang dipergunakan untuk membaca. Kedekatan orang tua dengan anak juga bisa dicapai karena anak terbiasa dengan suara orang tua dan terdapat ‘skin to skin contact’ ketika membacakan cerita, serta terdapat juga kedekatan dengan buku. Orang tua yang membacakan cerita kepada anak juga langsung menjadi contoh membaca bagi anaknya (reading role model).

sumber: chanelmuslim.com
#onedayoneshiroh
#MuhammadTeladanku
#Mute
#SpiritNabawiyahCommunity
#SNC
#AyoBacaBuku

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: