Membuat Dongeng atau Berkisah Ya?

Tugas IIP Bunda Sayang Materi ke-10 kali ini ialah tentang membuat dongeng kreatif untuk anak. Saya mencoba membuat kisi-kisi sederhana, materi apa yang mau saya dongengkan ke anak.

Qadarullaah di tengah-tengah pengerjaan tugas, saya mengalami keguguran kehamilan kedua. Akhirnya tugas ini saya biarkan saja. Sampai akhirnya satu hari menjelang dikumpulkan, saya baru merasa sadar. “Sepertinya aku tidak sreg dengan judul: membuat dongeng”.

Setahu saya, mendongeng memang tidak ada dalam Islam. Yang ada adalah metode berkisah. Awal mendengar kata “berkisah” adalah saat mengikuti workshop parenting nabawiyah tahun 2016 lalu. Saya teringat bahwa metode itu memang sangat baik untuk perkembangan anak.

Berikut saya kutip dari sebuah website:

Salah satu rahasia mengapa sepertiga Al-Qur’an berisi kisah-kisah, karena metode berkisah pengaruhnya sangat dalam bagi jiwa, nasihat dan inspirasi yang mudah dikenang, pelajaran yang mudah diingat, teguran yang tidak menyakiti, dan bisa menjadi motivasi yang mudah dihadirkan kapan saja.

Nah, di bagian mana kisah-kisah itu muncul di Al-Qur’an? Mari kita lihat lagi penjelasan website tersebut:

Kisah umat terdahulu banyak terdapat dalam Al-Qur’an pada periode Mekkah. Asy-Syaikh Manna’ bin Khalil Al-Qaththan dalam bukunya Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an mengatakan bahwa salah satu ciri surat-surat Makkiyyah ialah setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah para nabi dan umat terdahulu, kecuali surat Al-Baqarah. Hal ini mengandung arti bahwa fase Makkiyyah selama 13 tahun sangat banyak mengandung kisah.

Kurikulum Makkiyyah adalah fase pembentukan pondasi umat, yakni penanaman akidah dan akhlak. Dan kisah adalah metode yang efektif untuk menanamkan akidah dan akhlak. Di samping itu, sebagian besar persoalan di Mekkah, salah satu panduannya dengan kisah yang mengandung hikmah. Dengan demikian, pondasi awal generasi sahabat kebanyakan dibangun menggunakan metode kisah.

Kisah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: isi dan metode. Kisah sebagai isi, artinya bahwa kisah yang disampaikan adalah sejarah yang memang benar-benar terjadi yang kemudian diambil hikmahnya untuk kehidupan saat ini. Sedangkan kisah sebagai metode, artinya ilmu yang hendak diajarkan bisa disampaikan melalui metode kisah.


Fungsi Kisah dalam Al Quran dan Hadits

Ada beberapa fungsi kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits, antara lain:

  • Sebagai hikmah dan pelajaran (‘ibrah)
  • Meneguhkan hati
  • Penghibur jiwa-jiwa yang sedih
  • Menguatkan keimanan
  • Menjelaskan suatu perkara
  • Menghidupkan sejarah
  • Membenarkan risalah para nabi terdahulu
  • Menguatkan risalah Nabi Muhammad
  • Mempelajari gaya bahasa dan nilai sastra

Sebuah kisah ataupun sejarah bisa berfungsi jika terpenuhi dua syarat: (1) Mau berpikir dan menggunakan akalnya (ulul albab), (2) Beriman kepada Allah dan hari akhir.

Berikut juga saya sisipkan komentar dari Rihan Musadik, S.Pd:

Telah kita maklumi bersama bahwa kisah adalah salah satu cara yang efektif dalam menyampaikan sebuah pelajaran, sehingga mudah diterima oleh pendengar. Bukan hanya anak-anak yang menyukai kisah, tetapi kisah juga disukai oleh orang dewasa dan orangtua, tanpa memandang usia. Oleh karena itulah, Allah menjadikan Al-Qur’an yang diturunkan untuk umat manusia sepertiga isinya berupa kisah-kisah sejarah.

Allah jalla jalaluh menjadikan sepertiga Al-Qur’an berisi kisah, tentu ada hikmah besar di dalamnya, bukan hanya materi kisah yang bisa dijadikan pelajaran, tetapi juga metode, gaya penuturan, serta berbagai aspek kisah dalam Al-Qur’an sarat dengan hikmah dan pelajaran yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia. 

Lalu bagaimana cara berkisah pada anak?

Pada saat memberikan pelajaran, hendaknya seorang guru menyelinginya dengan kisah-kisah sejarah yang relevan dengan materi yang sedang disampaikan. Kemudian menjelaskan pelajaran dari kisah tersebut kepada para murid.

Saat berkisah di hadapan murid, hendaknya guru membuat kisah tersebut menarik dan hidup, sehingga murid tidak merasa bosan, bahkan semakin masuk ke dalam alur kisah seolah-olah berada dalam latar kisah tersebut. Dengan demikian, kisah tersebut lebih berkesan pada diri anak murid.

Sebaiknya kisah yang disampaikan adalah kisah sejarah yang memang benar-benar terjadi, bukan kisah fiktif yang dibuat-buat berdasarkan imajinasi belaka ataupun cerita-cerita rakyat yang tidak masuk akal.

*Diambil dari “Modul Kuttab (Jilid I)” oleh Budi Ashari, Lc. yang diringkas dan dikomentari oleh Rihan Musadik, S.Pd. dalam “Ringkasan Modul Kuttab (Jilid I)”.


 

Saya juga mendapatkan insight dari tulisan Bu Elly Risman, pakar psikologi, bahwa cerita-cerita princess dan superhero masa kini sangat buruk dan merusak moral anak. Sebut saja Snow White yang mengajarkan wanita tidur bersama banyak pria. Kemudian Peter Pan yang mengajarkan perempuan untuk berpakaian tidak sopan. Karakter seperti apa yang mau kita bangun jika anak sejak kecil sudah kita biasakan dengan menonton kartun tak bermoral seperti itu?

Dari tulisan Kak Bimo, juru kisah, saya juga mendapatkan beberapa insight, yaitu seputar macam, langkah, jurus, retorika serta larangan dalam berkisah. Selengkapnya bisa diintip di kakbimo.wordpress.com.

Nah, saya sangat menghargai isi materi IIP ke-10 ini dan berusaha tetap menerapkannya. Mulai dari pemilihan tema, alur, tokoh, ekspresi, penyesuaian dengan usia anak, dan lain-lain.

Saya juga sempat membuat sebuah dongeng sederhana, tapi entah kenapa saya merasa nilai yang saya ajarkan kurang dalam. Akhirnya kegundahan saya terjawab dengan berkisah.

Materi Akademi Sirah Ust. Budi Ashari, Lc pun yang pertama sudah saya dengarkan. Beliau menerangkan betapa pentingnya belajar sejarah. Sejarah adalah motivator terbaik untuk kita. Kita bisa lihat, Rasulullah SAW, sang manusia terbaik, dididik Allah salah satunya melalui metode berkisah. Sudah terjamin hasilnya  Kita bisa menirunya untuk mendidik anak.

Izinkan saya mengutip salah satu resume kajian Sirah Nabawiyah Ust. Budi Ashari, Lc:

Kisah adalah salah satu konsep pendidikan Islam, konsep pendidikan keluarga kita yang sangat mahal. Alangkah ruginya kita ketika hari ini di kurikulum, terutama di usia anak anak, di usia awal mereka, tidak ada kurikulum sejarah Islam. Kurikulum KISAH harusnya ada untuk membangun konsep diri mereka, untuk membangun aqidah dan akhlak mereka. Kalaupun ada tentang kurikulum kisah ternyata kisah fiktif. Atau hanya merupakan cerita, dongeng negeri-negeri, wilayah-wilayah yang tidak jelas kebenarannya, tidak valid darimana sumbernya. Sangat disayangkan. Padahal kisah merupakan konsep yang sangat mahal yang dengan itulah dulu Rasul dan para sahabat mendidik generasinya.  

Marilah mulai sekarang kita ganti mindset kita untuk lebih senang berkisah kepada anak-anak kita. Yakinlah, kita sedang membangun pondasi yang kokoh untuk kepribadian si kecil agar tak mudah goyah di masa depannya nanti.

Sebelumnya, yuk baca review materi ke-10 dari Tim Fasilitator IIP:

Review Materi 10 kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional

IBUKU ASYIK

Selamat untuk teman-teman yang berhasil melampaui tantangan 10 hari di materi 10 kelas bunda sayang ini. Kalimat judul di atas, adalah rasa yang ada di hati anak-anak kita baik tersurat maupun tersirat di bulan ini.

Satu lagi bukti yang mengatakan bahwa kita tidak perlu harus punya bakat terlebih dahulu untuk bisa mendongeng, kita hanya perlu MAU melakukannya untuk anak-anak dengan penuh cinta.

MAU ini membuka pintu ILMU selanjutnya. Di hari pertama, kita semua pasti merasa kikuk, galau, bahkan hampir menyerah untuk menuliskan dongeng, kisah ataupun cerita keseharian kita. Hal ini normal karena kita tidak biasa menuliskannya. Setelah berhasil melewati kegalauan hari pertama, kedua, ketiga, akhirnya kitapun terbiasa. Biasa inilah yang membuat kita bisa.

Banyak sekali karya-karya indah yang bermunculan di game level #10 ini. Harta Karun kita mulai penuh.

Ada cerita-cerita seru yang dibikin oleh para ibu. Ada yang pintar membuat ilustrasi buku. Ada yang memiliki suara merdu. Apabila ketiganya berkolaborasi cantik pasti menghasilkan karya yang apik.

Ada yang mulai senang menulis, ada yang hobi design grafis, ada banyak platform web gratis. Apabila ketiganya berkolaborasi manis, cerita yang kita tulis di tantangan 10 hari ini, pasti akan menjadi karya yang sangat magis.

Dengan menulis dongeng, kisah, cerita, kita semua secara tidak langsung belajar tentang karakter. Ada yg protagonis, antagonis dan tritagonis. Kita jadi paham bahwa tokoh protagonis bukan selalu tokoh baik dalam cerita kita, demikian juga dengan tokoh antagonis, tidak juga selalu tokoh yang jahat. Mungkin masih melekat dongeng masa kecil kita tentang bawang merah dan bawang putih.Bawang putih itu protagonis dan bawang merah itu antagonis.

Kesalahkaprahan ini membuat literasi kita menjadi kaku, adanya hanya baik jahat, hitam putih, benar salah.

Tokoh protagonis adalah tokoh utama yang mendukung jalannya cerita, sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang berkonflik dengan tokoh protagonis. Sedangkan tokoh tritagonis adalah tokoh penengah, pendamai konflik antara protagonis dan antagonis.

Contoh dalam cerita “The Pirates of Carribean” yang menjadi tokoh utama, protagonis adalah “Jack Sparrow” seorang perompak, melawan tentara inggris sebagai tokoh antagonisnya.

Apakah di dalam kehidupan nyata perompak itu baik? Dan sebaliknya apakah tentara inggris itu jahat?

Itulah kekuatan dongeng, karena dongeng itu adalah imajinasi yang kita buat. Imajinasi itu tak berbatas, maka kuncinya ada di karakter pembuatnya dan pesan moral yang ingin disampaikan.

Saatnya kita memperbanyak dongeng baik, bukan justru memusuhi dongeng. Hanya karena kita tidak mampu memproduksi dongeng baik, dan terlibas arus kapitalisasi para produsen dongeng yang kiblatnya hanya uang dan kepentingan.

Saatnya ibu banyak bertutur baik ke anak-anak. Karena bertutur ini adalah budaya kita. Bisa lewat kisah yang sudah ada di kitab-kitab agama, kisah para pahlawan, kisah orang-orang sukses dan bahagia, cerita pengalaman hidup kita, maupun dongeng yang kita buat berdasarkan imajinasi kita.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang #1

Referensi:

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 2015

Institut Ibu Profesional, Dongeng para ibu di tantangan 10 hari, materi #10, Bunda Sayang, 2017

Andini Syarif, Tokoh dan Penokohan Dalam Karya Sastra, Jakarta, 2009

Selamat berkisah, Moms!

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published.