Memori Masa Kecil

Dua puluh tahun yang lalu, Mama melahirkan seorang bayi perempuan. Ya, itu aku. Namun, seperti dirimu, tentu saja aku tak pernah bisa mengingat-ingat seperti apa momen kelahiranku J  Kemudian Tuhan memberikanku anugerah ingatan sehingga aku tahu cukup banyak masa setelah kelahiranku. Didukung orangtuaku yang selalu mengabadikan momen masa kecilku dengan kamera dan handycam.
 
Aku dilahirkan saat kedua orangtuaku bersekolah di negeri Jerman. Beruntungnya, (atau malah tidak beruntungnya), aku diberi kesempatan hidup di sana selama 3,5 tahun. Aku merasa adalah momen paling berharga dalam hidup. Tiga setengah tahun lebih aku diistimewakan oleh dua malaikatku, Mama dan Papa. Aku dibawa keliling ke penjuru tempat kelahiranku, dari satu taman ke taman lainnya, dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Ya, sekelebat masih ada ingatan tentang itu.
 
Aku diajari mengenal hewan, tumbuhan, dan lainnya, dari buku-buku yang dibeli dari pasar loak di sana. Setiap akan berangkat tidur, aku didongengi cerita berbahasa Jerman yang tentunya dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia oleh Mama. Mungkin dari situlah cikal bakalku memiliki minat baca.
 
Oh ya, mainan-mainanku dan pakaian-pakaianku juga sebagian besar merupakan suplai dari pasar loak. Di antaranya Lego, balok bongkar pasang, dan lain-lain. Mungkin itulah yang membuatku mencintai dunia Arsitektur dan akhirnya menjadi mahasiswa jurusan Arsitektur, mengikuti jejak dua malaikatku tadi.
 
Papaku juga sering mengulang-ulang cerita tentang dongeng asli Indonesia, tentunya dengan modifikasi ala beliau. Contohnya, Bawang Putih dan Bawang Merah yang naik sepeda motor. Hahahaha. Aku tidak habis pikir, ada-ada saja Papaku ini.
 
Semua kenangan di Jerman tersebut merupakan masa terindah dalam hidup. Jika aku memutar ulang semua kenangan bergerak yang tersimpan di handycam, aku selalu berpikir bahwa itulah diriku yang asli, saat anak-anak, yang masih sangat bebas dan belum terkontaminasi apapun! 
 
Sepulangnya ke Indonesia, aku tinggal di rumah nenek dan kakekku. Di sana, aku tinggal selama satu bulan. Aku sangat dekat dengan kakekku. Sampai-sampai Papaku cemburu waktu itu. Aku menghabiskan waktu-waktu menyenangkan bersama Kakek. Kakek sempat mengajariku naik sepeda roda tiga. Oh ya, aku ingat, satu hal yang menjadi ciri khasku kata orang-orang sepulang dari Jerman, aku selalu bertanya, “Ibunya mana? Ibunya mana?” jika sedang berpisah dengan Mama.  
 
Kemudian setelah satu bulan, aku pindah ke rumah Nenekku yang lain. Rumah nenek terletak di depan masjid. Otomatis, azan terdengar sangat keras di telingaku. Aku yang tidak pernah mendengar azan di negeri orang, merasa itu adalah suara termenakutkan di dunia! Aku lalu berteriak sekencang-kencangnya! Aku peluk ibuku erat-erat. Saat ini, aku malu dan merasa berdosa jika mengingatnya.
 
Semua memori masa kecil masih sangat lekat tersimpan di otak dan hati. Tuhan sangat baik. Beliau telah memberikan dua malaikat yang setia menemaniku di waktu kecil. Mereka telah mendokumentasikan masa kecilku dengan sangat baik. Beliau berdua patut diacungi jempol. 
 
Saat ini aku tidak dapat kembali ke masa itu lagi walau bagaimanapun caranya. Memori masa kecil selalu dapat membangkitkan lengkungan senyum di bibir ini. Semoga aku juga bisa memberikan dan menjadi bagian dari memori masa kecil yang indah untuk anak-anakku kelak JAamiin.

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: