Mendewasa atau Menua?

Tua adalah keniscayaan. Seseorang, laki-laki maupun wanita, kaya maupun miskin, pasti akan menemui masa tua. Ia akan semakin menua seiring berjalannya waktu.

Walaupun sudah pakai krim anti-aging, walaupun sudah operasi plastik, walaupun mau diapain aja kulitnya, tetap saja yang namanya tua (dan akhirnya mati) sudah menjadi keniscayaan.

Siapa sih yang mau tua? Saya yakin juga ga ada. Pengennya awet muda terus. Kalau bisa sih punya baby face. Biar apa? Biar kalo naik angkot bayarnya lebih murah? Hihihi.

Saya juga ga memungkiri kalau saya mulai menua. Sebentar lagi, usia menunjukkan angka duapuluh lima. Di usia tersebut biasanya orang-orang mulai ngomongin yang agak serius, misalnya: anak berapa, rumah berapa, mobil berapa, istri berapa (nah lho). Di masa ini juga orang sering ditanya target dalam hidupnya. Udah bisnis apa, pencapaiannya gimana, mau apa, dan lain sebagainya.

Usia 25 bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai gerbang kedewasaan. Usia di mana banyak dari kita sudah menikah, punya anak, cari cicilan rumah, dan barangkali baru serius buat pergi haji dan umrah.

That’s life.

Bagi saya saat ini, usia 25 antara penting dan ga penting. Penting karena jatah umur saya udah berkurang. Ga penting karena toh tiap hari jatah umur saya emang udah berkurang -_-

Tapi memang ga bisa dipungkiri, karena kesalahan metode pendidikan kita sebelum aqil baligh dulu, saat ini ketika dewasa, kita mengalami banyak gejolak. Seringnya gejolak yang diikuti tidak bisa mengendalikan emosi positif apalagi yang negatif. Padahal di masa Rasulullah dulu, sudah banyak tokoh yang sukses di bawah usia 25 dan tanpa menjalani galau usia muda. 

Nah, pertanyaan saya, benarkah quarter life crisis itu ada? Saya lagi-lagi juga setengah yakin dan ga yakin. Pertama, ini terjadi pasti karena saya terlalu menyugesti dalam diri. “Ah gapapa, ini cuma quarter life crisis.” Lalu saya memaklumi. Serta banyak lagi ah-ah yang lainnya. 

Di satu sisi, saya pun tidak yakin, karena dalam agama Islam, kita harusnya khawatir setiap hari, apakah kita lebih baik dari hari kemarin atau tidak, apakah kita sudah memanfaatkan sisa usia dengan baik atau belum, dan lain-lain.

Jadi, sebenarnya apa sih yang salah dengan menua? Memangnya salah kita jadi tua? Memangnya salah kalau wajah kita tampak tua? Memangnya salah kalau kita sudah tua? Enggak. Ga perlu takut atau malu. Tua itu niscaya.

Yang perlu kita lakukan adalah, oke usia boleh 25, tapi semangat harus tetap muda! Kalau bisa layaknya semangatnya seperti anak usia belasan! Semangat mengeksplorasi hal-hal baru, semangat bertanya, semangat mengaji ilmu, semangat berbagi, semangat beribadah.

Tua itu niscaya. Dua puluh lima tak akan jadi angka yang istimewa. Dua puluh lima sebenarnya hanyalah biasa saja. Yang terpenting bukan menua atau tidak, tapi lebih bermanfaat atau tidak. 

Selamat tinggal usia remaja. Selamat tinggal usia di mana ego sedang membuncah. Selamat tinggal jiwa yang kekanak-kanakan. Selamat berpisah emosi dan gejolak jiwa masa muda…

Hmm.

Menua itu biasa. Yang membuatnya istimewa adalah amalan yang semakin bertambah ataukah tidak.

Menua itu biasa. Yang membuatnya istimewa adalah sudahkah siap makin dekat dengan ajal kita.

Menua itu biasa. Semua orang pasti mengalaminya. Yang membuatnya istimewa adalah dengan siapa kamu melewati masa-masa menuju tua.

Menua memang tak seseram itu. Yang perlu kita ingat adalah, kita makin mendewasa bukan menua. 

Yang perlu kita takuti adalah jika kita menua tapi manfaat tak tambah luas. Yang perlu kita takuti adalah jika kita menua tapi makin jauh dari Sang Pencipta, makin dekat dengan jurang maksiat.

Yang ku mau, aku menua dan mendewasa bersamamu di jalan-Nya, wahai suamiku… Semoga pernikahan kita langgeng dunia akhirat, sakinah, mawadah, warahmah, barakah. Aamiin…

Dari seorang ibu muda yang tak lama lagi akan berusia dua puluh lima. Selalulah takut jika diri kita tak punya kontribusi apa-apa untuk agama dan dunia.
Selamat mendewasa bersama!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: