Mengenal Lebih Dekat Siapa Al-Kindi

Semua ini bermula dari menata buku-buku dari perpustakaan saya yang sudah berhijrah (alias tutup). Tiba-tiba di tengah menyortir buku, saya menemukan buku tua (dan bau). Judulnya “Filsafat Islam”. Sekilas terlihat “berat” walaupun bukunya cukup tipis. 

Buku itu diterbitakan oleh CV Toha Putra Semarang, keluaran tahun 1988. Penulisnya adalah Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. Rupanya buku ini sudah seumuran dengan suami saya. 

Tetapi begitu saya membukanya untuk pertama kali, langsung saya dibukakan Allah di halaman subbab “Al-Kindi”. Padahal yang namanya mencium bau-bau filsafat itu ogah duluan karena biasanya otak saya ga nyampe hehehe. 

Nah, berhubung sudah pernah baca buku tentang ilmuwan muslim yang bernama Al-Kindi ini, saya jadi tertarik untuk mengenalnya lebih dekat.

Mengapa Tertarik dengan Nama Kindi

Dulu sebelum melahirkan, saya menamatkan buku tipis berjudul Al-Kindi agar saya tahu siapa dia. Buku itu milik suami saya.

Sejak jomblo dia sudah memiliki buku itu. Saking ngefansnya, nama “Kindi” ia pakai untuk beberapa nama hingga saat ini. Dulu nama Tumblrnya justkindi lalu ganti jadi kindibox (dan sekarang dihapus). 

Dulu nama penerbitan indie kami saat menerbitkan buku pertama kami (Twin Path) namanya Kindi Box. Sekarang diganti menjadi Kindi Press.

Kami sempat beberapa hari (hahaha parah) punya bisnis di instagram bernama @kindibox. Kami juga pernah beberapa bulan punya @tokobukukindi dan @kindibookstore. Tapi galau banget akhirnya ga diteruskan. 

Sekarang pun akhirnya menekuni satu lini saja yaitu Kindi Press. Platform penerbitan online yang kami rintis dan baru memiliki dua orang pegawai serabutan: saya dan suami saya merangkap CEO.

Hahaha sudah-sudah kok malah jadi bahas lini perusahaan Kindi. Yuk sekarang kita bahas siapa Al-Kindi sebenarnya. 

Siapa Sebenarnya Al Kindi 

Berdasarkan ajaran agama Islam, kita dianjurkan menamai anak dengan nama-nama orang saleh. Seperti nama nabi. Nah nama nabi yang kami siapkan adalah Adam. Sedangkan nama Kindi kami sematkan agar anak kami nantinya juga memiliki pemikiran-pemikiran dan karya besar seperti Al Kindi.

Filsuf Islam pertama via totallyhistory.com

Al-Kindi adalah filsuf kelahiran Arab. Ia berasal dari suku Kindah, sebuah suku besar di jazirah Arab Selatan. Namanya panjaaaang sekali, nama depannya Abu Yusuf. Sedangkan Al-Kindi adalah nama belakangnya. Ini nama lengkapnya hasil searching di Wikipedia: Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī. Sehingga ia lebih dikenal dengan nama Al-Kindi. Kelahiran tahun 9 Masehi.

Dia adalah seorang pemikir ulung. Menguasai banyak ilmu. Bidang yang paling ditekuninya ialah filsafat. Dia sudah menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles.

Al Kindi sudah menulis buku-buku tentang metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optik, juga tentang parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan gempa bumi.

“Di antaranya ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi al-Kindi, adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan astronomi.

Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau aritmetika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun.” – Wikipedia.org

Pemikiran-Pemikiran Al Kindi

“Al-Kindi membagi daya jiwa menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational). Sebagaimana Plato, ia membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan amarah diibaratkan al-Kindi seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.

Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu.

Ia mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia. Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.

Al-Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid’ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam), al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan religius-ortodoks itu.

*Sekilas sejarah pemikiran filsuf di atas dinukil dari Wikipedia Ensiklopedia Bebas (Bahasa ‘Inggris) dan bukunya Zainul Hamdi, “Tujuh Filsuf Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern”, LKiS, Jogja)” – Wikipedia.org

Dilansir juga dari Wikipedia, salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut.

Jadi, sekilas setelah baca buku Filsafat Islam ini, saya jadi makin paham sebenarnya apa yang beliau lakukan semasa hidup.
Aktivitas Membaca Spontan Hari Ini

Tadi saya mengambil buku tua tentang Filsafat Islam yang saya geletakkan di meja kerja. Tiba-tiba penasaran aja ingin baca.

Lalu saya membacakan bagian buku ini secara keras agar anak dan suami mendengarkan. Rupanya si kecil juga menikmati kok walau bukunya tak ada gambarnya sedikit pun. 

Membacakan buku secara keras merupakan teknik yang saya pakai agar saya sendiri cepat mengerti dan hafal akan sebuah ilmu. Selain itu supaya anak dan suami tahu buku apa yang saya baca. 

Sekian dulu ulasan tentang aktivitas membaca kami hari ini. Semoga ke depannya bisa membahas ilmuwan muslim lainnya.

Yuk kita kenali ilmuwan-ilmuwan muslim supaya makin mencintai Islam, Moms!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: